Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.051
Sabtu, 3 Safar 1448
Bahagia Menjadikan Wahyu sebagai Sumber Ilmu
Saudaraku, ketika periode Makkah saat Rasulullah menerima wahyu al-Qur'an, masyarakat Arab yang lazim masih dalam masa jahiliyah, sebenarnya bukan masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan. Realitasnya mereka mengenal perdagangan, mampu menghafal silsilah, mahir bersyair, memahami astronomi sederhana untuk perjalanan, bahkan memiliki tradisi lisan yang kuat. Akan tetapi, semua pengetahuan itu belum mampu mengangkat martabat mereka.
Mengapa? Ya, karena semua itu tidak dipandu oleh wahyu. Lalu pada malam yang agung, saat Rasulullah berkhalwat di Gua Hira sekitar tahun 610 M, Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama Allah (QS. Al-'Alaq: 1-5). Menariknya, wahyu pertama ini tidak hanya memerintahkan untuk membaca, tetapi juga menentukan dengan nama siapa membaca itu dilakukan.
Nah, sejak saat itulah sejarah manusia memasuki babak baru bahwa ilmu tidak lagi berdiri sendiri, melainkan harus berjalan di bawah cahaya wahyu.
Inilah mengapa bila pada muhasabah yang baru lalu mengajak kita meluruskan niat dalam menuntut ilmu, maka hari ini kita melangkah lebih jauh, yaitu menjadikan wahyu sebagai sumber dan penuntun ilmu. Sebab niat yang baik saja belum cukup apabila arah ilmu tidak benar. Ilmu membutuhkan kompas, dan kompas itu adalah wahyu Allah. Wahyu tidak mematikan akal, tetapi membimbing akal agar tidak tersesat. Wahyu tidak menghalangi penelitian, tetapi memberikan arah agar penelitian membawa kemaslahatan.
Wahyu dan akal ibarat dua mata yang dengannya manusia memandang kebenaran. Dengan satu mata, seseorang hanya melihat sebagian kenyataan; dengan dua mata, ia memperoleh pandangan yang utuh. Akal mengajarkan bagaimana alam bekerja, sedangkan wahyu menjelaskan untuk apa manusia diciptakan. Akal mampu menghitung usia bumi, tetapi wahyu mengajarkan makna kehidupan. Akal dapat menciptakan teknologi yang luar biasa, tetapi wahyu mengajarkan bagaimana teknologi itu digunakan untuk kebaikan. Karena itu, peradaban Islam pada masa keemasannya melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar justru karena mereka memulai dan melakukan pencarian ilmu dengan cahaya Al-Qur'an.
Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia memperhatikan langit, bumi, gunung, laut, hujan, pergantian siang dan malam, penciptaan semesta, bahkan penciptaan dirinya sendiri. Semua itu menunjukkan bahwa Islam tidak pernah memisahkan agama dari ilmu pengetahuan. Sebaliknya, semakin seseorang memahami ciptaan Allah, maja semakin mengakui kebesaran Penciptanya. Maka ilmu yang benar bukanlah ilmu yang menjauhkan manusia dari Allah, tetapi ilmu yang membuatnya semakin tunduk, takut denganNya dan berkata, "Subhānallāh, betapa sempurna ciptaan-Mu, ya Rabb."
Hijrah ilmu pada bulan Safar adalah berhijrah dari ilmu yang sekadar memenuhi kepala menuju ilmu yang menerangi hati. Jangan sampai kita mengetahui banyak ilmu pengetahuan, tetapi kosong dari hikmah. Jangan sampai kita menguasai banyak data, tetapi kehilangan adab. Jangan sampai kita pandai menjelaskan alam, tetapi lupa kepada Pencipta alam. Sebab ilmu yang tidak dipandu oleh wahyu dapat melahirkan kecerdasan tanpa kebijaksanaan, sedangkan ilmu yang dibimbing oleh wahyu akan melahirkan peradaban yang penuh rahmat.