Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3275
Ahad, 25 Zulkaidah 1445
Pikir dan Dzikir
Saudaraku, di samping bersyukur dan bersabar, takut dan harap (khauf wa raja') sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu, dalam Islam kita juga dituntun untuk memadu antara aktivitas berpikir dan berdzikir.
Adapun landasan normatif teologisnya dapat dicermati dalam al-Qur'an, dimana Allah berfirman yang artinya Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (yaitu) orang-orang yang (berdzikir) mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan berpikir memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka." (QS. Ali Imran 190-191)
Berpikir itu merupakan bukti mensyukuri potensi akal budi pemberian Ilahi, sedangkan berdzikir itu bukti mensyukuri hati agar tetap nurani, bercahaya cerah mencerahkan. Berpikir juga merupakan ikhtiar memberdayakan potensi akliyah, sedangkan berdzikir merupakan ikhtiar memberdayakan potensi bathiniyah. Berpikir dilakukan agar kita dapat merengkuh kecerdasan intelektual, sedangkan berdzikir agar kita dapat memeluk kecerdasan spiritual. Berpikir itu tanda bahwa kita masih hidup, sedangkan berdzikir itu aktivitas yang menyadarkan bahwa suatu saat kelak kita akan mati kembali ke pangkuan Ilahi.
Berpikir itu dapat melahirkan teori sebagai pijakan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan berdzikir itu dapat memvaslitasi lahirnya ketentraman hati sebagai pijakan untuk bahagia. Berpikir agar dapat memahami diri dan segala ciptaan Allah ta'ala, sedangkan berdzikir agar hati merasakan kedekatan dengan Allah penciptaNya.
Hidup tanpa berpikir akan menjerumuskan diri bagaikan hewan atau bahkan binatang ternak yang kerjanya hanya makan minum, tidur dan beranak pinak (baca Qs. Al-Araf 179), sedangkan hidup tanpa berdzikir akan menjermuskan diri pada kehampaan hidup dan kehilangan arah.
Hidup di dunia ini tanpa berpikir sejatinya ianya sudah mati, hanya masih bisa berjalan dan makan kesana kemari, lalu apalah arti semua ini. Sedangkan hidup tanpa berdzikir sejatinya ianya sudah lupa diri, apalagi Ilahi, lalu hidupnya merana tanpa tambatan hati. Oleh karenanya selagi masih dikaruniai hidup maka kita berpikir agar benar-benar hidup dan berdzikirlah agar hidup ini penuh arti.
Memori ibadah haji tahun 1444
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3275