Bahagia Menjadi Lebih Tangguh

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3939
Selasa, 12 Syawal 1447

Bahagia Menjadi Lebih Tangguh
Saudaraku, ada kebahagiaan yang lahir bukan dari kemudahan, tetapi dari ketangguhan. Bukan karena hidup tanpa ujian, tetapi karena mampu berdiri tegak di tengah ujian. Ramadhan telah melatih kita, menahan lapar, mengendalikan amarah, menguatkan sabar, dan menundukkan hawa nafsu. Namun ketika Syawal tiba, ujian yang sesungguhnya dimulai: apakah kita tetap kuat, atau kembali rapuh? Allah berfirman: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedangkan mereka belum diuji?”(QS. Al-‘Ankabut: 2). Ayat ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar pengakuan, tetapi harus melewati proses ujian.

Ketangguhan bukan bawaan lahir, tetapi hasil dari latihan ruhani yang panjang dan Ramadhan sudah memvasilitasinya. Karena, di bulan Syawsl ini, kita menghadapi dua medan perjuangan yang nyata: Tantangan internal berupa afsu dalam diri dan eksternal. Nafsu tidak pernah berhenti menggoda. Ia selalu mengajak pada kenyamanan, pada kelalaian, pada kesenangan sesaat. Allah mengingatkan: “Dan adapun orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41) Di sinilah ketangguhan diuji: mampukah kita menahan diri ketika tidak ada yang melihat?

Tantangan eksternal berupa dunia dan godaannya juga ujian. Rutinitas dunia kembali menyibukkan: pekerjaan, urusan keluarga, tekanan hidup, dan berbagai distraksi lainnya. Belum lagi godaan setan yang terus berusaha melemahkan semangat ibadah. Allah berfirman: “Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6)

Nah, ketangguhan berarti tetap teguh di jalan Allah meski dunia menarik ke arah sebaliknya. Maka Syawal msrupakan waktu untuk membuktikan ketangguhan itu. Jika Ramadhan adalah tempat pelatihan, maka Syawal adalah medan praktiknya. Rasulullah saw bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketangguhan bukan tentang melakukan kebaikan sesekali, tetapi tentang konsistensinya. Ketangguhan dalam Islam bukan hanya fisik, tetapi lebih dalam yaitu ketangguhan hati dan jiwa: tetap shalat tepat waktu di tengah kesibukan, tetap jujur di tengah godaan untuk curang, tetap sabar saat disakiti, tetap ikhlas saat tidak dihargai, tetap istiqamah meski tidak ada yang melihat. Inilah ketangguhan yang sesungguhnya:
teguh dalam ketaatan, lembut dalam akhlak.

Agar ketangguhan itu nyata, kita perlu melatihnya dalam kehidupan sehari-hari: pertama, melawan kemalasan dengan disiplin ibadah. Jaga shalat, dzikir, dan tilawah meski tidak lagi di bulan Ramadhan. Kedua, mengendalikan nafsu dengan kesadaran. Tidak semua keinginan harus dituruti. Ketiga, mengatur waktu di tengah kesibukan dunia. Jangan sampai dunia mengalahkan akhirat. Keempat, menjaga lingkungan yang baik. Berteman dengan orang-orang yang menguatkan iman. Kelima, memperbanyak doa. Karena ketangguhan sejati lahir dari pertolongan Allah.

Menjadi tangguh bukan berarti tidak pernah lelah, tetapi tetap berjalan meski lelah. Bukan berarti tidak pernah jatuh, tetapi selalu bangkit setiap kali jatuh. Bahagia bukan karena hidup tanpa ujian, tetapi karena kita mampu melewati ujian itu dengan iman.

Syawal adalah momentum: apakah kita kembali menjadi seperti sebelum Ramadhan, atau justru menjadi lebih kuat dari sebelumnya? Karena sejatinya, orang yang berhasil bukanlah yang paling kuat secara fisik, tetapi yang paling mampu menjaga istiqamah dalam kebaikan. Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang tangguh yang mampu menaklukkan nafsunya, menghadapi dunia dengan bijak, dan berjalan menuju-Nya dengan penuh keteguhan. Bahagia bukan karena hidup ini mudah, tetapi karena kita menjadi kuat di dalamnya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama