Bahagia Mendidik Ukhuwah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3911
Selasa, 14 Ramadhan 1447

Bahagia Mendidik Ukhuwah
Saudaraku, Ramadhan bukan hanya mendidik hal-hal yang privasi individual, tetapi juga madrasah ukhuwah, tempat di mana hati-hati yang terpisah dipertemukan, yang renggang didekatkan, yang retak dipererat kembali. Dalam suasana lapar dan dahaga yang sama, kita diingatkan bahwa kita sejatinya satu tubuh, satu rasa, satu tujuan: meraih ridha Allah Ta’ala.

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10). Ayat ini bukan sekadar informasi, tetapi penegasan identitas: bahwa iman melahirkan persaudaraan. Maka setiap luka dalam ukhuwah sejatinya adalah luka dalam keimanan itu sendiri. Rasulullah saw juga bersabda: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh turut merasakan demam dan tidak bisa tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa indahnya Islam mengajarkan ukhuwah. Ia tidak hanya memadahi pada hubungan sosial biasa, tetapi menjelma menjadi ikatan ruhani yang melibatkan empati, kepedulian, dan tanggung jawab bersama.

Nah Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk merawat ukhuwah dalam tiga lingkaran besar: Pertama, ukhuwah Islamiyah atau meminjam ide Al-Afghani Pan-Islamisme,  persaudaraan eksternal sesama muslim sedunia, yang diikat oleh iman dan Islam. Umat Islam di manapun ibarat satu tubuh, satu luka karena dihina, diembargo, diperangi, didhalimi, dibom kita nerasakan sakit dan pedihnya.

Kedua, ukhuwah wathaniyah  atau nasionalisme, persaudaraan internal sebangsa dan setanah air, yang diikat oleh cinta tanah air dan tanggung jawab kebangsaan. Sebagai anak bangsa, meski berbeda ras, suku, bahasa, agama, kita harus menjaga ukhuwah untuk membangun negeri.

Ketiga, ukhuwah basyariyah (islamisme dalam makna rahmatan lil ‘alamin),  persaudaraan kemanusiaan universal, yang diikat oleh nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Kedzaliman, ketidakadilan dan penjajahan atas bangsa lain merupakan pelanggaran serius yang pelakunya layak diadili oleh mahkamah internasional bila ingin menghindari murka Tuhan.

Dalam perspektif ini, Ramadhan mendidik kita untuk tidak sempit dalam memaknai persaudaraan. Islam tidak mengajarkan eksklusivitas yang memecah, tetapi inklusivitas yang merangkul dalam bingkai kebenaran dan kasih sayang.

Allah berfirman: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…” (QS. Al-Hujurat: 13) Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk dipertemukan dalam harmoni.

Ramadhan mengajarkan kita untuk memperbaiki hubungan, bukan memperkeruh suasana. Ia mengajak kita menahan lisan dari menyakiti, dan menggerakkan hati untuk memaafkan.

Beberapa contoh praktis menjaga ukhuwah di bulan Ramadhan: Pertama, menyambung silaturahim. Mengunjungi keluarga, saudara, tetangga, atau minimal menyapa melalui pesan yang tulus. Kedua, shalat berjamaah dan berbuka puasa bersama. Momen-momen harian yang mampu mencairkan kebekuan dan menghangatkan hubungan. Ketiga, saling mendoakan. Mendoakan saudara tanpa sepengetahuannya adalah bentuk cinta yang paling murni. Keempat, menahan diri dari konflik.

Rasulullah bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: ‘Sesungguhnya aku sedang berpuasa.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima, memaafkan dan meminta maaf. Tidak menunda untuk membersihkan hati dari dendam dan luka. Keenam, gotong royong dalam kebaikan. Membersihkan masjid, membantu sesama, menyiapkan kegiatan ibadah bersama. Ketujuh, menjaga narasi dan sikap di ruang publik. Tidak menyebar hoaks, tidak memprovokasi, tidak saling menyudutkan karena ukhuwah bisa rusak oleh kata-kata yang tak terjaga.

Saudaraku, ukhuwah bukan sekadar kebersamaan fisik, tetapi kesatuan hati. Ia tumbuh dari keikhlasan, disuburkan oleh kebaikan, dan dijaga oleh ketakwaan. Ramadhan adalah saat di mana kita belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan hanya saat kita dekat dengan Allah, tetapi juga saat kita mampu mendekatkan diri dengan sesama dalam kebaikan.

Bahagia itu ketika hati kita lapang menerima perbedaan, tulus memaafkan kesalahan, dan ringan merangkul dalam persaudaraan. Semoga Ramadhan ini benar-benar mendidik kita menjadi pribadi yang menjaga ukhuwah dalam iman, dalam kebangsaan, dan dalam kemanusiaan. Karena dari ukhuwah yang terjaga, akan lahir kedamaian, kekuatan, dan keberkahan yang meluas. Dan di sanalah kita menemukan satu hakikat: bahwa menuju Allah tidak selalu sendiri, tetapi seringkali bersama dalam barisan ukhuwah yang kokoh dan penuh cinta. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama