Bahagia Mendidik Sikap Lemah Lembut dan Kasih Sayang

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3912
Rabu, 15 Ramadhan 1447

Bahagia Mendidik Sikap Lemah Lembut dan Kasih Sayang
Saudaraku, Ramadhan juga merupakan madrasah kasih sayang. Ia melembutkan hati yang keras, menenangkan jiwa yang gelisah, dan menumbuhkan kasih sayang di tengah kehidupan yang sering kali kurang empati. Dalam lapar dan dahaga, kita belajar merasakan kesulitan sesama; dalam ibadah, kita belajar mengasihi. Allah berfirman “Maka berkat rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan menjauh dari sekitarmu…”(QS. Ali ‘Imran: 159)

Ayat ini menegaskan bahwa kasih sayang dan kelembutan adalah kekuatan, bukan kelemahan. Ia adalah daya tarik yang mendekatkan, bukan menjauhkan. Dalam dakwah, dalam keluarga, dalam masyarakat kelembutan adalah pintu hati.Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun, Islam juga mengajarkan keseimbangan. Lemah lembut tidak berarti kehilangan prinsip. Kasih sayang tidak berarti membiarkan kebenaran diinjak-injak. Allah berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap tegas terhadap orang-orang yang memusuhi (kebenaran) dan berkasih sayang sesama mereka…”(QS. Al-Fath: 29)

Ayat ini bukan ajakan untuk kebencian, tetapi penegasan akan ketegasan sikap: bahwa seorang mukmin harus mampu menempatkan diri secara proporsional lembut dalam kasih sayang, tegas dan keras dalam menjaga prinsip, kehormatan agama dan kebenaran. Ketika dihina, diinjak, diperangi, dibom dan didhalimi, tentu wajib membela diri, mempertahankan harkat martabat, memperjuangkan kebenaran. Tentu, ketegasan di sini bukanlah sikap arogan, tetapi keteguhan berpegang pada prinsip yang berlandaskan hikmah, adab, dan keadilan.

Dalam suasana Ramadhan, kita sangat membutuhkan kelembutan dan kasih sayang. Karena luka tidak akan sembuh dengan kekasaran, dan hati tidak akan pulih dengan kemarahan. Lemah lembut itu menyembuhkan dan kasih sayang itu menguatkan. Namun, ketika ada pihak yang dengan sengaja merendahkan nilai-nilai suci, menghina agama, atau menzalimi sesama, maka Islam mengajarkan kita untuk bersikap tegass bukan dengan emosi yang liar, tetapi dengan sikap yang bermartabat, argumentasi yang kuat, dan akhlak yang tetap terjaga. Rasulullah saw adalah teladan terbaik: sangat lembut kepada umatnya, tetapi tegas dalam menjaga risalah.

Dalam praktik kehidupan Ramadhan, sikap lemah lembut dan kasih sayang dapat diwujudkan dalam hal-hal sederhana namun bermakna: Pertama, berbicara dengan santun. Menghindari kata-kata kasar, atsu yang berpotensi melukai, apalagi saat lapar dan lelah. Menjadikan lisan sebagai sumber kesejukan, bukan luka. Kedua, sabar menghadapi perbedaan. Baik dalam keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat. Tidak mudah tersulut emosi. Ketiga, peduli kepada yang lemah. Memberi makan orang yang berbuka, membantu yang kesulitan, menyantuni yang membutuhkan. Keempat, memaafkan kesalahan orang lain. Kelima, lembut dalam mendidik. Baik kepada anak, murid, maupun masyarakat. Karena hati lebih mudah menerima dengan kelembutan daripada dengan tekanan. Keenam, tegas dalam prinsip. Tidak ikut arus dalam keburukan, tidak diam terhadap kezaliman, tetapi menyikapinya dengan cara yang bijak, terukur, dan beradab.

Nah, Ramadhan mengajarkan kita satu rahasia besar: bahwa kekuatan sejati bukan pada kerasnya sikap, tetapi pada kemampuan mengendalikan diri. Dan kemuliaan sejati bukan pada kemenangan dalam perdebatan, tetapi pada keluhuran akhlak. Bahagia itu ketika kita mampu menjadi lembut tanpa lemah, dan tegas tanpa kasar. Bahagia itu ketika kasih sayang kita luas, tetapi prinsip kita tetap kokoh.

Semoga Ramadhan ini benar-benar mendidik kita menjadi pribadi yang penuh kasih, menebar kelembutan, sekaligus menjaga kehormatan agama dengan sikap yang bijak dan bermartabat. Karena pada akhirnya, kelembutan adalah jalan menuju hati manusia, dan ketegasan dalam kebenaran adalah jalan menuju ridha Allah Ta’ala. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama