Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.023
Sabtu, 5 Muharam 1448
Bahagia Bergantung Hanya kepada Allah
Saudaraku, dalam pragmen hijrah dikisahkan ketika Rasulullah dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi di Gua Tsur, kaum Quraisy berhasil melacak hingga ke mulut gua. Abu Bakar sangat khawatir. Jika salah seorang dari mereka menundukkan pandangannya, niscaya mereka akan melihat Rasulullah dan Abu Bakar. Namun dalam situasi yang sangat genting itu, Rasulullah berkata: "Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita." (QS. At-Taubah: 40)
Kalimat itu lahir dari hati yang sepenuhnya bergantung kepada Allah. Saat hijrah, Rasulullah telah melakukan ikhtiar terbaik, menyusun strategi terbaik, memilih sahabat terbaik, dan menentukan waktu terbaik. Namun setelah semua usaha dilakukan, sandaran akhirnya tetap hanya kepada Allah.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjadikan Allah sebagai tujuan hidup, maka hari ini kita belajar bahwa tujuan hidup itu harus diiringi dengan ketergantungan kepadaNya jua. Sebab tidak cukup hanya mengetahui arah perjalanan, kita juga harus mengetahui kepada siapa kita bersandar selama perjalanan itu berlangsung.
Pada dasarnya, dalam satu sisi manusia adalah makhluk yang lemah. Namun sering merasa kuat karena kerabat, jabatan, ilmu, relasi, atau harta yang dimiliki. Padahal semua itu bisa berubah dalam sekejap. Sehat bisa menjadi sakit, kaya bisa menjadi miskin, berkuasa bisa menjadi biasa dan dipujapuji bisa menjadi dicaci dicela. Karena itu, menggantungkan hati kepada sesuatu yang berubah sering menjadi sumber kegelisahan.
Sebaliknya, Allah adalah Dzat Yang Maha Berkuasa, kekuasaan-Nya tidak berkurang, rahmat-Nya tidak habis, dan pertolongan-Nya tidak pernah terlambat. Orang yang bergantung kepada Allah tetap berikhtiar, tetapi tidak diperdaya oleh hasil. Ia bekerja keras, tetapi tidak menyembah pekerjaannya. Ia memanfaatkan sebab-sebab dunia, tetapi tidak menuhankan sebab-sebab itu.
Spirit hijrah yang sedang kita bangun di awal Muharam juga mengajarkan hal yang sama. Hijrah bukan hanya berpindah dari yang buruk menuju yang baik, tetapi juga memindahkan sandaran hati dari makhluk menuju Khalik. Dari bergantung kepada manusia menuju bergantung kepada Allah. Dari mengandalkan kekuatan diri menuju mengandalkan pertolongan-Nya.
Mungkin selama ini kita lebih banyak bergantung pada deposito daripada kepada Allah, lebih percaya pada koneksi daripada doa, lebih yakin pada kemampuan diri daripada pertolongan Allah. Karena itu, Muharam adalah momentum untuk berhijrah secara batin: mengembalikan hati kepada tempat sandaran yang sesungguhnya.
Maka bahagia bergantung hanya kepada Allah bukan berarti tidak membutuhkan manusia, tetapi tidak menggantungkan hati kepada manusia. Kita tetap bekerja sama dengan sesama, tetap menghormati mereka, dan tetap berterima kasih kepada mereka. Namun jauh di dalam hati, kita yakin bahwa segala kebaikan berasal dari Allah dan segala pertolongan hakikatnya datang dari Allah. Dan sesiapa yang memiliki Allah sebagai tempat bergantung, maka ia tidak pernah benar-benar sendirian. Dan sesiapa yang kehilangan Allah dari sandarannya, ia tidak akan pernah merasa cukup meskipun memiliki seluruh dunia.