Bahagia Bertauhid secara Murni

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.019
Selasa, 1 Muharam 1448

Bahagia Bertauhid Secara Murni
Saudaraku, di antara pesan dari keluarga Ibrahim yang tetap harus bersemi adalah kemurnian tauhid. Inilah mengapa di hari pertama bulan pertama di tahun baru 1448 hijriah ini muhasabah mengingatkan diri kembali tentang tanda kedekatan kita kepada Allah adalah bertauhid yang murni. 

Dikisahkan bahwa ketika Bilal bin Rabah disiksa oleh tuannya di padang pasir Makkah yang membakar tubuh, Bilal tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Tubuhnya ditindih batu besar, punggungnya terluka, kulitnya terbakar terik matahari, dan nyawanya berada di ujung penderitaan. Namun di tengah siksaan yang begitu berat, satu kalimat terus keluar dari lisannya: "Ahad... Ahad..." (Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Maha Esa). Bilal tidak sedang berdebat tentang teologi. Ia sedang mempertahankan sesuatu yang lebih berharga daripada hidupnya sendiri, yaitu tauhid, keimanannya yang menghunjam kuat di hatinya. Di saat manusia lain mungkin bisa mudah menyelamatkan diri dengan mengucapkan apa yang diinginkan para penyiksa, Bilal justru mempertahankan keyakinan bahwa hanya Allah satu-satunya tuhan yang berhak disembah. Dari situlah kita belajar bahwa kekuatan terbesar seorang mukmin bukanlah kekuatan fisik, melainkan kemurnian tauhid yang bersemayam dalam hati.

Tauhid adalah fondasi seluruh perjalanan spiritual manusia. Sebelum berbicara tentang shalat, puasa, sedekah, dakwah, atau amal saleh lainnya, pertanyaan pertama yang harus dijawab adalah: kepada siapa hati ini bersandar? Sebab seluruh amal pada akhirnya akan mengikuti arah hati. Jika hati tertuju kepada Allah, maka amal akan bernilai ibadah. Namun jika hati tertawan oleh selain Allah, maka amal yang besar sekalipun dapat kehilangan ruhnya.

Secara filosofis, tauhid adalah proses membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah. Banyak orang mengira bahwa syirik hanya berupa penyembahan berhala. Padahal berhala zaman modern sering kali tidak terbuat dari batu atau kayu. Ada yang menjadikan harta sebagai sesembahan, sehingga seluruh hidupnya hanya berputar pada uang. Ada yang menjadikan jabatan sebagai tuhan kecil dalam hidupnya, sehingga rela mengorbankan kebenaran demi kekuasaan. Ada yang menjadikan popularitas sebagai kiblat hidupnya, sehingga ukuran benar dan salah ditentukan oleh tepuk tangan manusia. Tauhid datang untuk membebaskan manusia dari seluruh belenggu itu.

Bahagia bertauhid dengan murni berarti menyadari bahwa tidak ada yang lebih besar daripada Allah. Ketika manusia meyakini hal ini dengan sungguh-sungguh, maka ketakutan terhadap dunia akan berkurang. Ia tidak terlalu takut kehilangan harta karena Allah adalah Ar-Razzaq. Ia tidak terlalu takut kehilangan kedudukan karena Allah adalah Al-Malik. Ia tidak terlalu takut menghadapi masa depan karena Allah adalah Al-Wakil yang mengatur segala urusan.

Dalam perjalanan hidup, manusia sering merasa gelisah karena menggantungkan kebahagiaannya kepada sesuatu yang fana. Ketika yang fana itu hilang, hilang pula ketenangannya. Namun orang yang bertauhid memahami bahwa seluruh makhluk bersifat sementara, sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Kekal. Karena itu, hatinya memiliki tempat bergantung yang tidak pernah runtuh.

Tahun Baru Hijriah sesungguhnya juga mengajarkan pelajaran tauhid yang sangat mendalam. Ketika Nabi Muhammad saw dan para sahabat berhijrah dari Makkah ke Madinah, beliau meninggalkan kampung halaman, harta benda, dan berbagai kenyamanan duniawi. Namun beliau tetap tenang karena yang beliau bawa bukan kekayaan materi, melainkan kekayaan tauhid. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi perpindahan orientasi hidup dari segala sesuatu menuju Allah.

Karena itu, memasuki 1 Muharam 1448 ini hendaknya menjadi momentum hijrah kemurnian tauhid dalam diri kita. Hijrah dari hati yang terlalu bergantung kepada manusia menuju hati yang bergantung kepada Allah. Hijrah dari pencarian pujian manusia menuju pencarian ridha Allah. Hijrah dari ketakutan terhadap dunia menuju keyakinan kepada kekuasaan Allah. Hijrah dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri menuju kehidupan yang berpusat pada penghambaan kepada-Nya.

Tauhid yang murni juga melahirkan ketenangan yang murni. Sebab orang yang mengenal Allah tidak akan merasa sendirian. Ketika manusia meninggalkannya, Allah tetap bersamanya. Ketika dunia mengecewakannya, Allah tetap membuka pintu rahmat-Nya. Ketika seluruh jalan tampak tertutup, Allah mampu membuka jalan yang tidak pernah dibayangkan manusia.

Maka awal perjalanan hari ini harus dimulai dari fondasi yang paling kokoh, yaitu tauhid. Sebab bangunan yang tinggi hanya dapat berdiri di atas pondasi yang kuat. Semakin tinggi seseorang ingin mendekat kepada Allah, semakin dalam ia harus menanamkan tauhid dalam hatinya.

Mari bertanya kepada diri sendiri pada awal tahun hijriah ini: siapakah yang paling memenuhi ruang hati kita? Allah atau dunia? Ridha Allah atau pujian manusia? Kepercayaan kepada Allah atau ketergantungan kepada makhluk? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan arah perjalanan hidup kita.

Ya Allah, di awal tahun hijriah ini, hijrahkanlah hati kami menuju tauhid yang lebih murni. Bersihkanlah hati kami dari segala bentuk syirik yang tampak maupun tersembunyi. Jadikanlah Engkau tujuan terbesar hidup kami, harapan terbesar kami, dan tempat bergantung kami dalam setiap keadaan. Karena sesungguhnya kebahagiaan yang sejati bukanlah ketika dunia berada dalam genggaman, tetapi ketika tauhid bersemayam dengan kokoh di dalam hati. Akhirnya Sri Suyanta dan keluarga menghaturkan Selamat tahun baru hijriah, 1 Muharam 1448 H. Semoga hijrah terbesar tahun ini bukan hanya perpindahan waktu, tetapi perpindahan hati menuju Allah. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama