Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.085
Jumat, 8 Rabiul Awal 1448
Bahagia Memiliki Self Control
Saudaraku, pada suatu hari, seorang lelaki datang kepada Rasulullah dan meminta nasihat. Ia berkata, “Berilah aku nasihat.” Rasulullah menjawab singkat: Jangan marah. (HR. al-Bukhari). Lelaki itu mengulangi permintaannya beberapa kali, tetapi Rasulullah tetap memberikan jawaban yang sama: “Jangan marah.”
Mengapa nasihat yang tampaknya sederhana itu begitu ditekankan bahkan diulang oleh Rasul? Karena Rasulullah memahami bahwa banyak kerusakan kehidupan ini bermula ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Seseorang yang marah dapat mengucapkan kata yang kemudian disesalinya. Seseorang yang dikuasai hawa nafsu dapat mengambil keputusan yang merusak masa depannya. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan keinginannya dapat mengorbankan prinsip demi kesenangan sesaat. Maka ilmu yang benar bukan hanya membuat seseorang tahu apa yang baik, tetapi atas ijin Allah juga memberinya kemampuan untuk mengendalikan dirinya agar memilih yang baik menghindari yang buruk.
Jadi ilmu harus melahirkan penguasaan diri (self control). Sebab sesungguhnya salah satu medan perjuangan manusia yang paling berat bukanlah menaklukkan orang lain, tetapi menaklukkan dirinya sendiri. Manusia dapat menguasai teknologi, menguasai ilmu pengetahuan, bahkan memimpin banyak orang. Tetapi semua itu belum tentu berarti ia mampu menguasai dirinya.
Ia mungkin mampu mengendalikan orang lain, tetapi tidak mampu mengendalikan amarah. Ia mampu mengatur lembaga, tetapi tidak mampu mengatur keinginannya. Ia mampu berbicara tentang kesabaran, tetapi mudah tersulut. Ia mampu mengajarkan kejujuran, tetapi sulit menahan godaan keuntungan. Karena itu, ilmu yang sejati harus masuk ke wilayah nafs.
Allah berfirman: Dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya. (QS. an-Nazi'at 40–41). Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu jalan menuju keselamatan adalah kemampuan menahan diri dari dorongan hawa nafsu. Bukan berarti manusia harus membunuh keinginannya. Islam tidak mengajarkan manusia menjadi makhluk tanpa keinginan. Yang diajarkan adalah mengendalikan keinginan agar tunduk kepada nilai dan petunjuk Allah. Marah boleh, tetapi jangan dizalimi oleh kemarahan. Memiliki harta boleh, tetapi jangan diperbudak harta. Mencintai boleh, tetapi jangan sampai cinta membutakan kebenaran. Memiliki kedudukan boleh, tetapi jangan sampai jabatan membuat seseorang lupa bahwa ia adalah hamba.
Rasulullah bersabda: “Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim). Ini adalah definisi kekuatan yang sangat filosofis.
Dunia sering mengajarkan bahwa kuat berarti mampu mengalahkan orang lain. Islam mengajarkan bahwa kekuatan yang lebih tinggi adalah mampu mengalahkan dorongan buruk dalam diri sendiri. Menahan satu kata ketika sedang marah bisa lebih sulit daripada mengucapkan seribu kata. Menahan tangan dari membalas bisa lebih berat daripada memenangkan pertengkaran. Menolak sebuah keinginan yang haram bisa lebih berat daripada memperoleh apa yang kita inginkan. Tetapi justru di situlah kemuliaan manusia. Kemenangan terbesar bukan ketika kita berhasil menundukkan orang lain, melainkan ketika kita berhasil menundukkan ego kita sendiri.
Salah satu tanda orang yang berilmu adalah ia tidak selalu bereaksi secara spontan. Ia memiliki jeda antara stimulus dan respons. Ketika mendapat berita, ia tidak langsung percaya. Ketika mendapat kritik, ia tidak langsung marah. Ketika dipuji, ia tidak langsung terlena. Ketika memperoleh keuntungan, ia tidak langsung mengambil sebelum memastikan halal dan baik. Ketika menghadapi masalah, ia tidak langsung mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Ia berhenti sejenak, berpikir, berdoa, mempertimbangkan akibat. Kemudian bertindak. Itulah ilmu yang telah menjadi hikmah dalam kehidupan. Semoga kita bisa