Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.052
Ahad, 4 Safar 1448
Bahagia Setiap Menperoleh Ilmu
Pada awal abad ke-9 Masehi, ketika Khalifah Al-Ma'mun memimpin Daulah Abbasiyah di Baghdad, berdirilah sebuah lembaga yang kelak menjadi mercusuar ilmu pengetahuan dunia, yaitu Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan). Di tempat ini berkumpul para ulama, ahli tafsir, fuqaha, filsuf, dokter, astronom, matematikawan, dan penerjemah dari berbagai bangsa. Buku-buku dari Yunani, Persia, India, hingga Mesir diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Khalifah Al-Ma'mun bahkan mengirim utusan ke berbagai negeri untuk mencari manuskrip-manuskrip terbaik agar khazanah ilmu pengetahuan semakin kaya. Baghdad pun menjelma menjadi pusat ilmu dunia. Barangkali ketika menyebut the golden of ages, maka itu terjadi pada masa ini.
Hebatnya, kejayaan Bait al-Hikmah tidak hanya terletak pada banyaknya buku atau kecanggihan pemikirannya. Di balik semangat keilmuan itu terdapat keyakinan bahwa di samping al-Qur'an sebagai kitab suci yang dipedomani, seluruh alam adalah ayat-ayat Allah yang layak dipelajari. Al-Qur'an dipedomani, alam diteliti, langit diteliti karena ia ciptaan Allah. Tubuh manusia dipelajari karena ia adalah tanda kekuasaan Allah. Peredaran bintang dihitung karena semuanya berjalan menurut sunnatullah. Itulah mengapa, bagi para ilmuwan Muslim pada masa itu, penelitian bukanlah upaya menjauh dari Allah, melainkan salah satu cara untuk semakin mengenalNya dan mendekat padaNya.
Muhasabah beberapa hari terakhir telah mengajarkan kita mencintai ilmu, meluruskan niat, dan menjadikan wahyu sebagai sumber ilmu. Hari ini kita diajak melangkah lebih dalam, yaitu semakin mendekat pada Allah di balik setiap ilmu pengetahuan yang kita peroleh. Sebab ilmu yang sejati bukan hanya menjawab pertanyaan "bagaimana" sesuatu terjadi, tetapi juga membangkitkan kesadaran "siapa" yang menciptakan keteraturan itu. Semakin luas ilmu seseorang, seharusnya semakin banyak pula tanda-tanda kebesaran Allah yang ia saksikan. Di sinilah rasa bahagia itu terus mrmbuncah.
Secara filosofis, alam semesta adalah kitab Allah yang terbentang sebagai ayat kauniyah, sedangkan Al-Qur'an adalah firman Allah yang tertulis sebagai ayat qauliyah. Yang satu dibaca dengan mata dan akal, yang lain dibaca dengan hati dan iman. Keduanya berasal dari sumber yang sama, sehingga tidak mungkin saling bertentangan. Ketika seorang ahli biologi mengagumi kompleksitas kehidupan, seorang astronom menyaksikan harmoni galaksi, seorang fisikawan menemukan keteraturan hukum alam, atau seorang pendidik melihat potensi luar biasa dalam diri manusia, sesungguhnya mereka sedang membaca ayat-ayat Allah dalam bentuk yang berbeda. Karena itu, puncak ilmu bukanlah kekaguman kepada ciptaan, tetapi ketundukan kepada Sang Pencipta.
Ironisnya, pada zaman modern tidak sedikit orang yang semakin bertambah ilmunya justru semakin berkurang rasa takdhimnya kepada Allah. Pengetahuan berhenti pada angka, rumus, teori, dan eksperimen, tetapi gagal melahirkan rasa syukur. Padahal ilmu yang kehilangan dimensi ketuhanan hanya akan melahirkan kecerdasan, bukan kebijaksanaan. Sebaliknya, ilmu yang dibimbing iman akan melahirkan ilmuwan yang rendah hati. Semakin banyak ia mengetahui, semakin ia menyadari bahwa ilmu manusia hanyalah setetes dari samudra ilmu Allah.
Hijrah ilmu pada bulan Safar adalah berhijrah dari mengagumi pengetahuan menuju mengagumi Pemilik segala pengetahuan. Setiap buku yang kita baca hendaknya menambah rasa syukur. Setiap penelitian yang kita lakukan hendaknya mempertebal iman. Setiap penemuan yang kita hasilkan hendaknya memperbesar manfaat bagi sesama. Itulah makna terdalam kedekatan kepada Allah melalui ilmu: bukan sekadar mengetahui lebih banyak, tetapi semakin mengenal, mencintai, dan memuliakan Allah melalui setiap pengetahuan yang dianugerahkan-Nya.
Maka kita layak bermuhasabah. Ketika kita mengajar, meneliti, berdiskusi, atau membaca, apakah hati kita semakin dekat kepada Allah? Ataukah ilmu hanya berhenti menjadi kebanggaan intelektual? Jangan sampai kita mengenal begitu banyak teori tentang alam, tetapi lupa mengenal Rabb pemilik alam. Sebab hakikat ilmu bukanlah memenuhi kepala dengan informasi, melainkan memenuhi hati dengan cahaya Ilahi Rabby. Aamiin