Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3907
Jumat, 10 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Kebersahajaan
Saudaraku, setelah kita dididik dengan kehati-hatian pada muhasabah sebelumnya, maka Ramadhan yang kita jalani ini juga menuntun untuk merengkuh sikap yang lebih anggun, yakni kebersahajaan. Jika kehati-hatian menjaga langkah kita agar tidak jatuh atau tergelincir, maka kebersahajaan menjaga hati agar tidak meninggi membumbung dalam kesombongan.
Ramadhan adalah madrasah yang meluruhkan kemewahan yang berlebihan, menenangkan gejolak keinginan, dan mengembalikan manusia pada fitrahnya: hidup cukup, hidup sederhana, hidup bersahaja, sehingga hidup bisa lebih bermakna.
Allah Ta’ala berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan: 63) Ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan seorang hamba justru tampak dalam kebersahajaan sikapnya, tidak berlebihan, tidak bermegah-megahan, dan tidak terjebak dalam gemerlap dunia yang menipu. Rasulullah saw bersabda: “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. Ahmad)
Nah, di bulan Ramadhan, kebersahajaan bukan sekadar pilihan, tetapi menjadi jalan pendidikan ruhani yang sangat efektif. Kita diajarkan untuk merasakan lapar, bukan sekadar menahannya. Kita diajarkan untuk memahami kekurangan, bukan sekadar melihatnya. Ya agar kita bersahaja dalam menjalani hidup ini, sehingga dalam kebersahajaan itu, lahir empati. Dalam kesederhanaan itu, tumbuh kepekaan. Ya Ramadhan mengajarkan bahwa ternyata hidup tidak membutuhkan sebanyak yang kita inginkan. Inginnya banyak, tapi butuhnya hanya seperlunya saja.
Di antara contoh praktis kebersahajaan dalam ibadah puasa yang lazim dapat kita kukuhkan dalam praktik sehari-hari. Pertama, bersahaja dalam berbuka. Tentu, tidak harus mewah dan berlimpah. Ternyata dengan segelas air dan sebutir dua butir kurma sudah memadai sebagai pembuka keberkahan. Rasulullah saw mencontohkan berbuka dengan yang sederhana, namun penuh makna. Lalu bisa bersiap menunaikan shalat Magrib secara berjamaah. Usai shalat sunat rawatib setelah magrib dan berdoa, kita makan dengan makanan minuman yang halalan thayyiban dan tidak berlebih-lebihan.
Kedua, bersahaja dalam sahur. Kita tidak akan berlebihan dalam makan, meski sebentar lagi harus menahannya. Kita meraih keberkahan sahur agar lebih siap mengerjakan puasa. Jadi makan minum hanya sekadar bisa menegakkan tubuh, penguatan badan untuk ibadah.
Ketiga, bersahaja dalam berpakaian. Tentu kita tiidak perlu mencolok bermegah-megahan dalam penampilan, saat bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesama. Ketampanan dan kecantikan justru memihak pada kebersahajaan, ketulusan dan kehalusan budi pekertinya. Bila sudah terlanjur kaya dan memiliki pakaian yang mahal-mahal dan mewah rasanya hanya pantas kita kenakan saat shalat saat kita menghadap pada Allah ta'ala. Misalnya pas shalat sunah di kediaman masing-masing.
Keempat, sederhana dalam berbicara, termasuk membuat status dan postingan di sosial media. Mengurangi dan menyeleksi kata-kata yang tidak perlu. Lebih banyak diam yang bermakna daripada bicara yang sia-sia.
Kelima, sederhana dalam gaya hidup. Rasanya kita tidak perlu banyak gaya, agar hidup tak terbebani. Rasanya elok bila mampu mengurangi konsumsi yang berlebihan, menahan diri dari keinginan yang tidak mendesak, dan mengalihkan energi pada ibadah.
Keenam, qanaah alias sederhana dalam ekspektasi. Tidak menuntut terlalu banyak dari keadaan, tetapi menerima dengan syukur apa yang ada,
Ketujuh, sederhana dalam bersosial media. Kita musti memiliki kontrol diri yang kuat. Tidak perlu pamer kebaikan, tidak perlu memperlihatkan amal. Biarlah Allah yang menilai, bukan manusia.
Saudaraku, kebersahajaan sejatinya bukan tentang kekurangan, tetapi tentang kecukupan yang disadari. Orang yang sederhana bukan berarti tidak mampu, tetapi mampu menahan diri.
Dalam kondisi kita yang sedang menjalani proses pemulihan, kebersahajaan menjadi semakin relevan. Banyak yang kehilangan, banyak yang berkurang. Maka hidup sederhana bukan lagi sekadar pilihan, tetapi menjadi kebutuhan yang menenangkan.
Kebersahajaan juga melahirkan solidaritas. Ketika kita hidup sederhana, kita lebih mudah berbagi. Ketika kita tidak berlebihan, ada ruang untuk orang lain merasakan.
Ramadhan mengajarkan bahwa nilai hidup bukan pada seberapa banyak yang kita miliki, tetapi pada seberapa bijak kita mengelolanya. Maka bahagia itu bukan ketika kita mampu menghadirkan kemewahan dalam Ramadhan, tetapi ketika kita mampu menemukan ketenangan dalam kesederhanaan. Karena seringkali, justru dalam kesahajaan itulah Allah mendekatkan kita pada-Nya.
Ya, kita harus memastikan sikap kebersahajaan ini, agar ia tidak hanya menjadi tamu di bulan Ramadhan, tetapi menjadi karakter dalam kehidupan kita. Sebab hati yang sederhana lebih mudah khusyuk, lebih mudah bersyukur, dan lebih mudah merasakan kehadiran Allah dalam setiap denyut kehidupan.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3907