Bahagia Mendidik Keistikamahan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3909
Ahad, 12 Ramadhan 1447

Bahagia Mendidik Keistikamahan
Saudaraku, setelah kita belajar tentang ketaatan, Ramadhan mengajarkan kita satu tingkatan yang lebih dalam dan lebih berat yakni keistikamahan atau konsistensi dalam ketaatan. Sebab taat itu mungkin sesaat, tetapi istikamah adalah menjaga ketaatan itu tetap hidup dalam kesinambungan waktu.

Istikamah adalah seni bertahan dalam kebaikan. Ia bukan tentang seberapa besar amal yang kita lakukan, tetapi seberapa ajeg atau konsisten kita menjaganya.Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka beristikamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati…”(QS. Fussilat: 30)

Ayat ini memberi kabar gembira bahwa istiqlkamah dalam keberimanannya menghadirkan ketenangan, keberanian, dan harapan. Ia menjadi tanda bahwa seseorang berada di jalan yang lurus. Rasulullah juga bersabda: “Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristikamahlah.” (HR. Muslim). Dalam hadits lain: “Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keistikamahan dalam ketaatan inilah yang mengjadi hakikat Ramadhan. Ia bukan hanya tentang banyaknya amal, tetapi tentang bagaimana amal itu berlanjut, mengakar, dan menetap dalam kehidupan kita. Tetap berpuasa, meski godaan kiri kanan menerpa, tetap shalat di tengah menghadapi ujian, tetap membaca Al-Qur’an di tengah kesibukan yang menyita, tetap berbagi meski kita juga dalam kekurangan dan seterusnya. Itulah istikamah yang sesungguhnya.

Secara praktis keistikamahan dalam menjalankan ibadah puasa lazim kita praktikkan yaitu pertama, istikamah dalam niat. Setiap hari kita memperbarui niat puasa bukan sekadar rutinitas, tetapi sebagai bentuk kesadaran spiritual yang terus menerus  bahwa kita sedang beribadah kepada Allah.

Kedua, istikamah dalam sahur dan berbuka sesuai sunnah. Tidak melewatkan sahur meski sederhana, dan berbuka dengan yang halal serta tidak berlebihan. Meski bukber, buka puasa bersama tetapi tidak kehilangan shalat magrib dan isya juga terawih berjamaah.

Ketiga, istikamah dalam shalat berjamaah.
Menjaga shalat lima waktu, ditambah tarawih, meski rasa malas atau lelah datang silih berganti.

Keempat, istikamah dalam tilawah Al-Qur’an.
Menetapkan target harian, walau sedikit, namun terus-menerus lebih baik satu halaman setiap hari daripada banyak tetapi terputus.

Kelima, istikamah dalam menjaga lisan dan hati. Menahan diri dari tidur berlebihan, game berlebihan, berbelanja berlebihan, berpakaian berlebihan, berbicara berlebihan, bercanda berlebihan, apalagi berkata kasar, ghibah, atau prasangka buruk.

Keenam, istikamah dalam berbagi. Tidak hanya semangat di awal, tetapi terus membantu sesama sepanjang Ramadhan, meski dengan hal kecil.

Ketujuh, istikamah dalam qiyamul lail. Menjaga shalat malam, walau hanya dua rakaat, tetapi dilakukan secara konsisten.

Istikamah adalah bukti kejujuran iman. Banyak orang mampu memulai, tetapi sedikit yang mampu menjaga. Dan istikamah juga adalah jalan menuju keberkahan. Amal yang sedikit namun terus dilakukan akan menumpuk menjadi gunung kebaikan yang besar.

Ramadhan melatih kita untuk membangun ritme kebaikan, ritme yang tidak hanya hidup selama satu bulan, tetapi berlanjut sepanjang kehidupan. Karena sejatinya, keberhasilan Ramadhan bukan diukur pada semangat di awalnya, tetapi pada keteguhan setelahnya. Maka bahagia itu bukan sekadar bisa beramal, tetapi bisa menjaga amal itu tetap hidup. Semoga Ramadhan ini mendidik kita menjadi pribadi yang istiqamah—yang tetap berdiri dalam ketaatan, tetap berjalan dalam kebaikan, dan tetap setia di jalan Allah, dalam kondisi apa pun.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama