Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.025
Senin, 7 Muharam 1448
Bahagia Merasakan Kehadiran Allah
Saudataku, ketika Rasulullah dan para sahabat berhijrah meninggalkan Makkah menuju Madinah, mereka tidak hanya meninggalkan rumah, keluarga, dan harta benda, tetapi juga memasuki masa depan yang belum pasti. Tidak ada jaminan kemudahan, tidak ada kepastian keberhasilan, dan tidak ada kepastian keselamatan. Namun mereka tetap melangkah dengan hati yang tenang. Mengapa? Karena mereka tidak merasa berjalan sendirian, tapi mereka merasakan kehadiran Allah dalam setiap langkah hijrahnya. Puncak pengalaman ini tampak ketika Rasulullah berada di Gua Tsur bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dalam situasi yang sangat genting, Rasulullah berkata, "Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS. At-Taubah 40). Inilah puncak ketenangan seorang mukmin: merasakan kehadiran dan kebersamaan dengan Allah.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak merasa diawasi Allah, maka hari ini kita melangkah lebih jauh, yaitu merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita. Merasa diawasi Allah melahirkan kehati-hatian dalam beramal. Merasakan kehadiran Allah melahirkan ketenangan dalam menjalani kehidupan.
Secara manusiawi, salah satu sumber terbesar kegelisahan manusia adalah perasaan sendirian. Ketika menghadapi masalah, ia merasa memikul semuanya sendiri. Ketika menghadapi ujian, ia merasa tidak ada yang memahami dirinya. Ketika menghadapi masa depan, ia merasa berjalan tanpa teman. Dari sinilah lahir kecemasan, ketakutan, dan keputusasaan.
Nah bagi seorang mukmin tidak pernah benar-benar sendirian. Allah lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. Allah mengetahui tangis dan air mata yang tidak dilihat manusia. Allah mendengar doa yang tidak terdengar oleh siapa pun. Allah memahami luka yang tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata.
Merasakan kehadiran Allah bukan berarti melihat Allah dengan mata, tetapi menyadari bahwa Allah selalu membersamai kehidupan kita dengan ilmu, rahmat, dan pertolongan-Nya. Ketika mendapatkan nikmat, kita melihat jejak kasih sayang Allah. Ketika menghadapi musibah, kita melihat jejak hikmah Allah. Ketika doa dikabulkan, kita melihat kemurahan Allah. Ketika doa belum dikabulkan, kita tetap melihat kebijaksanaan Allah.
Semangat hijrah pada bulan Muharam mengajarkan bahwa perubahan hidup akan terasa lebih ringan ketika dilakukan bersama Allah. Banyak orang gagal berhijrah karena merasa berjuang sendirian. Mereka hanya mengandalkan kekuatan diri yang terbatas. Namun orang yang merasakan kehadiran Allah akan menemukan sumber kekuatan yang tidak pernah habis.
Hijrah dari kebiasaan buruk menuju kebiasaan baik membutuhkan kehadiran Allah. Hijrah dari kelalaian menuju ketaatan membutuhkan kehadiran Allah. Hijrah dari hati yang gelisah menuju hati yang tenang juga membutuhkan kehadiran Allah. Karena itu, semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin kuat pula kemampuannya untuk berubah menjadi lebih baik.
Mungkin selama ini kita lebih sering merasakan kehadiran masalah daripada kehadiran Allah. Kita lebih fokus pada beratnya ujian daripada dekatnya pertolongan Allah. Kita lebih banyak menghitung kesulitan daripada menghitung nikmat-Nya. Muharam mengajak kita berhijrah dari kesadaran yang berpusat pada masalah menuju kesadaran yang berpusat pada Allah.