Bahagia Menjadi "Ismail" yang Tak Suka Membantah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.016
Sabtu, 27 Dzulhijah 1447

Bahagia Menjadi “Ismail” yang Tidak Suka Membantah
Ssudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Ismail” yang tangguh menjalani kehidupan, maka hari ini kita diajak merenungkan satu sifat mulia yang semakin langka di zaman modern, yaitu kemampuan untuk mendengar, menerima nasihat, dan tidak banyak membantah. Keteladanan Ismail dalam hal ini sangat luar biasa. Ketika ayahnya, Ibrahim, menyampaikan perintah Allah yang sangat berat, Ismail tidak merespons dengan perdebatan, penolakan, atau kemarahan. Padahal secara manusiawi, beliau memiliki alasan untuk bertanya, memprotes, atau bahkan menolak.

Namun yang keluar dari lisannya justru kalimat yang penuh adab dan ketundukan: "Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."(QS. Ash-Shaffat: 102) Kalimat ini menunjukkan kematangan jiwa yang luar biasa. Ismail tidak menjadikan dirinya pusat dari segala sesuatu. Ia memahami bahwa ada kebenaran yang lebih tinggi daripada keinginan dirinya sendiri.

Secara filosofis, salah satu tanda kedewasaan seseorang adalah kemampuannya membedakan antara bertanya untuk mencari kebenaran dan membantah untuk memenangkan ego dirinya. Tidak semua pertanyaan adalah pembangkangan dan tidak semua perbedaan pendapat adalah kesalahan. Namun manusia sering terjebak dalam kebiasaan mempertahankan ego diri sehingga sulit menerima nasihat, bahkan dari orang-orang yang mencintainya.

Membantah pada dasarnya sering lahir dari keyakinan bahwa diri sendiri selalu lebih benar. Ketika ego menjadi pusat kehidupan, nasihat terdengar seperti ancaman, teguran terasa seperti penghinaan, dan arahan dianggap sebagai pembatas kebebasan. Akibatnya, manusia kehilangan salah satu pintu terbesar menuju kebijaksanaan, yaitu kerendahan hati untuk belajar dari orang lain.

Keteladanan Ismail mengajarkan bahwa mendengar bukanlah kelemahan. Justru orang yang mampu mendengar dengan baik biasanya memiliki kedewasaan yang lebih tinggi daripada orang yang selalu ingin didengar. Sebab mendengar membutuhkan kesabaran, pengendalian diri, dan penghormatan kepada orang lain.

Jika kita melihat fenomena anak-anak dan remaja masa kini, kita menemukan tantangan yang tidak ringan. Banyak anak tumbuh di era digital yang memberikan akses informasi tanpa batas. Ini tentu memiliki banyak manfaat. Namun di sisi lain, sebagian anak mulai merasa bahwa banyaknya informasi yang mereka miliki membuat mereka tidak lagi membutuhkan nasihat orang tua, guru atau lainnya. Mereka lebih percaya kepada media sosial daripada pengalaman ayah ibunya. Mereka lebih mudah mengikuti pendapat influencer daripada mendengar petuah keluarga.

Tidak sedikit orang tua yang mengeluh karena setiap nasihat selalu dibalas dengan bantahan. Ketika diingatkan untuk belajar, ada saja alasan. Ketika dinasihati tentang pergaulan, ada sanggahan. Ketika diingatkan tentang kerjaan membantu orangtua ada pembelaan diri. Bahkan kadang suara orang tua yang membesarkan mereka selama ini kalah oleh suara orang asing yang baru mereka kenal melalui layar ponsel.

Fenomena ini sesungguhnya bukan hanya masalah adab, tetapi juga masalah cara pandang terhadap kehidupan. Ketika seseorang merasa dirinya sudah mengetahui segalanya, maka pintu pembelajaran mulai tertutup. Padahal semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia menyadari betapa banyak hal yang belum diketahuinya.

Ismail mengajarkan bahwa kecerdasan harus berjalan bersama kerendahan hati. Beliau tentu memiliki akal dan kemampuan berpikir. Namun beliau juga memiliki adab kepada orang tua dan kepercayaan kepada nilai yang diajarkan keluarganya. Dari perpaduan itulah lahir kebijaksanaan.

Menjadi "Ismail" yang tidak banyak membantah bukan berarti menjadi pribadi yang pasif atau kehilangan daya kritis. Islam tidak melarang berpikir, bertanya, atau berdialog. Bahkan Al-Qur'an berkali-kali mengajak manusia menggunakan akalnya. Namun ada perbedaan besar antara dialog yang santun dan bantahan yang lahir dari kesombongan. Dialog mencari kebenaran, sedangkan bantahan sering hanya ingin memenangkan diri sendiri.

Dalam kehidupan keluarga, tidak semua keputusan orang tua akan sempurna. Orang tua juga manusia yang bisa salah. Namun selama mereka mengajak kepada kebaikan, adab tetap harus dijaga. Sebab keberkahan ilmu dan kehidupan sering kali lahir dari penghormatan kepada orang tua.

Secara psikologis, kebiasaan membantah terus-menerus juga dapat membuat seseorang sulit berkembang. Ia cenderung defensif terhadap kritik, sulit menerima masukan, dan selalu mencari pembenaran atas kesalahannya. Akibatnya, proses pendewasaan menjadi terhambat. Sebaliknya, orang yang mampu menerima nasihat dengan lapang hati akan lebih cepat belajar dari pengalaman hidup.

Di balik keteladanan Ismail, terdapat pelajaran bahwa manusia besar bukanlah manusia yang selalu menang dalam perdebatan, tetapi manusia yang mampu mengalahkan ego dalam dirinya sendiri. Sebab musuh terbesar manusia sering bukan orang lain, melainkan kesombongan yang bersembunyi di dalam hatinya, sehingga tak perlu nasihat.

Meski tidak semua nasihat akan menyenangkan untuk didengar, tetapi banyak nasihat yang menyelamatkan kehidupan. Dan tidak semua orang yang menegur kita adalah musuh. Terkadang, justru mereka yang berani menasihati adalah orang-orang yang paling peduli terhadap masa depan kita. Sebagaimana Ismail menjadi teladan karena bukan hanya cerdas dan saleh, tetapi juga memiliki adab yang tinggi kepada orang tuanya, maka demikian pula generasi hari ini akan menjadi generasi yang mulia apabila kecerdasan mereka berjalan beriringan dengan kerendahan hati dan penghormatan kepada orang tua.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama