Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.087
Ahad, 10 Rabiul Awal 1448
Bahagia Bisa Memanfaatkan Peluang
Saudaraku, dikisahkan bahwa pada suatu ketika Umar bin al-Khattab r.a. melihat seorang lelaki yang sangat tua meminta-minta. Umar bertanya kepadanya tentang keadaannya. Setelah mengetahui bahwa lelaki itu sudah lanjut usia dan tidak mampu bekerja, Umar tidak membiarkannya terus meminta-minta. Umar kemudian berkata kepada petugas yang mengelola urusan masyarakat (baca biitul mal) agar memperhatikan kebutuhan lelaki tersebut. Ia menyadari bahwa tanggung jawab seorang pemimpin bukan hanya mengajak kebaikan, tetapi juga membantu orang yang membutuhkan pertolongan.
Kisah ini menunjukkan sesuatu yang sederhana tetapi amat dalam. Orang yang memiliki hati dan ilmu tidak hanya melihat apa yang terjadi; tetapi mampu membaca apa yang seharusnya dilakukan. Ketika melihat seorang tua sedang meminta-minta, bukankah merupakan kesempatan bagi orang lain untuk melihatnya sebagai amanah yang sedang mengetuk pintu kepedulian. Ketika ada anak yang terlantar, bukankah bagi seorang pendidik bisa melihatnya sebagai kesempatan untuk mengabdi. Ketika tetangga ada yang sakit, bukankah orang berilmu yang melihatnya sebagai kesempatan untuk menjenguk dan menguatkan. Ketika ada orang yang melakukan kesalahan, bukankah bagi orang yang memiliki ilmu bisa melihatnya sebagai kesempatan untuk memperbaikinya dengan hikmah. Inilah salah satu buah ilmu, yakni peka, kepekaan, kepedulian. Ilmu membuka mata batin kita.
Dalam muhasabah ke-1 mengajarkan ilmu yang menjadi amal. Ke-2 tentang istiqamah. Ke-3 tentang akhlak. Ke-4 tentang kasih sayang. Ke-5 tentang keteladanan. Ke-6 tentang ukhuwah. Ke-7 tentang menjaga lisan. Ke-8 tentang mengendalikan diri. Ke-9 tentang memilih yang terbaik. Dan hari ini kita bergerak satu langkah lagi yakni ilmu membuat seseorang mampu melihat peluang kebaikan yang mungkin tidak dilihat oleh orang lain. Allah berfirman: “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.” (QS. al-Baqarah: 148). Menurut para mufasir, kata fastabiqu, bukan sekadar berbuat baik, tetapi berlomba dalam kebaikan.
Tentu untuk itu harus ada semangat untuk tidak menunda. Ada kesadaran bahwa kesempatan berbuat baik tidak selalu datang dua kali. Hari ini kita bisa membaca atau menulis, tetapi belum tentu esok hari. Hari ini bisa bersedekah, tetapi belum tentu esok kita memiliki keadaan dan kesempatan yang sama. Hari ini kita bisa meminta maaf, tetapi belum tentu esok orang yang kita sakiti masih bersama kita. Hari ini kita bisa menjenguk dan takdhim ke orang tua, tetapi waktu tidak pernah berjanji akan memberi kita kesempatan serupa. Maka orang berilmu belajar satu prinsip: Jika kesempatan kebaikan datang, maka tidak elok disia-siakan.
Mengapa? Ya karena tidak semua orang melihat kesempatan yang sama. Dua orang berjalan melewati seorang yang sedang kesulitan. Yang satu berkata: "Kasihan." Dan yang lain berkata: Apa yang bisa saya lakukan untuk anda? Perbedaannya sangat kecil dalam kalimat, tetapi sangat besar dalam karakter. Yang pertama melihat keadaan, tapi yang kedua melihat peluang amal. Inilah perbedaan antara sekadar memiliki pengetahuan dengan memiliki kesadaran ilmu.
Orang berilmu tidak hanya bertanya: “Apa yang terjadi?” ia juga bertanya: Apa yang Allah kehendaki saya lakukan terhadap apa yang sedang terjadi? Di sinilah ilmu bertemu bersinergi dengan iman. Ketika melihat kemiskinan, ia tidak hanya mengetahui persoalan ekonomi; ia melihat kewajiban kepedulian. Ketika melihat kebodohan, ia tidak hanya mengkritik; ia melihat kesempatan mengajar. Ketika melihat perselisihan, ia tidak ikut memperkeruh; ia melihat kesempatan mendamaikan. Ketika melihat kesepian, ia melihat kesempatan menemani. Ketika melihat anak muda kehilangan arah, ia melihat kesempatan membimbing. Ilmu membuat mata melihat; iman membuat hati tergerak; amal membuat tangan bergerak.
Bila kita membaca kehidupan Rasulullah, maka penuh dengan kepekaan terhadap kebutuhan manusia. Beliau tidak menunggu seseorang meminta pertolongan secara langsung. Beliau memperhatikan, bertanya, mendengar, kemudian bertindak. Inilah salah satu karakter kenabian yang penting: peka terhadap manusia. Bahkan dalam perkara yang tampak sederhana, Rasulullah mengajarkan agar kita tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Beliau bersabda: “Janganlah engkau meremehkan sedikit pun dari kebaikan, walaupun engkau bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim).
Luar biasa, bukan? Tersenyum pun disebut kebaikan. Artinya, peluang amal tidak selalu berupa sesuatu yang besar. Kadang-kadang ia hanya senyum, sapaan ceria, ucapan terima kasih, mlendengarkan, mengangkat barang, memberikan tempat duduk, menjawab salam, memaafkan, mengajarkan ilmu, atau sekadar hadir ketika seseorang membutuhkan kita.
Karena itu seyogyanya kita tidak menunggu menjadi kaya untuk berbagi, tidak menunggu menjadi ulama untuk mengajarkan kebaikan, tidak menunggu menjadi pejabat untuk mengabdi, tidak menunggu memiliki banyak waktu untuk berbuat baik. Kebaikan selalu memiliki pintunya sendiri. Yang diperlukan adalah mata yang peka dan hati yang siap. Semoga