Bahagia Bisa Memberi Solusi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.088
Senin, 11 Rabiul Awal 1448

Bahagia Bisa Memberi Solusi
Saudaraku, pada masa Khalifah Umar bin al-Khattab, ketika terjadi paceklik yang berat di Madinah, yang dikenal sebagai 'Ām al-Ramādah, Umar tidak hanya berdoa dan memerintahkan umat Islam bersabar, tapi juga mengerahkan berbagai ikhtiar untuk menghadapi keadaan.

Ia mengirim utusan ke berbagai wilayah untuk meminta bantuan makanan, mengatur distribusi, memperhatikan masyarakat yang kelaparan, dan bahkan mengubah pola hidupnya sendiri. Dalam keadaan rakyat kesulitan, Umar tidak merasa pantas menikmati kehidupan yang lebih baik daripada mereka.

Kisah ini memperlihatkan bahwa orang berilmu tidak berhenti pada kemampuan melihat masalah. Ia terdorong mencari jalan keluarnya. Karena kadang ada lho orang yang melihat kesulitan lalu berkata, “Memang sudah begini keadaannya.” Malah ada yang berkata, “Siapa biang keladinya?” Tetapi orang yang berilmu bertanya: “Apa yang dapat kita lakukan?” inilah perbedaan antara penonton persoalan dan pemecah persoalan.

Ya, saudaraku muhasabah kita sudah berjalan cukup jauh. Di bulan ini saja muhasabah pertaman sudah mengingatkan kita bahwa ilmu mestinya amaliyah. Ke-2 ilmu mendorong kita istiqamah dalam beramal shalih. Ke-3 amal shalih melahirkan akhlak mulia. Ke-4 di antaranya kasih sayang. Ke-5 lalu keteladanan. Ke-6 mempererat ukhuwah.
Ke-7 menjaga lisan. Ke-8 mengendalikan diri. Ke-9: mampu memilih yang terbaik. Ke-10: menangkap sekaligus menciptakan peluang kebaikan. Dan kini yang ke-11 kita naik satu tingkat, yaknj bahagia saat berilmu bisa menghadirkan solusi. Sebab ilmu yang benar membuat kita mampu melihat persoalan secara lebih jernih.

Kita tidak hanya bertanya: “Apa masalahnya?” tetapi: “Mengapa masalah ini terjadi?” Apa akar persoalannya?” “Apa yang dapat dilakukan?” “Apa dampak dari setiap pilihan?” “Solusi mana yang paling maslahat?” Inilah ketika ilmu bertemu dengan hikmah.

Karena di antara kelemahan manusia adalah mudah menemukan kesalahan orang lain, tetapi tidak selalu mampu menawarkan jalan keluar. Kita mudah mengatakan: "Ini salah." "Itu tidak baik." "Pemimpinnya tidak profesional." Yang dipimpin atau masyarakatnya tidak disiplin." "Generasi sekarang bermasalah." Tetapi setelah itu? Apa solusinya?

Orang berilmu tidak puas hanya dengan kritik. Jika ia mengatakan sistemnya bermasalah, ia menawarkan perbaikan. Jika ia mengatakan pendidikan kurang baik, ia ikut membangun pendidikan. Jika ia melihat kemiskinan, ia mencari jalan pemberdayaan. Jika ia melihat kebodohan, ia membuka ruang pembelajaran. Jika ia melihat perpecahan, ia menjadi bagian dari rekonsiliasi. Jika ia melihat generasi kehilangan arah, ia ikut menghadirkan bimbingan. Jadi kritik menunjukkan bahwa kita melihat masalah. Solusi menunjukkan bahwa kita memahami masalah. Allah berfirman, “Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang mukmin.” (QS. at-Taubah: 105). Ayat ini mengingatkan bahwa ilmu dan kesadaran harus bermuara pada amal nyata.

Ilmu yang hanya memenuhi kepala tetapi tidak menyentuh kehidupan masih memiliki perjalanan panjang untuk menjadi ilmu yang bermanfaat. Karena itu, seorang akademisi misalnya tidak cukup hanya membaca atau menghasilkan tulisan, tapi idealnya bertanya: “Apakah penelitian saya menyelesaikan persoalan?”

Seorang pendidik tidak cukup hanya menyampaikan materi. Ia bertanya: Apakah mahasiswa saya menjadi lebih baik setelah belajar bersama saya?”. Seorang pemimpin tidak cukup hanya membuat kebijakan. Ia bertanya: Apakah kebijakan ini benar-benar menghadirkan kemaslahatan?” Naj, di sinilah ilmu menjadi pengabdian.

Kadang kita berpikir bahwa solusi harus berupa sesuatu yang besar. Padahal banyak perubahan besar bermula dari solusi kecil yang dilakukan secara konsisten. Satu guru membuka kelas membaca. Satu dosen membimbing beberapa mahasiswa dengan sungguh-sungguh. Satu keluarga membangun budaya membaca. Satu komunitas membuat program sedekah. Satu pemuda membersihkan lingkungan. Satu orang memulai tradisi saling menyapa. Kecil? Mungkin. Tetapi jangan meremehkan kebaikan yang kecil. Sebab peradaban pun dibangun dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara terus-menerus oleh manusia yang memiliki visi besar.

Jadi peluang adalah pintu dan solusi adalah langkah yang melewati pintu itu. Kita tidak berhenti pada gagasan, tidak berhenti pada diskusi, tidak berhenti pada seminar, tidak berhenti pada rencana, tidak berhenti pada status media sosial tentang perubahan. Tapi memulai mengerjakan sesuatu. Karena dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai mengatakan bahwa sesuatu harus berubah. Dunia membutuhkan orang yang mau menjadi bagian dari perubahan itu.

Tentu, kita tidak mengeluh tapi mencari jalan keluar, tidak menyalahkan tapi memperbaiki, tidak mengkritik tapi menawarkan solusi, tidak hanya berbicara tapi bekerja, tidak hanya melontarkan gagasan tapi melakujan tindakan nyata, tidak membuat masalah tapi membawa maslahah. Maka ketika melihat jalan rusak, kita tidak mengeluh. Ketika melihat pendidikan lemah, kita tidak mencela. Ketika melihat generasi bermasalah, kita tidak menyalahkan zaman. Ketika melihat masyarakat terpecah, kita tidak menunjuk siapa yang salah.: Kita bertanya dalam diri “Apa bagian yang bisa saya kerjakan?” mungkin kita tidak mampu menyelesaikan seluruh masalah dunia. Tetapi Allah tidak meminta kita menyelesaikan seluruhnya. Allah meminta kita melakukan bagian yang mampu kita lakukan. Jadi ilmu kita adalah

Ilmu yang melihat.
Ilmu yang memahami.
Ilmu yang menggerakkan.
Ilmu yang menyelesaikan.
Ilmu yang memberi manfaat.
Dan mungkin inilah salah satu tanda bahwa ilmu kita telah menjadi jalan kedekatan kepada Allah: Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama