Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.055
Rabu, 7 Safar 1448
Bahagia Membaca juga Dengan Hati
Saudaraku, muhasabah beberapa hari terakhir telah mengajarkan kita bahwa ilmu harus dicintai karena Allah, diniatkan karena Allah, bersumber dari wahyu, menghadirkan Allah dalam setiap pengetahuan, menumbuhkan rasa ingin tahu yang benar, dan disempurnakan dengan budaya membaca. Hari ini kita berikhtiar memahami bahwa membaca yang sesungguhnya bukan hanya aktivitas mata, tapi juga hati.
Membaca tidak sekadar menggerakkan mata, tetapi juga menggerakkan hati untuk merenungi. Sebab seseorang dapat menghabiskan banyak buku tanpa berubah, sementara orang lain membaca satu surat atau ayat Al-Qur'an lalu seluruh hidupnya berubah. Misalnya "membaca" surat al-'Ashr".
Dalam Islam, membaca adalah interaksi aktif antara akal, hati ruhani, dan kebenaran. Mata hanya mengenali huruf, akal memahami makna, tetapi hatilah yang menentukan apakah makna itu akan menjadi cahaya atau sekadar informasi. Karena itu, Al-Qur'an tidak hanya memerintahkan membaca (iqra'), tetapi juga berkali-kali mengajak manusia untuk yatafakkarun (berpikir), yatadabbarun (merenungkan), dan ya'qilun (menggunakan akal). Membaca tanpa renungan melahirkan pengetahuan; membaca dengan renungan melahirkan hikmah.
Di zaman sekarang, kita membaca begitu banyak hal setiap hari. Berita, pesan singkat, media sosial, jurnal, buku, dan berbagai informasi terus memenuhi pikiran. Namun semakin banyak bacaan belum tentu semakin banyak kebijaksanaan. Yang dibutuhkan bukan sekadar banyak membaca, tetapi membaca yang mengubah cara berpikir, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah. Sebab ukuran keberhasilan membaca bukan berapa halaman yang selesai, melainkan berapa nilai yang meresap ke dalam jiwa.
Nah memetik semangat hijrah, maka pada bulan Safar adalah hijrah ilmu, berhijrah dari membaca untuk mengetahui menjadi membaca untuk semakin memahami, semakin tumbuh kembang hikmahnya. Membaca Al-Qur'an agar iman bertambah. Membaca sejarah agar kebijaksanaan bertambah. Membaca ilmu pengetahuan agar rasa syukur bertambah. Membaca kehidupan sosial agar kepedulian bertambah. Ketika membaca dilakukan dengan hati yang hidup, setiap halaman menjadi guru, setiap pengalaman menjadi pelajaran, dan setiap peristiwa menjadi jalan mengenal Allah lebih dekat.
Maka seyogyanya kita bermuhasabah. Apakah bacaan kita selama ini hanya memenuhi rak buku dan memori, atau telah membentuk kepribadian kita? Apakah setelah membaca Al-Qur'an kita menjadi lebih sabar, lebih jujur, lebih tawaduk, dan lebih penyayang? Ataukah kita hanya bangga dengan banyaknya buku yang telah dibaca? Sesungguhnya, ilmu yang paling berharga bukanlah ilmu yang memenuhi kepala, melainkan ilmu yang menumbuhkan ketakwaan di dalam hati. Semoga