Bahagia Menjadi "Ismail" yang Mewarisi Tauhid

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.014
Kamis, 25 Dzulhijah 1447

Bahagia Menjadi “Ismail” yang Mewarisi Tauhid
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang idealitas menjadi “Ismail” yang ikhlas menjalani ujian pengorbanan agung demi ketaatan, maka hari ini kita diajak menyelami sisi paling mendasar dari keteladanan Ismail yakni menjadi generasi yang mewarisi tauhid. 

Dalam Islam, sesungguhnya warisan terbesar yang diterima seorang anak sebagaimana halnya Ismail dari keluarganya adalah ketauhidan, bukan harta, bukan kekuasaan, dan bukan kemegahan dunia. Dari ayah seperti Ibrahim dan ibu seperti Hajar, Ismail tumbuh sebagai pribadi yang mengenal Allah, mencintai-Nya, dan menjadikan tauhid sebagai pusat kehidupannya.

Tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah itu satu. Tauhid adalah cara memandang dan menjalani kehidupan di dunia ini. Ajaran ketauhidan ini membuat manusia sadar bahwa seluruh hidup berasal dari Allah, berjalan dalam pengawasan Allah, dan akan kembali kepada Allah. Karena itu, tauhid bukan hanya konsep teologis, tetapi kekuatan ruhani yang membentuk cara manusia berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan. Di sinilah rasa bahagia itu lahir.

Bahagia menjadi “Ismail” yang mewarisi tauhid berarti memahami bahwa kjta selaku manusia tidak cukup hanya mewarisi nama besar keluarga, pendidikan tinggi, atau kemapanan duniawi. Karena semua ini dapat hilang dan berubah. Namun ketika mewarisi tauhid, maka akan memiliki fondasi hidup yang kokoh meskipun dunia berubah-ubah.

Secara filosofis, manusia modern sebenarnya sedang mengalami krisis makna. Banyak manusia hidup dengan fasilitas yang melimpah, tetapi jiwanya kosong. Banyak yang sukses secara duniawi, tetapi batinnya gelisah. Sebab manusia tidak cukup hidup hanya dengan materi. Ada kebutuhan ruhani yang hanya dapat dipenuhi melalui hubungan dengan Allah.

Tauhid memberikan arah bagi kehidupan manusia. Orang yang bertauhid memahami bahwa hidup bukan sekadar mengejar kesenangan dunia, tetapi perjalanan penghambaan kepada Allah. Karena itu, ia tidak mudah sombong ketika berhasil dan tidak mudah menyerah ketika gagal. Sebab pusat hidupnya bukan dunia, tetapi Allah.

Keteladanan Ismail menunjukkan bahwa tauhid harus diwariskan melalui pendidikan, keteladanan, dan suasana hidup yang penuh iman. Ibrahim tidak hanya mengajarkan tauhid dengan kata-kata, tetapi menghadirkannya dalam seluruh hidupnya. Ismail melihat langsung bagaimana ayahnya rela meninggalkan kenyamanan demi perintah Allah, rela diuji demi ketaatan, dan rela berkorban demi menjaga kemurnian iman. Dari sinilah lahir generasi yang kuat jiwanya. Sebab anak-anak sejatinya lebih mudah mewarisi nilai yang hidup dalam keseharian dibanding sekadar nasihat yang diucapkan sesekali.

Di zaman sekarang, banyak orang tua sibuk mewariskan dunia kepada anak-anaknya, tetapi lupa mewariskan iman. Anak dipersiapkan untuk sukses secara akademik, tetapi tidak cukup dipersiapkan untuk menghadapi krisis makna kehidupan. Padahal dunia tanpa tauhid sering melahirkan generasi yang cerdas pikirannya tetapi rapuh jiwanya.

Menjadi “Ismail” yang mewarisi tauhid juga berarti memiliki keberanian moral dalam kehidupan. Tauhid membuat manusia tidak mudah tunduk kepada hawa nafsu, tekanan sosial, atau godaan dunia. Sebab ia sadar bahwa hanya Allah yang layak menjadi pusat penghambaan.

Secara psikologis, tauhid menghadirkan ketenangan yang sangat mendalam. Orang yang bertauhid tidak merasa hidup sendirian. Ia yakin ada Allah yang mendengar doanya, melihat perjuangannya, dan mengetahui isi hatinya. Keyakinan ini membuat manusia lebih kuat menghadapi rasa takut, kehilangan, dan ketidakpastian hidup.

Banyak kegelisahan manusia lahir karena terlalu menggantungkan hati kepada makhluk. Ketika manusia bergantung sepenuhnya kepada harta, jabatan, atau penilaian manusia lain, maka hidupnya mudah goyah. Namun ketika hati bergantung kepada Allah, manusia memiliki sandaran yang tidak pernah runtuh.

Keteladanan Ismail juga mengajarkan bahwa tauhid bukan hanya diwariskan untuk diri sendiri, tetapi harus diteruskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, perjuangan para nabi bukan sekadar membangun masyarakat, tetapi membangun manusia-manusia yang mengenal Tuhannya.

Tauhid yang diwariskan Ibrahim kepada Ismail akhirnya menjadi mata rantai besar sejarah kenabian. Dari keturunan Ismail lahirlah Muhammad yang membawa risalah Islam bagi seluruh umat manusia. Ini menunjukkan bahwa satu generasi yang menjaga tauhid dapat melahirkan pengaruh besar bagi peradaban dunia.

Jadi, bahagia menjadi “Ismail” yang mewarisi tauhid adalah ketika hati mampu berkata: “Ya Allah, jadikan iman sebagai warisan terbesar dalam hidupku.” Sebab harta dapat habis, kekuasaan dapat hilang, dan popularitas dapat dilupakan. Namun tauhid yang hidup di dalam hati akan menjadi cahaya yang menuntun manusia di dunia hingga akhirat. Dan itulah warisan paling mulia yang dapat dimiliki seorang hamba.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama