Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.020
Rabu, 2 Muharam 1448
Bahagia Mengenal Allah
Saudaraku, untuk bisa bertauhid secara murni sebagaimana diingatkan dalam muhasabah yang baru lalu, tentu mengenal Allah menjadi penting. Inilah latar muhasabah hari ini. Bermula dari sebuah kisah bahwa Umar bin Khattab pernah berpatroli pada malam hari di pinggiran Madinah. Dalam perjalanannya, beliau mendengar percakapan seorang ibu dengan anak perempuannya yang sedang menjual susu. Sang ibu meminta anaknya mencampurkan susu dengan air agar jumlahnya bertambah dan keuntungan lebih besar. Namun anak perempuan itu menolak. Ia berkata, "Amirul Mukminin memang tidak melihat kita, tetapi Allah, Tuhannya Amirul Mukminin melihat kita."
Kalimat sederhana itu mengguncang hati Umar. Gadis itu bukan seorang ulama besar, bukan pula pemimpin atau orang kaya. Namun ia memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga: ia mengenal Allah. Pengetahuannya tentang Allah bukan sekadar hafalan, melainkan kesadaran yang hidup di dalam hati. Ketika tidak ada manusia yang melihat, pengetahuan tentang Allah menjadi penjaga dirinya.
Dari kisah ini kita belajar bahwa mengenal Allah bukanlah sekadar mengetahui nama-nama-Nya, melainkan menghadirkan Allah dalam kesadaran hidup sehari-hari. Banyak orang mengetahui tentang Allah, tetapi belum tentu mengenal Allah. Sebagaimana seseorang bisa mengetahui nama seorang tokoh besar tanpa pernah mengenalnya secara mendalam, demikian pula banyak manusia mengetahui keberadaan Allah tetapi belum benar-benar mengenal-Nya.
Karena itu, setelah muhasabah pertama mengajak kita bertauhid dengan murni, langkah berikutnya adalah mengenal Allah lebih dekat. Sebab mustahil seseorang mencintai sesuatu yang tidak dikenalnya. Mustahil seseorang merindukan sesuatu yang tidak dipahaminya. Dan mustahil seseorang bersandar sepenuhnya kepada Allah jika ia belum mengenal siapa Allah yang menjadi tempat sandarannya.
Secara filosofis, seluruh kegelisahan manusia sering berawal dari ketidaktahuan tentang Allah. Ketika seseorang tidak mengenal Allah sebagai Ar-Razzaq, ia menjadi sangat cemas terhadap rezekinya. Ketika ia tidak mengenal Allah sebagai Al-Hafizh, ia terlalu takut menghadapi masa depan. Ketika ia tidak mengenal Allah sebagai Ar-Rahman dan Ar-Rahim, ia mudah berputus asa dari rahmat-Nya. Ketika ia tidak mengenal Allah sebagai Al-'Adl, ia merasa dunia ini tidak adil.
Sebaliknya, semakin seseorang mengenal Allah, semakin tenang kehidupannya. Bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena ia mengetahui bahwa di balik setiap masalah ada Allah, Tuhan Yang Maha Bijaksana. Ia tidak memahami semua rahasia kehidupan, tetapi ia mengenal Dzat yang mengatur kehidupan.
Mengenal Allah juga merupakan inti dari perjalanan hijrah. Ketika Rasulullah saw dan para sahabat berhijrah dari Makkah ke Madinah, sesungguhnya yang memberi mereka keberanian bukanlah kekuatan fisik atau jumlah pengikut yang banyak. Mereka berani berhijrah karena mengenal Allah. Mereka yakin bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan orang-orang yang berjuang di jalan-Nya.
Ketika Rasulullah bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq, musuh sudah berada sangat dekat. Namun Rasulullah berkata: Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." Kalimat ini lahir dari pengenalan yang mendalam terhadap Allah. Orang yang mengenal Allah tidak mudah panik. Orang yang mengenal Allah tidak mudah putus asa. Orang yang mengenal Allah memahami bahwa pertolongan Allah tidak selalu datang sesuai logika manusia, tetapi selalu datang pada waktu terbaik menurut hikmah-Nya.
Semangat hijrah yang kita masuki di awal Muharam ini pada hakikatnya adalah hijrah menuju pengenalan yang lebih dalam kepada Allah. Selama ini mungkin kita mengenal Allah hanya sebatas pelajaran. Kita mengenal-Nya dalam buku, ceramah, dan hafalan. Kini saatnya mengenal Allah melalui pengalaman hidup, melalui doa-doa yang dikabulkan, melalui ujian yang mendewasakan, melalui nikmat yang tak terhitung, dan melalui pertolongan yang sering datang tanpa diduga.
Mengenal Allah berarti membaca kehidupan dengan kacamata ketuhanan. Saat memperoleh nikmat, kita melihat kasih sayang Allah. Saat tertimpa musibah, kita melihat pendidikan Allah. Saat doa belum terkabul, kita melihat kebijaksanaan Allah. Saat kehilangan sesuatu, kita melihat bahwa Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang lebih baik atau lebih bermakna.
Semakin mengenal Allah, semakin kecil dunia di mata kita. Bukan karena dunia tidak penting, tetapi karena kita sadar bahwa dunia hanyalah sarana, bukan tujuan. Yang menjadi tujuan adalah Allah. Jabatan bisa hilang, harta bisa berkurang, kesehatan bisa menurun, manusia yang kita cintai bisa berpisah, tetapi Allah tetap ada. Karena itu, orang yang mengenal Allah memiliki sumber ketenangan yang tidak pernah habis.
Seyogyanya kita bertanya kepada diri sendiri pada hari kedua perjalanan spiritual ini. Seberapa jauh kita mengenal Allah? Apakah kita hanya mengenal nama-Nya, atau sudah mengenal sifat-sifat-Nya? Apakah kita hanya mengetahui keberadaan-Nya, atau sudah merasakan kehadiran-Nya dalam setiap peristiwa kehidupan?
Sesungguhnya seluruh perjalanan hidup seorang mukmin adalah perjalanan mengenal Allah. Semakin bertambah usia, seharusnya semakin bertambah pengenalannya kepada Allah. Semakin banyak pengalaman hidup, semakin banyak pula tanda-tanda kebesaran Allah yang disaksikannya.