Bahagia Bisa Menjaga Ukhuwah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.083
Rabu, 6 Rabiul Awal 1448

Bahagia Bisa Menjaga Ukhuwah
Saudaraku dikisahkan, setelah kaum Muhajirin hijrah ke Madinah, Rasulullah tidak membiarkan mereka hidup sebagai kelompok pendatang yang terpisah dari masyarakat setempat. Beliau mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Ansar.

Salah satu kisah yang sangat terkenal adalah ketika 'Abdurrahman bin 'Auf  dipersaudarakan dengan Sa'd bin ar-Rabi'. Sa'd menawarkan hartanya kepada saudaranya yang baru datang dari Makkah namun 'Abdurrahman bin 'Auf tidak mengambilnya. Ia berkata: “Semoga Allah memberkahi hartamu, tunjukkan saja kepadaku di mana pasar.”

Peristiwa ini bukan sekadar kisah tentang dua orang sahabat. Ia adalah gambaran bagaimana Rasulullah mengubah perbedaan latar belakang menjadi persaudaraan, dan mengubah kekuatan individu menjadi kekuatan umat.

Ya melalui muhasabah ke-1 pada bulan ini sudah mengingatkan kita tentang ilmu harus amaliyah, ke-2 tentang istiqamah dalam amal salih, ke-3 tentang akhlak mulia, ke-4 tentang kasih sayang ke-5 tentang keteladanan maka hari ini kita melangkah kepada buah berikutnya yakni ilmu yang benar semestinya membuat seseorang mampu menjaga ukhuwah, tidak angkuh, tidak menjaga jarak sosial lantaran merasa hebat dan tidak menyemai perpecahan..

Ya semakin berilmu seseorang, seharusnya semakin memahami bahwa manusia memang diciptakan berbeda. Allah berfirman: Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. (QS. al-Hujurat: 13).

Perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan. Perbedaan adalah bagian dari sunnatullah. Maka orang yang ilmunya semakin luas biasanya semakin menyadari bahwa tidak semua perbedaan harus menjadi alan untuk membeda-bedakan, apalagi mendiskriminasi.

Kita boleh berbeda pendapat tanpa berbeda kasih sayang. Kita boleh berbeda pilihan tanpa memutus persaudaraan. Kita boleh berbeda cara berpikir tanpa saling merendahkan. Kita boleh berbeda dalam persoalan yang memang memungkinkan perbedaan, tetapi tetap bertemu dalam iman, kemanusiaan, dan akhlak.

Ilmu yang kita miliki seyogyanya mengajarkan adab menyikapi perbedaan. Dan inilah salah satu tanda kedewasaan ilmu, yakni kemampuan berbeda tanpa kehilangan adab. Orang yang sedikit ilmunya kadang merasa hanya ada satu cara melihat persoalan ya dengan caranya sendiri. Tetapi semakin luas wawasan seseorang, ia semakin memahami bahwa suatu persoalan dapat dilihat dari berbagai sisi. Karena itu, ia tidak mudah mengatakan: Pendapat saya pasti benar dan pendapat Anda pasti salah.. a belajar mengatakan: “Menurut pemahaman saya...”Saya melihat persoalan ini dari sudut yang berbeda...“Mari kita periksa kembali dalil dan argumentasinya...”

Bahasa seperti ini bukan tanda kelemahan. Justru ia menunjukkan kedewasaan intelektual sekaligus kedewasaan spiritual. Sebab secara sodial tujuan ilmu bukan mencari musuh, tetapi mencari kebenaran. Dan ketika kebenaran telah ditemukan, ia tidak perlu disampaikan dengan kesombongan.

Rasulullah membangun masyarakat Madinah bukan dengan menghapus seluruh perbedaan, tetapi dengan mengikat perbedaan itu dalam persaudaraan dan kesepakatan hidup bersama. Kaum Muhajirin memiliki pengalaman berbeda dengan Ansar. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang berasal dari suku berbeda. Ada yang memiliki latar belakang berbeda. Namun Rasulullah membangun sebuah kesadaran bahwa kita boleh berbeda asal tidak tercerai-berai.

Inilah pelajaran penting bagi kita hari ini. Kadang-kadang yang merusak persaudaraan bukan perbedaan besar, tetapi ego yang tidak mampu menerima perbedaan kecil. Berbeda pendapat sedikit, lalu bermusuhan. Berbeda pilihan, lalu saling mencela. Berbeda organisasi yang fiikuti, lalu saling menafikan. Berbeda pemikiran, lalu saling memberi label. Padahal ilmu semestinya membuat kita semakin mampu mengendalikan ego intelektual.

Jangan sampai ilmu yang kita miliki menjadi tembok atau penghalang kebaikan, penghalang persaudaraan. Tentu, ada sesuatu yang perlu kita waspadai bahwa ilmu seharusnya menjadi jembatan, tetapi kadang-kadang justru dijadikan tembok. Seseorang merasa lebih berilmu lalu memandang rendah orang yang belum tahu. Seseorang merasa lebih saleh lalu menganggap orang lain tidak baik. Seseorang merasa lebih memahami agama lalu mudah menyesatkan orang lain. Padahal ilmu yang benar seharusnya melahirkan tawadhu' dan ukhuwah.

Maka semakin tinggi pohon, semakin rendah ia menundukkan buahnya. Begitu pula manusia yang tinggi ilmunya: semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Rasulullah  bersabda: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya, dan tidak merendahkannya.” (HR. Muslim).

Karena itu, menjaga ukhuwah bukan perkara tambahan. Ia bagian dari konsekuensi ilmu, iman dan akhlak. Kini mari bertanya kepada diri sendiri: Apakah ilmu yang kita miliki membuat kita semakin mudah bersaudara? Apakah orang yang berbeda pendapat dengan kita masih merasa nyaman berbicara? Apakah kita mampu mengakui kebenaran meskipun datang dari orang yang tidak kita sukai Apakah kita mampu meminta maaf ketika salah? Apakah kita mampu memaafkan ketika disakiti? Apakah ilmu yang kita miliki menjadi jembatan yang menghubungkan dengan sesama atau justru menjadi tembok yang memisahkannya?

Sebab boleh jadi ukuran kedalaman ilmu bukan hanya kemampuan menjelaskan kebenaran, tetapi kemampuan menjaga persaudaraan ketika kebenaran itu diperdebatkan. Semoga Allah menjadikan ilmu kita bukan sumber kesombongan, tetapi sumber persaudaraan; bukan penyebab perpecahan, tetapi jalan menuju ukhuwah, persatuan. Aamiin


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama