Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.017
Ahad, 28 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Ismail” yang Tidak Jadi Beban Keluarga
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Ismail” yang tidak banyak membantah, maka hari ini kita diajak merenungkan satu sifat mulia yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan keluarga, yaitu menjadi anak yang tidak membebani keluarga. Keteladanan Ismail bukan hanya terlihat pada ketaatannya kepada Allah, tetapi juga pada kemampuannya menjadi penyejuk hati bagi kedua orang tuanya, tidak membenani keluarga. Kehadirannya bukan menambah masalah, melainkan menjadi sumber kebahagiaan, penguat harapan, dan penolong dalam kehidupan.
Al-Qur'an menggambarkan Ismail sebagai seorang anak yang telah mencapai usia mampu membantu ayahnya. Allah berfirman: "Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim..." (QS. Ash-Shaffat: 102). Ayat ini mengandung makna yang sangat dalam. Ismail tidak tumbuh menjadi anak yang hanya menuntut hak, tetapi juga belajar mengambil bagian dalam tanggung jawab kehidupan. Ia hadir sebagai anak yang membantu, bukan yang membebani.
Tentu, kedewasaan seorang anak - dan kita semua adalah anak dari orang tua kita - tidak diukur semata-mata oleh usia, kemampuan berbicara atau capaian harta tahta dan gelar akademik, tetapi oleh kesadarannya bahwa hidup ini bukan hanya tentang menerima, melainkan juga memberi. Saat anak-anak kita mungkin selalu bertanya, "Apa yang bisa aku dapatkan?" Sedangkan jiwa yang mulai dewasa akan bertanya, "Apa yang bisa aku berikan?"
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali orang tua memikul beban yang tidak terlihat oleh anak-anaknya. Mereka memikirkan kebutuhan hidup, kebutuhan dasar, biaya pendidikan, kesehatan keluarga, kebutuhan rumah tangga, masa depan kita anak-anaknya, dan berbagai persoalan yang terkadang mereka simpan sendiri agar tidak membebani keluarga. Banyak sekali seorang ayah yang tersenyum di hadapan anak-anaknya padahal di kepala sedang berkecamuk memikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan esok hari. Banyak ibu yang terlihat tenang padahal diam-diam menyimpan kelelahan yang tidak pernah diceritakan. Banyak orang tua yang "puasa" menahan diri dari buanyak hal demi terpenuhi kebutuhan snak-anaknya.
Karena itu, salah satu bentuk kesalehan seorang anak adalah kemampuan membaca beban dan pengorbanan yang tidak terucapkan. Tidak menunggu orang tua meminta bantuan, tetapi peka terhadap apa yang mereka rasakan. Tidak menunggu orang tua mengeluh, tetapi berusaha menjadi bagian dari solusi.
Di zaman sekarang, tidak sedikit anak yang tanpa sadar justru menjadi beban tambahan bagi orang tuanya. Mereka menuntut banyak hal tetapi kurang menghargai perjuangan orang tua. Mereka mudah meminta, tetapi sulit berterima kasih. Mereka cepat menyalahkan, tetapi lambat memahami. Bahkan ada yang menghabiskan waktunya dalam kemalasan, sementara orang tuanya bekerja keras dari pagi hingga malam.
Lebih menyedihkan lagi, sebagian anak merasa bahwa semua yang diberikan orang tua adalah sesuatu yang wajar dan memang seharusnya demikian. Mereka lupa bahwa di balik setiap fasilitas yang dinikmati, ada keringat yang menetes, ada doa yang dipanjatkan, ada pengorbanan yang tidak pernah diceritakan.
Ismail mengajarkan kepada kita bahwa anak yang baik adalah anak yang berusaha mengurangi kesulitan orang tuanya. Bila belum mampu membantu secara materi, ia membantu dengan akhlak yang baik. Bila belum mampu memberi banyak, ia setidaknya tidak menambah masalah. Bila belum mampu membahagiakan dengan prestasi besar, ia membahagiakan dengan sikap yang santun dan penuh penghormatan.
Sesungguhnya tidak ada hadiah yang lebih membahagiakan bagi orang tua selain melihat anak-anaknya tumbuh menjadi pribadi yang saleh, bertanggung jawab, dan berbakti. Banyak orang tua yang tidak mengharapkan balasan apa pun atas pengorbanannya. Mereka hanya ingin melihat anak-anaknya hidup baik, hidup benar, dan hidup bermakna.
Secara psikologis, anak yang belajar meringankan beban orang tua akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih matang. Ia belajar empati, tanggung jawab, dan kepedulian. Ia tidak hidup dalam dunia yang hanya berpusat pada dirinya sendiri. Ia memahami bahwa setiap manusia hidup dalam jaringan kasih sayang dan pengorbanan yang saling terhubung.
Lebih jauh lagi, kemampuan meringankan beban orang tua merupakan latihan awal untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi masyarakat. Anak yang terbiasa membantu keluarganya akan lebih mudah membantu lingkungannya. Anak yang peka terhadap kesulitan orang tuanya akan lebih mudah peka terhadap penderitaan orang lain.
Dalam perspektif spiritual, meringankan beban orang tua bukan hanya perbuatan sosial, tetapi juga ibadah. Setiap senyum yang lahir karena bakti seorang anak, setiap beban yang berkurang karena bantuan anaknya, dan setiap doa yang terucap dari hati orang tua yang bahagia dapat menjadi jalan datangnya keberkahan hidup.
Mungkin hari ini kita perlu bertanya kepada diri sendiri dengan jujur. Apakah kehadiran kita selama ini menjadi penyejuk atau justru penambah beban bagi orang tua? Apakah mereka lebih banyak tersenyum karena kita atau justru lebih banyak menangis karena sikap kita? Apakah kita sudah berusaha memahami perjuangan mereka atau masih sibuk menuntut tanpa henti?
Dengan demikian, bahagia menjadi “Ismail” yang meringankan beban orang tua adalah ketika hati mampu berkata: Ya Allah, jangan jadikan aku anak yang hanya pandai meminta. Jadikan aku anak yang pandai berterima kasih. Jangan jadikan aku anak yang menambah kesedihan orang tua. Jadikan aku anak yang menjadi penyejuk hati mereka. Dan jangan biarkan mereka menua dalam kelelahan sementara aku masih sibuk memikirkan diriku sendiri."
Sebab salah satu ukuran keberhasilan hidup bukanlah seberapa tinggi jabatan yang diraih, seberapa banyak harta yang dikumpulkan, atau seberapa besar popularitas yang dimiliki. Salah satu ukuran keberhasilan hidup adalah ketika orang tua dapat tersenyum bangga, tenang, dan bersyukur karena kehadiran kita dalam hidup mereka. Itulah kebahagiaan yang tidak dapat dibeli oleh apa pun di dunia ini, dan itulah salah satu warisan terindah dari keteladanan Ismail.