Bahagia Mensyukuri Akal

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.056
Kamis, 8 Safar 1448

Bahagia Mensyukuri Akal
Saudaraku, dalam muhasabah beberapa hari terakhir telah mengingatkan kita bahwa ilmu dimulai dengan cinta, diluruskan dengan niat, dipandu oleh wahyu, diperkaya dengan rasa ingin tahu, dan dikembangkan melalui budaya membaca. Hari ini kita diajak untuk mensyukuri satu nikmat yang menjadi pintu semua itu, yaitu akal. Tanpa akal, manusia tidak mampu memahami wahyu, membaca alam, mengambil pelajaran dari sejarah, ataupun membedakan antara yang benar dan yang salah.

Ya, akal adalah amanah, bukan mahkota kesombongan. Allah tidak memberikan akal agar manusia merasa lebih tinggi daripada makhluk lain, tetapi agar ia mampu mengenali kebenaran dan memilih jalan yang diridhai-Nya. Akal adalah pelita yang menerangi perjalanan hidup, tetapi cahaya itu akan semakin terang jika disinari wahyu. Sebaliknya, akal yang berjalan sendiri tanpa petunjuk Allah dapat tersesat oleh kesombongan, hawa nafsu, atau kepentingan dunia.

Al-Qur'an berulang kali menggunakan ungkapan afalā ta'qilūn, "Tidakkah kalian berpikir?" Pertanyaan ini bukan sekadar ajakan berpikir, melainkan panggilan agar manusia memanfaatkan anugerah akalnya untuk merenungi tanda-tanda kebesaran Allah. Dalam pandangan Islam, berpikir adalah ibadah apabila mengantarkan hati kepada keimanan, melahirkan amal saleh, dan menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

Tentu harus diwaspadai sikap mengagungkan kecerdasan, tetapi melupakan kebijaksanaan. Kita bangga dengan kemampuan menghafal, menghitung, dan menganalisis, tetapi kurang bersyukur atas kemampuan menggunakan akal untuk mengambil keputusan yang benar. Padahal akal yang tidak disertai hati yang bersih dapat melahirkan berbagai penemuan yang hebat, tetapi juga dapat digunakan untuk tipu muslihat atau merusak, bahkan menghancurkan kehidupan. Oleh sebab itu, nikmat akal harus selalu disertai dengan syukur dan tanggung jawab. Akal bukan untuk memenangkan setiap perdebatan, melainkan untuk menemukan kebenaran. Akal bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk semakin merendahkan hati di hadapan Ilahi. Semoga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama