Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.024
Ahad, 6 Muharam 1448
Bahagia Merasa Diawasi Allah
Saudaraku, ketika para sahabat berhijrah dari Makkah ke Madinah, kaum Quraisy mengerahkan berbagai cara untuk menangkap Nabi. Jalan-jalan utama diawasi, hadiah besar 100 unta diumumkan bagi siapa saja yang berhasil menemukan beliau, dan para pencari jejak terbaik dikerahkan. Secara lahiriah, Rasulullah dan para sahabat berada dalam situasi yang penuh ancaman. Namun yang menarik, Nabi dan para sahabat tidak hanya merasa diawasi oleh orang-orang kafir, tetapi mereka tetap tenang. Karena sebagai orang-orang beriman, mereka merasa berada dalam pengawasan Allah, sehingga yakin perlindunganNya. Orang-orang beriman mengetahui bahwa tidak ada satu langkah pun yang luput dari pengetahuan Allah. Tidak ada satu ancaman pun yang berada di luar kekuasaan-Nya. Dan tidak ada satu pertolongan pun yang mustahil bagi-Nya.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak untuk bergantung hanya kepada Allah, maka hari ini kita belajar bahwa ketergantungan itu akan semakin kuat ketika kita merasa selalu diawasi oleh Allah. Sebab seseorang akan sulit bertawakal kepada Allah jika ia tidak menyadari kehadiran pengawasan Allah dalam hidupnya.
Secara filosofis, manusia bisa berubah perilakunya ketika merasa diawasi. Seorang pegawai bekerja lebih disiplin ketika atasannya hadir. Seorang siswa lebih tertib ketika gurunya berada di kelas. Seorang pengendara lebih hati-hati ketika melihat polisi di jalan. Namun semua pengawasan manusia memiliki keterbatasan. Ada saat manusia melihat, ada saat manusia lengah. Ada tempat yang terjangkau pandangan manusia, ada pula yang tersembunyi.
Berbeda dengan Allah. Pengawasan Allah tidak pernah terhalang oleh ruang dan waktu. Allah mengetahui apa yang kita lakukan di depan umum maupun ketika sendirian. Allah mengetahui apa yang kita ucapkan, apa yang kita pikirkan, bahkan apa yang tersimpan jauh di dalam hati.
Kesadaran inilah yang dalam tradisi Islam disebut ihsan, yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah, dan jika tidak mampu melihat-Nya, maka yakinlah bahwa Allah melihat kita. Ketika kesadaran ini hidup, seseorang tidak memerlukan banyak pengawasan eksternal. Ia menjadi penjaga bagi dirinya sendiri.
Orang yang merasa diawasi Allah akan tetap jujur meskipun tidak ada orang yang memeriksa. Ia tetap amanah meskipun tidak ada siapapun yang mengawasi. Ia tetap menjaga lisan dan perbuatannya meskipun tidak ada yang mengetahui. Bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena malu kepada Allah.
Semangat hijrah yang kita bangun pada awal Muharam juga mengandung dimensi pengawasan Allah. Hijrah bukan sekadar mengubah perilaku yang tampak, tetapi juga memperbaiki hati yang tersembunyi. Sebab perubahan yang hanya terlihat oleh manusia sering kali tidak bertahan lama. Namun perubahan yang lahir dari kesadaran bahwa Allah selalu melihat akan tumbuh lebih kokoh dan lebih ikhlas.
Mungkin selama ini kita lebih sibuk menjaga citra di hadapan manusia daripada menjaga kualitas diri di hadapan Allah. Kita khawatir jika manusia mengetahui kesalahan kita, tetapi kurang khawatir ketika Allah melihat kelalaian kita. Muharam mengajak kita berhijrah dari budaya pencitraan menuju budaya kesadaran spiritual.
Mari bertanya kepada diri sendiri: bagaimana keadaan kita ketika sendirian? Apakah kita tetap menjadi pribadi yang sama seperti ketika berada di hadapan banyak orang? Sebab kualitas iman seseorang sering kali tidak terlihat ketika ia berada di tengah keramaian, tetapi ketika ia berada dalam kesunyian. Ya di manapun kita diawasi Allah.
Dan orang yang merasa diawasi Allah tidak akan mudah tersesat. Ia mungkin tergelincir, tetapi segera kembali. Ia mungkin lemah, tetapi tidak akan jauh melangkah. Karena ia selalu sadar bahwa ada Allah yang melihat, membimbing, dan menantinya kembali ke jalan yang benar.