Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.018
Renungan hari penghujung akhir tahun, Senin, 29 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Ismail” yang Menjaga Amanah Keluarga
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Ismail” yang tidak menjadi beban keluarga, maka hari ini kita diajak merenungkan satu akhlak mulia yang menjadi fondasi kokohnya sebuah keluarga, yaitu menjadi pribadi yang menjaga amanah keluarga. Keteladanan Ismail bukan hanya terletak pada ketaatan pada Allah, kepatuhannya pada orang tua dan kesabarannya menjalani ujian, tetapi juga pada kemampuannya menjaga nilai-nilai yang diwariskan keluarganya. Ia tidak menjadi generasi yang memutus mata rantai kebaikan, silsilah tauhid, melainkan generasi yang melanjutkan dan meneguhkannya.
Al-Qur'an memberikan kesaksian yang sangat indah tentang Ismail: "Dan ia menyuruh keluarganya untuk melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan ia diridhai di sisi Tuhannya." (QS. Maryam: 55). Ayat ini menunjukkan bahwa ketika Ismail telah dewasa, ia tidak hanya memikirkan kesalehan dirinya sendiri. Ia juga memikirkan keluarganya. Ia merasa memiliki tanggung jawab untuk menjaga keluarganya tetap berada dalam jalan Allah. Inilah makna amanah keluarga yang sesungguhnya.
Keluarga bukan sekadar kumpulan orang yang tinggal di bawah satu atap, melainkan tempat nilai-nilai diwariskan, karakter dibentuk, dan masa depan peradaban ditentukan. Jika keluarga baik, maka masyarakat akan baik. Jika keluarga rusak, maka masyarakat pun perlahan akan rusak. Karena itu, menjaga keluarga sesungguhnya adalah menjaga masa depan eksistensinya.
Bahagia menjadi "Ismail" yang menjaga amanah keluarga berarti menyadari bahwa setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab. Orang tua memiliki amanah mendidik anak-anaknya. Anak memiliki amanah menghormati orang tuanya. Suami memiliki amanah memimpin dengan kasih sayang. Istri memiliki amanah menjaga rumah tangga dengan ketulusan. Semua amanah itu saling melengkapi dan saling menguatkan.
Di zaman sekarang, tantangan keluarga jauh lebih kompleks dibanding masa-masa sebelumnya. Jika dahulu ancaman datang dari luar rumah, kini ancaman sering masuk melalui genggaman tangan, seperti telepon pintar, media sosial, tontonan yang tidak terfilter, dan budaya digital yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai Islam dapat perlahan menggerus keharmonisan keluarga. Banyak keluarga yang tinggal serumah, tetapi hidup dalam dunia masing-masing. Dekat secara fisik, tetapi jauh secara emosional dan spiritual.
Karena itu, menjaga amanah keluarga hari ini bukan hanya menyediakan kebutuhan materi, tetapi juga menjaga komunikasi, kasih sayang, pendidikan, dan nilai-nilai iman di dalam rumah. Rumah yang besar belum tentu menjadi tempat yang nyaman jika kehilangan cinta dan keteladanan. Sebaliknya, rumah yang sederhana dapat menjadi surga kecil jika dipenuhi iman, doa, dan kepedulian.
Keteladanan Ismail mengajarkan bahwa menjaga keluarga dimulai dari menjaga diri sendiri. Sebab seseorang tidak akan mampu membawa keluarganya menuju kebaikan jika dirinya sendiri tidak berusaha berjalan di jalan yang benar. Cahaya tidak akan mampu menerangi orang lain jika dirinya sendiri padam.
Secara psikologis, keluarga yang sehat adalah tempat setiap anggotanya merasa aman, dihargai, dan dicintai. Banyak luka batin manusia dewasa berawal dari keluarga yang kehilangan fungsi kasih sayangnya. Sebaliknya, banyak pribadi besar lahir dari keluarga yang sederhana tetapi penuh perhatian dan doa. Karena itu, menjaga keluarga bukan pekerjaan sampingan, melainkan salah satu tugas terpenting dalam kehidupan.
Menjadi "Ismail" yang menjaga amanah keluarga juga berarti menjadi penjaga nilai. Ketika dunia berubah dengan cepat, ketika tren datang dan pergi, ketika berbagai pemikiran silih berganti mempengaruhi kehidupan manusia, maka keluarga harus tetap menjadi benteng yang menjaga akidah, akhlak, dan identitas keislaman.
Kita perlu bertanya kepada diri sendiri: nilai apa yang sedang kita wariskan kepada keluarga kita? Apakah anak-anak lebih banyak melihat teladan kebaikan atau justru menyaksikan pertengkaran, kemarahan, dan ketidakpedulian? Apakah rumah kita lebih sering dipenuhi lantunan Al-Qur'an atau justru dipenuhi suara yang menjauhkan dari Allah? Apakah keluarga kita sedang bergerak mendekat kepada Allah atau perlahan menjauh tanpa disadari?
Sesungguhnya amanah keluarga bukan hanya dipertanggungjawabkan di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah. Setiap perhatian, setiap pendidikan, setiap doa, bahkan setiap kelalaian terhadap keluarga akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, keluarga bukan hanya nikmat yang harus disyukuri, tetapi amanah yang harus dijaga.
Menjelang berakhirnya Dzulhijah dan tibanya Tahun Baru Hijriah 1 Muharam, muhasabah ini terasa semakin relevan. Hijrah yang dilakukan Nabi Muhammad saw dan para dahabat bukan sekadar perpindahan tempat, tetapi perpindahan menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermakna, dan lebih diridhai Allah. Semangat hijrah itu harus hadir pula dalam keluarga kita.
Menyambut 1 Muharam bukan hanya mengganti angka tahun dalam kalender Islam. Yang lebih penting adalah keberanian melakukan hijrah dalam diri dan keluarga. Hijrah dari kelalaian menuju kepedulian. Hijrah dari hubungan yang renggang menuju hubungan yang hangat. Hijrah dari rumah yang miskin nilai menuju rumah yang kaya dengan iman dan akhlak. Hijrah dari keluarga yang hanya sibuk dengan urusan dunia menuju keluarga yang bersama-sama menyiapkan bekal akhirat.
Keluarga yang dijaga dengan iman yang selalu ditperkukuh akan melahirkan generasi yang kuat. Generasi yang kuat akan membangun masyarakat yang baik. Dan masyarakat yang baik akan menjadi bagian dari peradaban yang diridhai Allah. Itulah warisan besar yang dicontohkan Ismail, dan itulah hijrah yang sesungguhnya: hijrah menuju keluarga yang lebih bertakwa dari tahun ke tahun.