Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3908
Sabtu, 11 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Ketaatan
Saudaraku, setelah kita ditempa dalam kebersahajaan pada muhasabah sebelumnya, Ramadhan membawa kita naik satu tingkat lebih tinggi yakni ketaatan. Jika kebersahajaan melatih kita menahan diri dari yang berlebihan, maka ketaatan mengarahkan seluruh diri kita untuk tunduk sepenuhnya kepada kehendak Ilahi.
Ramadhan sejatinya bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan total untuk menjadi hamba yang taat dalam keadaan apapun; terlihat maupun tersembunyi, sendiri maupun saat ramai Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah melahirkan ketakwaan, dan inti dari takwa adalah ketaatan. Taat bukan karena diawasi manusia, tetapi karena merasa diawasi oleh Allah.
Makanya Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dari puasanya meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). Hadits ini mengingatkan bahwa ketaatan dalam Ramadhan harus menyeluruh, tidak parsial. Tidak cukup hanya menahan yang zahir, tetapi juga menjaga yang batin.
Saudaraku, ketaatan dalam Ramadhan adalah latihan integritas spiritual. Ia melatih kita untuk selaras antara niat, ucapan, dan perbuatan. Contoh-contoh praktis ketaatan dalam menjalankan ibadah puasa: pertama, taat pada waktu, menjaga sahur sebelum fajar, berbuka tepat waktu, dan tidak melanggar batas yang telah ditentukan Allah. Kedua, taat dalam menjaga yang membatalkan puasa dan pahalanya.
Bukan hanya menahan makan dan minum, tetapi juga menahan diri dari segala yang merusak nilai puasa seperti dusta, ghibah, dan amarah. Ketiga, taat dalam menegakkan shalat. Menjadikan shalat lima waktu, shalat sunat rawatib. dhuha, tarawih, dan ibadah malam sebagai prioritas, bukan sekadar pelengkap. Keempat, taat dalam membaca Al-Qur’an. Menjadikan tilawah sebagai rutinitas harian, bukan sekadar aktivitas yang sporadis. Kelima, taat dalam berbagi. Bersedia menyisihkan rezeki untuk membantu sesama.
Saudaraku, ketaatan adalah jalan menuju kemernangan sejati. Ketika kita taat kepada Allah, sesungguhnya kita sedang membebaskan diri dari belenggu hawa nafsu. Ketaatan juga melahirkan ketenangan. Hati yang taat tidak gelisah, karena ia tahu bahwa hidupnya berada dalam bimbingan Allah. Nah, Ramadhan mengajarkan bahwa ketaatan bukanlah beban, tetapi kebutuhan bahkan kelazatan jiwa. Sebab tanpa ketaatan, hidup kehilangan arah. Tanpa ketaatan, ibadah kehilangan makna.
Dan dalam setiap ketaatan, ada cinta. Karena tidak mungkin seseorang taat tanpa mencintai yang ditaati. Maka bahagia itu bukan ketika kita mampu melakukan banyak hal, tetapi ketika kita mampu taat dalam setiap keadaan. Semoga Ramadhan ini benar-benar mendidik kita menjadi hamba yang taat bukan hanya di bulan ini, tetapi juga setelahnya. Karena ketaatan yang sejati adalah yang terus hidup, bahkan ketika Ramadhan telah berlalu. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3908