Bahagia Lantaran Allah sebagai Tujuan Hidup

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.022
Jumat, 4 Muharam 1448

Bahagia Lantaran Allah sebagai Tujuan Hidup
Saudaraku, dikisahkan bahwa Salman Al-Farisi lahir dari keluarga terpandang di Persia (Iran). Ayahnya mencintainya dan menyiapkan masa depan yang baik baginya. Ia memiliki kedudukan, kenyamanan, dan segala fasilitas yang diinginkan banyak orang. Namun di dalam hatinya tumbuh kegelisahan yang tidak dapat dijawab oleh kemewahan dunia. Ia merasa bahwa hidup ini pasti memiliki tujuan yang lebih tinggi daripada sekadar makan, bekerja, kaya, lalu mati.

Kegelisahan itu mendorongnya melakukan perjalanan panjang mencari kebenaran. Ia meninggalkan kampung halamannya, berpindah dari satu negeri ke negeri lain, berguru kepada banyak agamawan, menghadapi kesulitan, bahkan pernah menjadi budak. Bertahun-tahun ia mencari arah hidup yang benar hingga akhirnya Allah mempertemukannya dengan Rasulullah di Madinah. Saat itulah pencariannya menemukan jawabannya.

Kisah Salman mengajarkan bahwa manusia dapat memiliki banyak hal duniawiyah, tetapi hati merasa kosong jika belum menemukan tujuan hidup yang sejati. Sebaliknya, seseorang dapat kehilangan banyak hal, tetapi tetap merasa bahagia jika telah menemukan untuk apa ia hidup.

Jika pada muhasabah pertama kita diajak bertauhid dengan murni, kemudian mengenal Allah, lalu meyakini keagungan Allah, maka langkah berikutnya adalah menjadikan Allah sebagai tujuan hidup. Sebab tauhid yang benar akan melahirkan pengenalan kepada Allah, pengenalan akan melahirkan pengagungan kepada Allah, dan pengagungan akan mengantarkan hati menjadikan Allah sebagai tujuan tertinggi dalam seluruh perjalanan hidup.

Secara filosofis, kehidupan manusia selalu bergerak menuju sesuatu. Tidak ada manusia yang hidup tanpa tujuan. Ada yang menjadikan harta sebagai tujuan hidupnya. Ada yang menjadikan jabatan sebagai tujuan hidupnya. Ada yang menjadikan popularitas sebagai tujuan hidupnya. Ada pula yang menjadikan kesenangan dan kenyamanan sebagai tujuan hidupnya.

Masalahnya, semua tujuan itu bersifat terbatas dan sementara. Harta tidak pernah benar-benar memuaskan. Jabatan tidak pernah benar-benar abadi. Popularitas tidak pernah benar-benar stabil. Kesenangan dunia tidak pernah benar-benar bertahan lama. Karena itu, siapa pun yang menjadikan dunia sebagai tujuan utama hidupnya akan terus berada dalam lingkaran kehausan yang tidak pernah selesai.

Allah mengingatkan dalam Al-Qur'an: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Al-Dzariyat 56). Ayat ini bukan sekadar menjelaskan kewajiban ibadah ritual, tetapi menjelaskan tujuan eksistensial manusia. Kita diciptakan untuk mengenal Allah, mengabdi kepada Allah, dan kembali kepada Allah. Dengan kata lain, Allah bukan hanya Tuhan yang disembah, tetapi juga tujuan akhir perjalanan hidup.

Menjadikan Allah tujuan hidup tidak berarti meninggalkan dunia. Nabi Muhammad saw, para sahabat, para ulama, dan para pemimpin besar Islam tetap bekerja, berdagang, berkebun, mengajar, memimpin, dan membangun peradaban. Namun mereka memahami bahwa semua aktivitas itu hanyalah sarana. Tujuannya tetap satu, yaitu mencari ridha Allah.

Karena itu, seorang pendidik yang mengajar dapat menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya. Seorang pedagang yang berdagang dapat menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya. Seorang pemimpin yang memimpin dapat menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya. Bahkan seorang ayah dan ibu yang mendidik anak-anaknya dapat menjadikan Allah sebagai tujuan hidupnya. Yang membedakan bukan pekerjaannya, tetapi orientasi hatinya.

Semangat hijrah yang kita gaungkan pada awal Muharam ini sesungguhnya adalah proses meluruskan kembali tujuan hidup. Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah bukanlah perjalanan untuk mencari kekayaan atau kekuasaan. Hijrah adalah perjalanan menuju tegaknya nilai-nilai Allah di muka bumi. Karena itu, hijrah bukan hanya perpindahan tempat, melainkan perpindahan orientasi.

Banyak orang berpindah rumah tetapi tidak berhijrah. Banyak orang berpindah pekerjaan tetapi tidak berhijrah. Banyak orang berganti tahun tetapi tidak berhijrah. Hijrah yang sesungguhnya adalah ketika tujuan hidup berubah dari mencari dunia semata menjadi mencari ridha Allah.

Di sinilah letak sumber kebahagiaan yang mendalam. Orang yang menjadikan Allah sebagai tujuan hidup tidak mudah kecewa oleh dunia. Ketika berhasil, ia bersyukur karena melihat keberhasilan sebagai karunia Allah. Ketika gagal, ia bersabar karena memahami bahwa Allah tetap menjadi tujuan akhirnya. Ketika dipuji, ia tidak mabuk pujian. Ketika dicela, ia tidak hancur oleh celaan. Sebab orientasinya bukan manusia, melainkan Allah.

Sebaliknya, orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidup akan sangat rapuh. Kebahagiaannya tergantung pada keadaan. Harga dirinya tergantung pada penilaian manusia. Ketenangannya tergantung pada banyaknya harta. Akibatnya, hidup menjadi mudah goyah.

Menjadikan Allah sebagai tujuan hidup juga memberikan makna kepada setiap peristiwa kehidupan. Kesuksesan menjadi sarana syukur. Kegagalan menjadi sarana belajar. Nikmat menjadi sarana mendekat kepada Allah. Musibah menjadi sarana membersihkan dosa. Bahkan usia yang terus bertambah menjadi sarana memperbanyak bekal menuju akhirat.

Pada hari keempat bulan Muharam ini, seyogyanya kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: untuk apa sebenarnya kita hidup? Apa yang sedang kita kejar setiap hari? Apa yang paling memenuhi pikiran kita ketika bangun pagi dan sebelum tidur malam? Jika jawaban-jawaban itu masih terlalu banyak berputar pada dunia, maka awal Muharam ini adalah saat yang tepat untuk berhijrah. Bukan berhijrah meninggalkan dunia, tetapi berhijrah menempatkan dunia pada posisi yang semestinya. Dunia menjadi kendaraan, bukan tujuan. Dunia menjadi ladang, bukan kampung halaman. Dunia menjadi sarana menuju Allah, bukan pengganti Allah. 

Maka pantas kita memohon "ya Allah, di awal tahun hijriah ini, luruskan kembali arah perjalanan hidup kami. Jangan biarkan kami tersesat dalam hiruk-pikuk dunia hingga melupakan tujuan utama penciptaan kami. Jadikan Engkau tujuan terbesar yang kami cari, ridha-Mu sebagai cita-cita tertinggi kami, dan perjumpaan dengan-Mu sebagai kerinduan terdalam kami. Sebab ketika Allah menjadi tujuan hidup, setiap langkah memiliki makna, setiap amal memiliki arah, setiap ujian memiliki hikmah, dan setiap perjalanan menjadi jalan menuju kebahagiaan yang hakiki.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama