Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.057
Jumat, 9 Safar 1448
Bahagia Merengkuh Adab dalam Menuntut Ilmu
Saudaraku, pada suatu hari di Madinah, seorang pemuda cerdas bernama Muhammad bin Idris asy-Syafi'i datang menemui Imam Malik bin Anas, ulama besar dan penulis Al-Muwaththa'. Sebelum berangkat menuntu ilmu, ibu Imam Syafi'i berpesan, "Wahai anakku, datangilah Imam Malik. Pelajarilah terlebih dahulu adabnya sebelum engkau mempelajari ilmunya."
Nasihat itu tertanam kuat dalam jiwa Imam Syafi'i. Ketika menghadiri majelis gurunya, ia duduk dengan penuh hormat, tidak membalik lembaran kitab dengan keras karena khawatir mengganggu konsentrasi gurunya, Imam Malik. Bahkan ia sangat berhati-hati dalam bersikap di hadapan gurunya. Bertahun-tahun kemudian, Imam Syafi'i tumbuh menjadi salah satu imam mazhab terbesar dalam sejarah Islam. Keagungan ilmunya tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan adabnya.
Kemarin, muhasabah harian telah mengingatkan kita agar mensyukuri nikmat akal hari ini kita dituntun untuk merengkuh adab saat menuntut ilmu. Karena dengan akal yang cerdas saja belum cukup, ia memerlukan adab agar melahirkan hikmah. Sebab dengan memberdayakan akal dapat menjadikan seseorang pintar, tetapi adab menjadikannya mulia. Ilmu dapat membuka pintu kesuksesan, tetapi adab menjaga agar kesuksesan itu tetap diberkahi Allah.
Ya, ilmu itu nur hanya bisa ditangkap dengan semlufna oleh hati yang bersih, lisan yang santun, sikap yang rendah hati, dan perilaku yang terpuji. Itulah sebabnya para ulama salaf menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membina akhlak sebelum mendalami berbagai cabang ilmu. Mereka memahami bahwa ilmu tanpa adab lebih berbahaya daripada kebodohan.
Dalam tradisi Islam, adab bukan sekadar sopan santun, tetapi kesadaran menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Adab kepada Allah dengan menaati-Nya. Adab kepada Rasulullah dengan mengikuti sunnahnya. Adab kepada guru dengan takdhim kepadanya. Adab kepada ilmu dengan mengamalkannya. Adab kepada sesama dengan menjaga lisan dan akhlak. Ketika adab hadir, ilmu menjadi cahaya. Ketika adab hilang, ilmu dapat berubah menjadi alat kesombongan dan perpecahan.
Fenomena zaman sekarang sering memperlihatkan ironi. Banyak orang memiliki pengetahuan yang luas, tetapi mudah merendahkan orang lain. Banyak yang fasih berbicara, tetapi sulit mendengar. Banyak yang cepat mengoreksi, tetapi lambat memperbaiki diri. Padahal keberhasilan seorang penuntut ilmu bukan hanya diukur dari ketajaman analisisnya, melainkan juga dari kelembutan akhlaknya. Semakin tinggi ilmunya, seharusnya semakin halus tutur katanya dan semakin besar penghormatannya kepada orang lain.
Tentu, kita dituntun untuk mengejar kepintaran, tetapi kepntaran yang menyatu bersepadu dengan kemuliaan akhlak. Jangan sampai kita sibuk memenuhi kepala dengan berbagai pengetahuan, tetapi lupa menghiasi hati dengan adab. Sebab ilmu yang paling indah adalah ilmu yang melahirkan kedekatan dengan Ilahi, memasilitasi kerendahan hati, kasih sayang, dan keteladanan. Ketika ilmu bertemu dengan adab, lahirlah hikmah. Dan ketika hikmah hadir, di situlah seorang hamba semakin dekat kepada Allah.
Marilah kita bermuhasabah. Ketika belajar, apakah kita lebih sibuk mengumpulkan ilmu atau memperbaiki akhlak? Apakah kehadiran kita membuat orang lain merasa dihormati dan dimuliakan? Apakah ilmu yang kita miliki menjadikan kita semakin tawaduk di hadapan Allah dan semakin santun kepada sesama? Sesungguhnya, warisan terbesar para ulama bukan hanya kitab-kitab mereka, tetapi juga adab mereka.