Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.086
Sabtu, 9 Rabiul Awal 1448
Bahagia Bisa Memilih yang Terbaik
Saudaraku, dalam.sebuah riwayat yang sangat populis diceritakan bahwa pada suatu hari, Rasulullah mengutus Mu'adz bin Jabal ke Yaman untuk menjalankan tugas dakwah dan membimbing masyarakat di sana. Sebelum berangkat, Rasulullah bertanya kepadanya bagaimana ia akan menetapkan keputusan apabila menghadapi persoalan. Mu'adz menjawab bahwa ia akan berpegang kepada Kitab Allah. Jika tidak menemukannya, ia akan menggunakan Sunnah Rasulullah. Jika masih belum menemukan jawaban secara langsung, ia akan berijtihad dengan kemampuan berpikirnya. Rasulullah kemudian memuji Allah karena memberikan taufik kepada utusannya sehingga memilih jalan yang diridhai Allah.
Kisah di atas menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar kumpulan pengetahuan, tetapi bekal untuk menentukan pilihan ketika kehidupan menghadapkan manusia pada berbagai kemungkinan.
Muhasabah kita sebelumnya telah mengingatkan bahwa ilmu harus mewujud pada amal shalih, amal shalih harus dijaga dengan istikamah, agar istikamah mengkristal menjadi akhlak, akhlak yang melahirkan kasih sayang, kasih sayang yang menghadirkan keteladanan, keteladanan untuk menjaga ukhuwah, ukhuwah dijaga dengan lisan, dan lisan yang terjaga diperkuat dengan kemampuan mengendalikan diri. Dan kini kita bertanya: untuk apa semua ini jika kita tidak mampu memilih jalan yang benar?
Sebab kehidupan pada hakikatnya adalah rangkaian pilihan demi pilihan. Ya, realitasnya, setiap hari kita memilih: Apa yang akan kita tulis hari ini. Apa yang akan kita katakan. Apa yang akan kita dengarkan. Apa yang akan kita baca. Apa yang akan kita makan dan minum. Apa yang akan kita lakukan. Ke mana kita mau pergi. Bagaimana kita menggunakan waktu. Apa yang kita prioritaskan. Bahkan ketika kita tidak memilih apa-apa, sesungguhnya kita sedang memilih untuk membiarkan keadaan menentukan kita. Maka sejatinya ilmu akan memberi Arah. Allah berfirman: Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. an-Nahl: 43). Bukankah ayat ini telah mengajarkan sebuah etika intelektual yang sangat penting?, ya jangan sampai kita mengambil keputusan berdasarkan ketidaktahuan.
Orang berilmu tidak malu mengatakan, “Saya belum tahu.” Ia memilih untuk bertanya. Ia memilih belajar. Ia memilih mencari informasi. Ia memilih memeriksa. Ia memilih bermusyawarah. Kemudian ia memilih mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang. Sebaliknya, orang yang merasa sudah tahu segala sesuatu justru berbahaya bagi dirinya sendiri. Ia dapat mengambil keputusan besar dengan pengetahuan yang sangat sedikit. Maka ilmu memberikan kita kompas, sedangkan akal membantu membaca arah perjalanan. Inilah mengapa tidak semua yang baik harus dipilih. Karena bisa jadi ada sesuatu yang lebih dalam.
Dalam kehidupan, kita sering berhadapan dengan dua pilihan yang sama-sama baik. Mana yang harus diprioritaskan? Ada pekerjaan yang baik, tetapi ada keluarga yang juga membutuhkan perhatian. Ada banyak kegiatan sosial yang bermanfaat, tetapi waktu dan tenaga terbatas. Ada banyak ilmu yang ingin dipelajari, tetapi usia dan kesempatan terbatas.
Di sinilah ilmu melahirkan kemampuan menentukan prioritas. Orang bijak tidak hanya bertanya: “Mana yang baik?” tapi bertanya: Mana yang lebih baik?” Bahkan lebih jauh: “Mana yang paling baik dan paling membawa maslahat?”
Inilah yang dalam tradisi keilmuan Islam dekat dengan konsep hikmah dan pertimbangan maslahat. Allah berfirman: Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak.” (QS. al-Baqarah: 269).
Hikmah bukan hanya mengetahui kebenaran. Hikmah adalah mengetahui kebenaran, memahami keadaan, lalu menempatkan sesuatu secara tepat. Inilah ilmu membuat kita tidak gegabah. Orang yang berilmu tidak mudah mengambil keputusan hanya karena sedang senang. Ia juga tidak mudah memutuskan sesuatu ketika sedang marah. Ia tidak menjadikan popularitas sebagai ukuran kebenaran. Ia tidak memilih sesuatu hanya karena banyak orang melakukannya. Ia mempertimbangkan: apakah ini benar? Apakah ini halal? Apakah ini bermanfaat? Apa akibatnya bagi diri saya? Apa akibatnya bagi keluarga? Apa dampaknya bagi orang lain? Apakah Allah ridha?
Pertanyaan-pertanyaan semacam ini menjadikan keputusan manusia lebih matang. Karena itu, ilmu yang benar menjadikan seseorang tidak mudah terseret arus. Ia dapat berjalan berbeda dari banyak orang apabila jalan itu lebih dekat kepada kebenaran. Akan tetapi, ilmu bukan berarti manusia merasa mampu menentukan segala sesuatu sendiri. Setelah belajar, berpikir, bermusyawarah, mempertimbangkan maslahat dan berdoa. seorang mukmin tetap menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena manusia hanya mengetahui yang tampak, sedangkan Allah mengetahui yang tersembunyi. Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah: 216). Semoga kita bijak dalam menentukan pilihan. Aamin
.