Bahagia Bisa Mengikuti Pesan Nabi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3938
Senin, 11 Syawal 1447

Bahagia Bisa Mengikuti Pesan Nabi
Saudaraku, setelah bersilaturahim ke kediaman Nabi dan berinteraksi juga mendengarkannya, maka ada beberapa pesan yang beliau sampaikan untuk kita indahkan di bulan Syawal ini. Dan justru di sinilah terselip rasa bahagia yang tak terkira, karena bukan sekadar mengetahui, bukan hanya mengagumi, tetapi benar-benar melaksanakan pesannya dalam kehidupan.

Rasulullah saw tidak hanya meninggalkan kata-kata, tetapi meninggalkan keteladanan dalam meniti kehidupan. Jalan yang terang, yang menghubungkan dunia dengan akhirat, yang menuntun manusia menuju kebahagiaan sejati. Beliau bersabda: “Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara. Kalian tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya: Kitabullah dan sunnahku.” (HR. Malik). Dan mengindahkan pesan Nabi adalah jaminan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat.

Menjadikan Syawal sebagai awal pembuktian pendidikan Ramadhan.  Ramadhan telah berlalu, tetapi pesan Nabi tidak pernah berlalu. Justru di bulan Syawal, kecintaan kepada Nabi diuji: apakah kita tetap istiqamah, atau kembali kepada kelalaian? Allah berfirman: “Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu…” (QS. Ali ‘Imran: 31). Ayat ini menegaskan bahwa cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah saw.

Dengan demikian Syawal bukan lah bulan bereforia yang melalaikan. Ia adalah bulan kelanjutan amal, bulan pembuktian, dan bulan keseimbangan antara ibadah dan kehidupan. Di bulan Syawal kita dapat meneladani Nabi. Pertama, Puasa enam hari di Bulan Syawal Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti dengan enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.” (HR. Muslim). Ini adalah pesan produktivitas spiritual: ibadah tidak berhenti di Ramadhan, tetapi berlanjut.

Kedua, menjaga konsistensi amal. Aisyah menuturkan bahwa amalan Nabi adalah konsisten (istiqamah), tidak terputus. Rasulullah bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syawal menjadi ujian: apakah kita mampu menjaga ritme ibadah Ramadhan?

Ketiga, menikmati hal-hal yang halal dengan seimbang. Rasulullah saw menunjukkan bahwa setelah Ramadhan, umat Islam boleh kembali menikmati hal-hal yang halal, seperti makan, minum, dan kebahagiaan dunia, namun tetap dalam batas-batas kewajaran. Ini adalah pelajaran keseimbangan: tidak berlebihan, tidak pula lalai.

Keempat, mempererat jalinan silaturahim. Idul Fitri di awal Syawal menjadi momentum silaturahim. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim). Syawal adalah bulan merajut kembali hubungan yang mungkin sempat renggang.

Kelima, tetap aktif dalam dakwah dan kehidupan sosial. Rasulullah saw tidak berhenti berdakwah setelah Ramadhan. Bahkan dalam sejarah, beberapa peristiwa penting terjadi di bulan Syawal, seperti Perang Uhud. Ini menunjukkan bahwa Syawal adalah bulan kembali berkarya dan berjuang, bukan berleha-leha.

Keenam, menjaga akhlak mulia. Sepanjang hidupnya, Rasulullah saw tidak pernah melepaskan akhlak mulia baik di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Karena sejatinya, tujuan ibadah adalah membentuk akhlak.

Agar pesan Nabi benar-benar hidup dalam diri kita, berikut beberapa langkah nyata: Pertama, melaksanakan puasa Syawal sebagai tanda kesinambungan ibadah. Kedua, menjaga shalat tepat waktu dan berjamaah. Ketiga, melanjutkan tilawah Al-Qur’an walau tidak sebanyak Ramadhan, tetapi tetap rutin. Keempat, menjaga silaturahim, mengunjungi, menghubungi, dan memaafkan. Kelima, kembali produktif dalam pekerjaan. Bekerja dengan niat ibadah, jujur, dan profesional. Keenam, menjaga lisan dan akhlak. Tidak kembali pada kebiasaan buruk sebelum Ramadhan. Mengikuti pesan Nabi bukanlah beban, tetapi kebahagiaan. Karena di dalamnya ada petunjuk, ada cahaya, dan ada ketenangan.

Bahagia bukan karena kita selesai dari Ramadhan, tetapi karena kita mampu melanjutkan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan Syawal. Karena sejatinya, orang yang mencintai Nabi tidak hanya merindukan beliau, tetapi juga menjalani hidup sebagaimana yang beliau ajarkan. Dan ketika kita mampu mengikuti pesan Nabi meski perlahan, meski belum sempurna maka sesungguhnya kita sedang berjalan menuju satu kebahagiaan besar: dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Allāhumma shalli ‘alā Muhammad… jadikan kami termasuk orang-orang yang setia mengikuti pesan Nabi dalam setiap fase kehidupan kami.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama