Bahagia Bisa Menjaga Lisan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.084
Kamis, 7 Rabiul Awal 1448

Bahagia Bisa Menjaga Lisan
Saudaraku, pada suatu hari, Mu'adz bin Jabal berjalan bersama Rasulullah. Ia bertanya tentang amal yang dapat memasukkan seseorang ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka. Lalu Rasulullah menjelaskan tentang pokok-pokok kebaikan: tauhid, shalat, zakat, puasa, haji, sedekah, puasa sunnah, dan berbagai pintu amal lainnya. Kemudian Rasulullah menunjukkan kepada Mu'adz salah satu perkara yang sangat menentukan keselamatan manusia. Beliau membeti isyarat memegang lisannya dan bersabda: “Tahanlah ini.”

Mu'adz bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kita ucapkan?” Rasulullah menjawab: “Bukankah manusia disungkurkan ke dalam neraka dengan wajah mereka—atau beliau bersabda: dengan hidung mereka—disebabkan oleh hasil yang dipetik dari lisan mereka?” (HR. at-Tirmidzi).

Betapa luar biasa pesan dari riwayat di atas. Lisan yang begitu kecil, tetapi akibatnya bisa sangat besar. Kata-kata dapat mendamaikan dua orang yang sedang berselisih atau sebaliknya dapat menghancurkan persahabatan. Satu kalimat dapat menjadi kesaksian keislaman seseorang atau sebaliknya justru membatalkannya. Suatu statemen bisa menguatkan hati seseorang yang sedang jatuh atau sebaliknya. Satu kalimat pula dapat membuat seseorang berbunga-bunga, tetapi juga bisa membuat terluka. Karena itu, orang yang berilmu tidak hanya belajar apa yang benar untuk dikatakan, tetapi juga belajar kapan harus berbicara, bagaimana mengatakannya, dan kapan harus diam.

Bulan Rabiul Awal dalam muhasabah ke-1 mengajarkan ilmu yang amaliyah. Ke-2 mengajarkan istiqamah dalam amal saleh. Ke-3 tentang akhlak mulia. Ke-4 tentang kasih sayang. Ke-5 tentang keteladanan. Ke-6 tentang ukhuwah. Hari ini kita belajar bahwa salah satu cara menjaga ukhuwah yakni denganmenjaga lisan. Allah berfirman: “Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18). Jadi tidak ada kata yang benar-benar hilang. Boleh jadi manusia lupa apa yang kita katakan, tapi catatan Allah tidak lupa.

Inilah pentingnya kita berilmu, karena dengan ilmu itu mengajarkan kapan kita harus berbicara, ia juga memaham kita bahwa diam juga bisa menjadi ilmu, bahwa tdak semua pertanyaan harus dijawab, tidak semua komentar harus ditanggapi, tidak semua berita harus diteruskan, tidak semua perbedaan harus diperdebatkan, tidak semua kesalahan orang lain harus diumumkan, dan tidak semua yang kita ketahui harus kita ceritakan. Rasulullah ï·º bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini sangat sederhana, tetapi sekaligus merupakan etika komunikasi yang sangat tinggi.

Pada zaman dahulu, ucapan seseorang mungkin hanya didengar oleh orang-orang yang berada di sekitarnya tapi hari ini berbeda. Satu kalimat dapat dibaca ribuan bahkan jutaan orang. Satu komentar dapat menjadi tangkapan layar. Satu status dapat disebarkan tanpa batas. Satu video dapat keluar dari konteks dan beredar ke mana-mana. Karena itu, semakin maju teknologi, semakin tinggi pula tuntutan ilmu dan akhlak.

Kini, orang berilmu harus semakin berhati-hati ketika: membuat status, menulis komentar, meneruskan pesan, membagikan berita, memberikan penilaian, mengkritik seseorang, dan berbicara tentang orang yang tidak hadir. Tidak etis bila kita merasa bebas berkata karena berada di balik layar. Yakinlah bahwa Allah tetap melihat meskipun manusia tidak melihat. Tidak etis kalau jari kita lebih cepat daripada ilmu kita. Tidak elok kalau emosi lebih dahulu berbicara daripada akal. Tidak etis bila kita menyebarkan sesuatu hanya karena menarik, padahal belum tentu benar. Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti...” (QS. al-Hujurat: 6). Ayat ini semakin relevan dalam kehidupan digital.

Ya, tabayyun adalah bagian dari ilmu, sebaiknya tidak mudah percaya, tidak mudah menyebarkan, tidak mudah menuduh, tidak mudah memberi label, tidak mudah membuat kesimpulan dari informasi yang belum lengkap.

Semua itu, agar lisan kita menjadi rahma, menjadi jalan keselamatan. Ketika orang lain gelisah, kita pun menenangkan. Ketika orang lain salah, kita mengingatkan dengan cara yang baik. Ketika orang lain berhasil, kita mengucapkan selamat. Ketika orang lain jatuh, kita membantu membangkitkan. Ketika terjadi perselisihan, kita menjadi penengah. Ketika tidak tahu, kita harus berani berkata: Saya tidak tahu. Inilah di antara kalimat yang sangat mulia dari orang berilmu. Semoga lisa kita terjaga. Aamiin




Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama