Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.021
Kamis, 3 Muharam 1448
Bahagia Meyakini Keagungan Allah
Saudarakua, diceritakan pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, suatu ketika datang seorang utusan dari Kekaisaran Persia ke Madinah. Ia ingin menemui pemimpin yang kekuasaannya membentang dari Jazirah Arab hingga wilayah-wilayah yang sangat luas. Dalam bayangannya, seorang penguasa besar pasti tinggal di istana megah, dikelilingi pengawal dan kemewahan.
Namun setelah mencari ke sana kemari, ia menemukan Umar sedang tidur di bawah sebuah pohon kurma, beralaskan tanah, tanpa pengawal, tanpa singgasana, dan tanpa kemegahan duniawi. Melihat pemandangan itu, sang utusan tertegun lalu mengucapkan kalimat yang terkenal: "Engkau berlaku adil, maka engkau merasa aman, lalu engkau tidur."
Kisah tersebut mengandung pelajaran yang sangat dalam. Umar tidak menjadi kecil meskipun tidak memiliki kemegahan lahiriah, karena hatinya telah dipenuhi oleh keyakinan akan keagungan Allah. Ketika seseorang benar-benar mengagungkan Allah, maka dunia tidak lagi tampak besar. Harta, tahta dan popularitas tidak membuatnya sombong, dan dengan asbab tertentu kehilangan darinya tidak membuatnya duka yang berkepanjangan, apalagi stres. Ia memahami bahwa hanya Allah yang Maha Besar, sedangkan manusia hanyalah hamba yang lemah dan harta, tahta dan dunia hanya titipan.
Jika pada muhasabah pertama kita diajak bertauhid dengan murni, lalu pada muhasabah kedua kita diajak mengenal Allah, maka langkah berikutnya adalah meyakini keagungan Allah. Sebab seseorang tidak akan mampu mengagungkan Allah sebelum mengenal-Nya. Dan semakin dalam pengenalannya kepada Allah, semakin besar pula rasa takzim dan pengagungannya kepada-Nya.
Secara filosofis, banyak masalah manusia muncul karena salah dalam menentukan apa yang dianggap besar. Sebagian manusia menganggap harta sebagai sesuatu yang paling besar, sehingga seluruh hidupnya dihabiskan untuk mengejarnya. Sebagian menganggap jabatan sebagai sesuatu yang paling besar, sehingga rela mengorbankan prinsip demi mempertahankannya. Sebagian lagi menganggap manusia lain sebagai sesuatu yang paling besar, sehingga terlalu takut kepada makhluk dan melupakan Sang Pencipta.
Padahal hakikat tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang benar-benar Maha Besar. Segala sesuatu selain Allah adalah kecil, terbatas, dan fana. Gunung yang menjulang tinggi akan hancur suatu hari nanti. Lautan yang luas memiliki batas. Matahari yang begitu besar pun suatu saat akan padam. Bahkan seluruh alam semesta yang menakjubkan ini berada dalam kekuasaan Allah Yang Maha Agung.
Karena itu, orang yang meyakini keagungan Allah akan memiliki cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan. Ketika menghadapi masalah, ia tidak hanya melihat besarnya masalah, tetapi juga melihat kebesaran Allah yang menguasai masalah itu. Ketika menghadapi musuh, ia tidak hanya melihat kekuatan musuh, tetapi juga melihat kekuatan Allah yang jauh lebih besar. Ketika menghadapi masa depan yang tidak pasti, ia tidak hanya melihat ketidakpastian, tetapi juga melihat Allah yang mengendalikan seluruh kepastian dan ketidakpastian.
Inilah yang menjadi rahasia keteguhan para nabi dan orang-orang saleh. Mereka bukan manusia yang tidak memiliki masalah. Mereka juga merasakan ketakutan, kesedihan, dan penderitaan sebagaimana manusia lainnya. Namun yang membedakan mereka adalah keyakinan bahwa Allah jauh lebih besar daripada semua persoalan yang mereka hadapi.
Semangat hijrah yang sedang kita songsong pada awal Muharam juga berakar dari keyakinan akan keagungan Allah. Rasulullah meninggalkan Makkah bukan karena tidak mencintainya. Para sahabat meninggalkan kampung halaman bukan karena mudah melakukannya. Mereka mampu berhijrah karena dalam hati mereka Allah lebih besar daripada rasa takut kehilangan dunia.
Hijrah sejati selalu dimulai ketika Allah menjadi lebih besar daripada apa pun yang selama ini mengikat hati kita. Selama dunia masih tampak lebih besar daripada Allah, hijrah akan terasa berat. Selama pujian manusia masih tampak lebih besar daripada ridha Allah, perubahan akan terasa sulit. Namun ketika hati benar-benar meyakini keagungan Allah, maka segala pengorbanan di jalan-Nya akan terasa ringan.
Meyakini keagungan Allah juga melahirkan kerendahan hati. Semakin seseorang mengagungkan Allah, semakin ia menyadari betapa kecil dirinya. Ia tidak mudah sombong karena mengetahui bahwa seluruh kelebihan yang dimilikinya hanyalah titipan. Ilmunya adalah pemberian Allah. Jabatannya adalah amanah Allah. Hartanya adalah karunia Allah. Bahkan napas yang sedang dihirupnya pun adalah anugerah Allah.
Sebaliknya, ketika manusia lupa akan keagungan Allah, ia mulai membesarkan dirinya sendiri. Dari situlah lahir kesombongan, keangkuhan, dan berbagai penyakit hati lainnya. Ia merasa mampu tanpa Allah, padahal sesungguhnya seluruh hidupnya bergantung kepada Allah setiap saat. Seyogyanya kita bertanya kepada diri sendiri pada hari ketiga perjalanan spiritual ini. Apa yang paling besar dalam hati kita saat ini? Allah atau dunia? Ridha Allah atau penilaian manusia? Keagungan Allah atau kebesaran diri sendiri?
Sesungguhnya kualitas hidup seseorang sangat ditentukan oleh jawaban atas pertanyaan itu. Jika Allah menjadi yang paling besar dalam hatinya, maka segala sesuatu akan kembali pada ukuran yang semestinya. Dunia akan berada di tangannya, bukan di hatinya. Jabatan akan menjadi amanah, bukan kebanggaan. Harta akan menjadi sarana, bukan tujuan.
Maka kita pantas berdoa " Ya Allah, tanamkan dalam hati kami keyakinan yang kokoh akan keagungan-Mu. Jangan biarkan hati kami membesar-besarkan dunia dan mengecilkan kebesaran-Mu. Jadikan kami hamba yang selalu mengingat bahwa Engkau Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Mulia, dan Maha Mengatur seluruh kehidupan. Bimbinglah kami dalam semangat hijrah ini untuk semakin mengenal-Mu, mengagungkan-Mu, dan mendekat kepada-Mu". Mengapa ini perlu? Karena ketika Allah benar-benar menjadi Yang Maha Besar dalam hati kita, maka semua ketakutan menjadi lebih kecil, semua kesedihan menjadi lebih ringan, dan semua perjalanan hidup menjadi lebih bermakna.