Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.053
Senin, 5 Safar 1448
Bahagia Dikaruniai Rasa Ingin Tahu
Saudaraku, pada suatu hari, seorang pemuda bernama Muhammad bin Idris al-Syafi'i datang menemui gurunya, Imam Malik bin Anas di Madinah. Sejak kecil al-Syafi'i dikenal memiliki rasa ingin tahu (curiosity) yang luar biasa pada ilmu agama.
Karena keserbaterbatasan, al-Syafi'i tidak selalu memiliki kertas untuk menulis. Ia mengumpulkan tulang belulang, pelepah kurma, dan pecahan kulit untuk mencatat pelajaran. Setiap kali menemukan persoalan yang belum dipahaminya, ia tidak merasa malu bertanya. Setiap kali memperoleh jawaban, ia tidak berhenti pada hafalan, tetapi merenungkannya hingga menemukan hikmah di baliknya. Kelak, rasa ingin tahu yang dipadukan dengan adab dan keikhlasan itu melahirkan salah seorang imam besar yang ilmunya menerangi umat hingga hari ini.
Muhasabah kemarin telah memandu kita untuk menemukan Allah dalam setiap ilmu pengetahuan, maka hari ini kita mencoba merenungkan bahwa kedekatan kepada Allah juga tumbuh dari rasa ingin tahu yang benar. Islam tidak pernah mematikan pertanyaan. Sebaliknya, Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia untuk memperhatikan, memikirkan, mentadabburi, dan mengambil pelajaran. Pertanyaan yang lahir dari hati yang ikhlas bukanlah tanda kelemahan iman, tetapi tanda kerinduan untuk semakin mengenal kebenaran.
Secara filosofis, rasa ingin tahu adalah benih ilmu yang Allah tanamkan dalam jiwa manusia. Ketika benih itu dipandu oleh wahyu, dipupuk dengan adab, dan diarahkan untuj kemaslahatan, ia akan tumbuh menjadi pohon hikmah yang buahnya dinikmati banyak orang. Namun bila benih itu dibiarkan tumbuh tanpa bimbingan, ia dapat berubah menjadi sekadar rasa penasaran yang tidak membawa manfaat, bahkan menjerumuskan kepada kesia-siaan. Karena itu, bukan semua pertanyaan harus dicari jawabannya, tetapi semua pertanyaan harus diarahkan kepada hal-hal yang mendekatkan kita kepada Allah.
Rasa ingin tahu yang bernilai ibadah selalu dimulai dengan pertanyaan, "Apa hikmah Allah di balik semua ini?" Mengapa langit begitu luas? Mengapa manusia diciptakan berbeda-beda? Mengapa ujian datang silih berganti? Mengapa ilmu terus berkembang? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini bukan hanya memperluas wawasan, tetapi juga memperhalus jiwa. Semakin banyak seseorang menemukan hikmah Allah, semakin mudah ia bersyukur, bersabar, dan bertawakal.
Sebaliknya, salah satu tanda matinya semangat ilmu adalah ketika seseorang merasa dirinya sudah tahu segalanya. Kesombongan intelektual adalah awal dari kebodohan. Orang yang berhenti bertanya akan berhenti belajar. Orang yang berhenti belajar akan berhenti bertumbuhkembang. Padahal setiap hari Allah membuka tabir-tabir pengetahuan baru bagi hamba-hamba-Nya yang rendah hati. Oleh sebab itu, seorang mukmin sejati tidak pernah kehilangan rasa takjub. Semakin tinggi ilmunya, semakin ia menyadari bahwa lautan ilmu Allah tidak akan pernah habis diselami.
Hijrah ilmu pada bulan Safar ini adalah berhijrah dari rasa penasaran menuju rasa ingin tahu yang bernilai ibadah. Kita belajar bukan sekadar untuk memuaskan akal, tetapi untuk menenangkan hati. Kita bertanya bukan untuk membantah, tetapi untuk memahami. Kita meneliti bukan untuk mencari ketenaran, tetapi untuk menghadirkan kemaslahatan. Ketika rasa ingin tahu diarahkan kepada Allah, setiap langkah mencari ilmu berubah menjadi ibadah yang bernilai di sisi-Nya.
Maka sudah layak kita bermuhasabah. Apakah selama ini pertanyaan-pertanyaan kita semakin mendekatkan diri kepada Allah, atau justru hanya memuaskan ego intelektual? Apakah kita masih memiliki kerendahan hati untuk berkata, "Saya belum tahu, tolong ajarkan saya"? Jangan sampai usia bertambah, gelar bertambah, pengalaman bertambah, tetapi rasa ingin tahu untuk mengenal Allah justru semakin berkurang. Sebab selama seorang hamba masih ingin belajar karena Allah, selama itu pula pintu-pintu hikmah akan terus dibukakan untuknya.
Kita bernohon agar Allah, menganugerahi kita, hati yang selalu haus akan ilmu yang bermanfaat; menjadikan rasa ingin tahu sebagai jalan untuk semakin mengenal kebesaran-Nya, bukan sebagai jalan menuju kesombongan. Kita memohon agar dibukakan pintu-pintu hikmah-Mu, dibimbing dengan cahaya wahyu, dan menjadikan setiap ilmu yang kita peroleh sebagai bekal untuk menperkuat iman, beribadah yang khusyuk, beramal saleh, serta menghadirkan manfaat bagi sesama.