Aura Ilahiyah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian ke-3284
Selasa 4  Zulhijah 1445

Aura Ilahiyah
Saudaraku, ketika kesucian niat dapat dipertahankan dan kaifiyat ibadah terutama yang mahdhah telah ditaati sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu, maka lazimnya seorang hamba akan larut dalam aura Ilahiyah. Seluruh kesadarannya dipenuhi oleh asyik mansyuk bersama Allah, Sang Kekasih. Saat seperti inilah maqam atau hal (jamaknya ahwal) yang didambakan oleh setiap orang. Maqam atau hal seperti ini relatif menjadi mudah ketika menunaikan ibadah haji.  Mengapa? Ya di antaranya didukung oleh tempat yang amat mustajabah, situasi dan kondisi yang amat sangat kondusif.

Bayangkan saja, di Haramain baik Makkah maupun Madinah, di samping waktunya istimewa yakni bulan haji, tapi juga menyediakan tempat-tempat spesial yang mustajabah untuk berdoa. Kita bisa menyebut Raudhah di Masjid Nabawi, dan seluruh areal Masjid Nabawi itu sendiri. Lalu di Makkah ada di seputar Masjidil Haram juga ada Hajar Aswad, Maqam Ibrahim, di bawah pancuran emas, hijir Ismail, bukit Safa dan Marwa, padang Arafah, Muzdalifah dan Mina.

Di samping itu suasana religius memang sangat terasa di Haramain. Coba bayangkan jutaan orang mukmin (at) dari berbagai penjuru negeri seantero bumi sengaja datang berziarah untuk Satu tujuan yang sama, yakni beribadah menggapai ridha Allah dan tidak untuk yang lain. Tentu menjadi jamak bila kemudian di Haramain larut dalam aura Ilahiyah. Adapun aura Ilahiyah itu di antaranya merefleksi pada kebahagiaan yang dirasakan oleh setiap jamaah, kasih sayang, kepeduliaan, kesucian, kebersahajaan, kebersamaan memuji, dan mengagungkan Ilahi rabby.

Memori ibadah haji tahun 1444

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama