Universalitas Aura Ilahiyah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian ke-3285
Kuningan Jawa Barat, Rabu, 5 Zulhijah 1445

Universalitas Aura Ilahiyah
Saudaraku, larut dalam aura Ilahiyah sebagaimana telah diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu tentu spesial tetapi tetap bersifat universal, bisa dialami oleh siapa saja dan di mana saja. Tentu tidak harus di Haramain saja, tidak mesti saat menunaikan ibadah haji atau umrah di tanah suci saja, tetapi boleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. 

Adapun yang terpenting bagaimana bisa mengkondisikan diri agar seluruh kesadarannya dipenuhi oleh asyik mansyuk bersama Allah, Sang Kekasih. Kita bisa memulai berikhtiar dan membiasakan diri untuk meraih maqam ini. Tentu, hal ini diperlukan riyadhah, tirakat (baca tariqat, suluk) atau laku spiritual yang intensif menuju - keridhaan - Allah. 

Karena universal, maka tidak sedikit di antara kita yang ketika shalat dapat merengkuhnya. Kita merasakan kenikmatan dan kelazatan akan kemesraan saat bisa bersama - keridhaan - Allah ta'ala. Bersamaan dengan suasana batin ini terasa hati bergetar, maka secara lahiriyah pun seluruh badan kita turut bergetar.  Ya getaran yang membahagiakan; getaran yang kenikmatannya tak terlukiskan. Kenikmatan yang sama juga lazim dirasakan ketika kita membaca al-Quran, atau saat berdzikir, berdoa - terutama di sepertiga malam terakhir - atau ketika ikhlas berqurban, atau saat bisa meringankan beban hidup sesama saudara di sekitar kita, termasuk yang ada di Palestina. 

Begitulah karunia Allah yang tak terkira dicurahkan kepada hamba-hambaNya yang berkenan merengkuhnya.

Memori ibadah haji 1444
Muhasabah 5 Zulhijah 1444
Perniagaan Agung
Saudaraku, alangkah indahnya bila perniagaan yang dilakukan dalam rekaman muhasabah sebelumnya yang lebih cenderung duniawiyah, bisa sekaligus dimaknai sebagai perniagaan agung; Ya perniagaan yang berdemensi ganda, yakni duniawiyah dan ukhrawiyah. 

Perniagaan agung yang dimaksudkan adalah melakukan amalan-amalan shalih, lahir dan batin, yang disyariatkan oleh Allah dan dicontohkan oleh Rasulullah untuk mencapai keridhaanNya semata. 

Allah berfirman yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. Al-Shaff 10-12).

Imam al-Syaukani menyatakan bahwa, “Allah menjadikan amalan-amalan (shalih) tersebut kedudukannya seperti ‘perniagaan’, karena orang-orang yang melakukannya akan meraih keuntungan besar sebagaimana mereka meraih keuntungan dalam perniagaan (duniawi), keuntungan besar itu adalah masuknya mereka ke dalam surga dan selamat dari siksa neraka.” (Kitab Fathul Qadiir, 5/311). Inilah perniagaan agung, karena menghasilkan keuntungan besar dan kekal abadi selamanya,"

Oleh karenanya diharapkan semua transaksi dari perniagaan antar sesama yang dilakukan oleh jamaah merupakan bagian dari perniagaan agung yang diniatkan untuk menggapai ridha Allah. 

Dan seperti disinggung dalam normativitas di atas, perniagaan agung dapat mewujud dalam skope yang sangat luas, seluruh amal shalih yang dilandasi dengan iman kepada Allah ta'ala. Tentu, termasuk menaati Rasul dan berjuang untuk Islam, baik secara fisik (jihad), akal pikiran (ijtihad) maupun hati (mujahadah). Semua ini sejatinya mengerucut dalam statemen bahwa amal shalih sejatinya implementasi dari pengamalan arkanul iman dan arkanul Islam.

Tentu, semua jamaah telah memiliki jam terbang masing-masing akan iman, ilmu dan amal shalih sesuai dengan pemahaman, pengamalan dan pengalaman religiusitasnya. Semoga semua jamaah grafiknya meningkat. meningkat Aamiin ya Mujib al-Sailin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama