Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3272
Kamis, 22 Zulkaidah 1445
Memelihara Diri
Saudaraku, di antara ikhtiar agar tetap konsistensi pada ketaatan adalah memelihara diri dari segala yang berpotensi merugikan, apalagi menjerumuskan ke neraka. Dalam bahasa akhlak memelihara disebut 'iffah. Allah berfirman yang artinya Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari azab neraka. (Qs. Al-Thur 27)
Dan kita juga diseru, Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Qs. Al-Tahrim 6)
Sebagai orang yang beriman, kita akan senantiasa berhati-hati dengan terus cerdas memelihara diri dari segala hal yang dapat merusak atau merugikan atau dari segala yang mendatangkan ketidakridhaan Allah, apalagi kemurkaanNya.
Pertama, memelihara diri secara umum. Sikap ini mewujud pada kehati-hatian dalam memelihara diri dari segala yang diharamkan Allah. Berhati-hati dan berusaha menghindarkan diri dari segala perilaku dan segala sesuatu yang haram merupakan tuntutan keniscayaan dan tuntunan kemuliaan yang tidak bisa ditawar tawar.
Dalam semua hal yang haram, dengan sekuat daya, kita harus memelihara diri, misalnya memelihara diri untuk tidak berlaku maksiat, tidak menyekutukan Allah, tidak sombong di hadapan Allah, tidak su'udzan pada Allah dan tidak melakukan apapun yang mendatangkan murka Allah lainnya. Seiring dengan upaya menghindari segala yang haram ini, 'iffah juga mewujud pada kehati-hatiannya memelihara yang wajib dengan mengindahkannya. Di antaranya senantiasa memperbaharui iman dengan sering melafalkan laa ilaha illallah muhammadarrasulullah, menunaikan shalat yang lima di awal waktu secara berjamaah, puasa Ramadhan juga ditunaikan dengan baik, menunaikan zakat dan haji.
Kedua, memelihara secara khusus. Sikap ini mewujud dalam kehati-hatian dalam memelihara diri dari hal-hal yang makruh, hal-hal yang subhat, dan hal-hal yang dibenci oleh Allah ketika dilakukan. Kita berlindung kepada Allah dari perilaku boros dalam bertutur kata, boros makan minum, banyak bersendau gurau, berhajat atau meminta-minta kepada sesama, bersedekah dengan menyebut-nyebutnya dan seterusnya.
Sejurus dengan menghindari segala yang makruh, sikap ini juga mewujud pada kehati-hatiannya memelihara yang sunat, seperti mengingat Allah dengan lafald dzikir yang makruf, memperindah shalat wajib dengan shalat-shalat sunah yang disyariatkan, seperti shalat rawatib, shalat lail, shalat dhuha dan lainnya, memperindah dengan puasa sunah yang disyariatkan seperti senin kamis, ayyamul bidh, dan lainnya. Demikian juga zakat dengan sedekah, infak, wakaf, dan haji dengan umrah.
Keiga, memelihara diri tingkat tinggi. Sikap ini mewujud dalam kehati-hatian dalam memelihara diri dari segala hal yang berpotensi memalingkan diri untuk mengingat Allah meskipun perkara itu mubah sekalipun. Kita berlindung kepada Allah dari cinta dunia, kita berlindung kepada Allah dari cinta yang memalingkan kita dari haribaanNya, baik kepada harta, tahta maupun keluarga.
Menjauhi semua yang haram, menghindari yang makruh, dan hati-hati dengan segala hal yang dapat memalingkan kesadaran kita dari mengingati Allah ta'ala merupakan bukti memelihara diri. Oleh karenanya hati mesti disirami dengan sejuknya nasihat hikmah, akal disirami jernihnya ilmu yang bermanfaat, fisik dijaga dengan olah raga dan mengomsumsi makanan minuman yang halalan thayiban dengan tidak berlebihan.
Memori ibadah haji 1444
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3272