Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Tahun Ke-12 Harian Ke-3910
Senin, 13 Ramadhan 1447
Bahagia Mendidik Kedermawanan
Saudaraku dalam sebuah hadits dari Ibnu ‘Abbas ra, beliau berkata: “Rasulullah saw adalah manusia yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan Al-Qur’an. Sungguh Rasulullah saw lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedermawanan Rasulullah saw bukan sekadar memberi, tetapi berbagi dengan keluasan hati, dengan kecepatan, dengan keikhlasan, dan tanpa perhitungan duniawi. Bahkan di bulan Ramadhan, kedermawanan itu meningkat seakan beliau ingin menebarkan rahmat seluas-luasnya, sebagaimana Allah melimpahkan rahmat-Nya di bulan penuh berkah ini.
Dari riwayat tersebut kita belajar bahwa Ramadhan adalah madrasah kedermawanan. Ia mendidik jiwa agar tidak kikir, tidak sempit, tidak terbelenggu oleh kecintaan berlebihan pada harta. Maka kita dimotivasi untuk berbagi. Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir; pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki…” (QS. Al-Baqarah: 261)
Ayat ini mengajarkan bahwa memberi bukanlah kehilangan, melainkan investasi yang berlipat ganda. Apa yang kita keluarkan di jalan Allah, sejatinya tidak pernah berkurang, justru bertambah, baik secara lahir maupun batin. Rasulullah saw juga bersabda: “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan dalam hadits lain: “Sedekah tidak akan mengurangi harta.”(HR. Muslim)
Kedermawanan adalah bukti keimanan, sekaligus jalan menuju keberkahan hidup. Dalam bulan Ramadhan, kedermawanan bukan hanya tentang memberi harta yang banyak, tetapi tentang membuka hati untuk peduli. Ramadhan mengajarkan kita bahwa meskipun dalam keterbatasan, kita tetap bisa berbagi.
Berikut beberapa contoh praktis kedermawanan di bulan puasa: Pertama, berbagi makanan berbuka. Memberi takjil, walau hanya sebutir kurma atau segelas air, karena Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Kedua, bersedekah setiap hari meski sedikit. Tidak menunggu kaya untuk memberi. Bahkan senyum, bantuan tenaga, dan perhatian juga bagian dari sedekah. Ketiga, membantu mereka yang kesulitan, baik dalam bentuk uang, bahan pokok, pakaian, atau sekadar membantu membersihkan memberikan motivasi. Keempat, memudahkan urusan orang lain. Membantu pekerjaan, atau mempermudah akses bagi yang membutuhkan. Kelima, berbagi ilmu dan kebaikan. Mengajarkan Al-Qur’an, mengingatkan dalam kebaikan, atau menyebarkan pesan-pesan yang menyejukkan. Keenam, memberi maaf. Sebab memaafkan juga bagian dari kedermawanan hati memberi kelapangan kepada orang lain.
Saudaraku, kedermawanan bukan hanya tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang apa yang kita rasakan. Hati yang dermawan akan selalu menemukan cara untuk memberi, bahkan ketika tangan terasa sempit sekalipun. Ramadhan melatih kita untuk melepaskan keterikatan pada dunia, dan menggantinya dengan keterikatan kepada Allah. Ketika kita memberi karena Allah, maka sesungguhnya kita sedang mendekat kepada-Nya.
Bahagia itu bukan saat kita mengumpulkan, tetapi saat kita mampu mengalirkan. Karena yang mengalir itulah yang hidup, yang memberi manfaat, dan yang akan kembali kepada kita dalam bentuk keberkahan. Semoga Ramadhan ini benar-benar mendidik kita menjadi hamba yang dermawan—ringan tangan, lapang dada, dan tulus memberi. Sebab dalam setiap pemberian, ada cinta kepada sesama, dan di dalamnya ada jalan menuju cinta Allah Ta’ala.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3910