Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.054
Selasa, 6 Safar 1448
Bahagia Dianugerahi Kemampuan Membaca
Saudaraku, sebagian besar kita pasti sudah mengetahui bahwa pada malam 17 Ramadan, sekitar tahun 610 M, di Gua Hira, Muhammad al-Amin saat berkhalwat mencari makna kehidupan, turun wahyu pertama. Saat itu tiba-tiba Malaikat Jibril datang memeluk beliau seraya berkata, "Iqra'!" (Bacalah!) Muhammad al-Amin menjawab, "Mā ana biqāri'" – "Aku tidak dapat membaca." Perintah itu diulang hingga tiga kali, lalu turunlah wahyu pertama: "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan..." (QS. Al-'Alaq: 1–5).
Peristiwa itu menandai bi'tsah Nabi Muhammad saw. Menariknya, Allah memulai risalah Islam bukan dengan perintah bekerja, berperang, berdagang, atau memimpin, melainkan dengan perintah membaca. Seolah-olah Allah ingin menegaskan bahwa perubahan besar dalam sejarah manusia selalu diawali oleh lahirnya budaya membaca, budaya literasi.
Muhasabah beberapa hari terakhir telah mengingatkan kita tentang pentingnya mencintai ilmu, meluruskan niat, menjadikan wahyu sebagai sumber ilmu, menemukan Allah dalam setiap pengetahuan, dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang bernilai ibadah. Maka muhasabah hari ini kita berikhtiar mensyukuri satu nikmat yang sering terlupakan, yaitu kemampuan membaca. Sebab membaca bukan sekadar keterampilan merangkai membunyikan huruf-huruf, melainkan karunia Allah yang membuka pintu ilmu pengetahuan, hikmah, dan pilar peradaban.
Secara filosofis, membaca adalah jembatan antara ketidaktahuan dan kebijaksanaan. Dengan membaca, seseorang dapat melintasi batas ruang dan waktu. Ia dapat belajar dari para nabi, para sahabat, para ulama, para ilmuwan, bahkan dari pengalaman orang-orang yang hidup ribuan tahun sebelum dirinya. Membaca membuat umur manusia menjadi lebih panjang daripada usianya sendiri, karena ia mewarisi pengalaman banyak generasi. Itulah sebabnya, orang yang gemar membaca sesungguhnya sedang memperpangjang dan memperluas kehidupannya.
Maka Islam mengajarkan bahwa sesungguhnya membaca tidak hanya berarti membaca tulisan. Ada dua bacaan yang harus dilakukan seorang mukmin. Pertama, membaca ayat-ayat qauliyah, yaitu Al-Qur'an sebagai petunjuk hidup. Kedua, membaca ayat-ayat kauniyah, yaitu alam semesta (alam besar yang terbentang di jagad raya ini dan alam kecil yaitu manusia) sebagai tanda kebesaran Allah. Dengan membaca ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah itu, lahirlah manusia yang cerdas akalnya, lembut hatinya, dan bijaksana perilakunya.
Ironisnya, pada zaman yang dipenuhi informasi seperti sekarang ini, kadang budaya membaca justru sering bergeser menjadi budaya melihat secara sepintas; hanya membaca dengan matanya, tidak disertai hatinya. Apalagi, banyak orang yang lebih senang membaca judul lahiriyah daripada isi, lebih cepat menyebarkan daripada memahami, lebih mudah berkomentar daripada mendalami. Akibatnya, pengetahuan menjadi dangkal, sementara keyakinan sering kali terlalu dalam. Padahal membaca yang benar membutuhkan kesabaran, ketelitian, dan rasa takdhim ke ilmu, kerendahan hati untuk terus belajar.
Maka semangat hijrah ilmu pada bulan Safar ini adalah berhijrah dari sekadar melihat menjadi benar-benar membaca, dari membaca sekilas menjadi membaca dengan tadabbur, dari membaca untuk memahami, menjadi membaca untuk mengenal Allah. Setiap postingan di massmedia, setiap halaman buku yang kita buka hendaknya menjadi satu langkah mendekat kepada-Nya. Setiap ayat Al-Qur'an yang kita baca hendaknya memperhalus hati. Setiap ilmu yang kita pelajari hendaknya memperkuat iman dan memperbanyak amal shalih.
Maka sudah seyogyanya kita bermuhasabah. Sudahkah kita mensyukuri nikmat membaca dengan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat? Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk membaca Al-Qur'an dibandingkan membaca hal-hal yang melalaikan? Apakah koran, postingan yang berseliweran di hp kita. Berapa banyak buku yang telah mengubah cara berpikir dan akhlak kita? Jangan sampai Allah telah menganugerahkan kemampuan membaca, tetapi kita tidak menggunakannya untuk membaca tanda-tanda kebesaran-Nya.