Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3270
Selasa, 20 Zulkaidah 1445
Memilih Optimis
Saudaraku, seperti telah disebutkan dalam muhasabah sebelumnya bahwa masing-masing diri kita selaku manusia dianugrahi oleh Allah kemampuan memilih atas pilihan yang tersedia. Misalnya saat hasrat belum tercapai, keinginan belum kesampaian dan cita-cita masih jauh dari kenyataan, maka memilih bersikap optimis sekaligus menjauhi sikap pesimis.
Karena optimis atau fesimis itu bersentuhan langsung dengan tanah sikap mental dan kerimanan, maka dalam lintasan sejarah Islam, telah melahirkan kecenderungan teologis yakni qadariyah bagi yang yakin dan optimis akan kemampuan yang dimiliki oleh manusia anugrah Allah Tuhan semesta dan jabariyah bagi yang sebaliknya.
Optimisme bisa merefleksi pada kemauan dan sikap positif seperti ikhtiar mencoba dan mencoba melakukan apa saja, termasuk terobosan untuk meraih tujuan mulia yang diinginkannya. Sebaliknya fesimisme bisa mewujud pada sikap pasrah begitu saja tanpa ikhtiar yang berarti, menunggu keajaiban turun dari langit.
Aktivitas memilih optimis ini menjadi langkah cerdas yang pada gilirannya akan mengundang keridhaan Allah, sehingga bisa meraih dan merasakan kesuksesan di mana-mana datang. Sebaliknya mempertaruhkan rasa malas berikhtiar hanya akan mempersukit diri belaka.
Bersikap optimis apalagi ketika berketerusan diuji dengan kebelumberhasilan memang tidak mudah karena perlu iman dan hikmah yang memadahi, namun akan lebih mepersulit diri ketika suka mengeluh dan berputus asa. Tetapi dengan bersikap optimis berarti kita telah menepati janji dan karakteristik keislaman dan keberimanan kita.
Untuk membangun optimisme, maka bagi teman-teman sebayaku sebaiknya kita tidak menggunakan ungkapan bahwa "kita sudah berusia 57 tahun" tapi katakan bahwa "kita baru berusia 57 tahun" sehingga sangat mungkin untuk bersemangat dalam menggapai cita-cita mulia di masa yang datang, misalnya untuk lebih sehat, lebih kreatif, lebih rajin, lebih taat dan seterusnya.
Bila diuji dengan sakit atau mengidap suatu penyakit, maka ikhtiar berobat dan berdoa agar sembuh menjadi penting. Tetapi akan jauh lebih signifikan bila dibarengi sikap optimis atau yakin dengan ikhtiar dan do'anya, Allah akan menganugrahi kesembuhan bagaimanapun caranya. Begitu juga tuan puan yang diuji dalam ragam ujian lainnya.
Memori ibadah haji 1444
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3270