Bahagia Bisa "Berbicara" dengan Nabi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3937
Ahad, 10 Syawal 1447

Bahagia Bisa Berbicara dengan Nabi
Saudaraku, bila pada muhasabah yang baru kita "bersilaturahim" ke kediaman Nabi, maka  betapa bahagianya bila tidak sekadar melihat, tapi juga berbicara. Ya berbicara berinteraksi dengan Nabi, mendengar langsung nasihatnya. Namun, mungkinkah itu terjadi?

Secara lahiriyah, kita memang terpisah oleh zaman, tetapi secara ruhani, interaksi dan percakapan itu tetap nyata, melalui sunnahnya, melalui haditsnya, dan melalui bisikan hikmah yang beliau wariskan kepada kita umatnya. Ketika kita membaca rekaman tulis tentang tutur katanya atau perbuatannya atau ketetapannya, sejatinya kita sedang “berbicara” dengan Nabi. Ketika kita mencari atau membaca warisannya, sejatinya kita sedang "bertanya" kepada Nabi. Ketika kita mengamalkan ajarannya, sejatinya kita sedang “menjawab” beliau. Inilah interaksi dan percakapan yang menghidupkan jiwa dan menentramkan hati..

Bayangkan kita duduk tawadhuk di hadapan Rasulullah saw, hati kitapun bergetar, lisan terasa kelu, dan air mata jatuh tanpa kita sadari. Lalu kita berkata dengan lirih: “Ya Rasulullah, ajarkan kepadaku agar menjadi bagian dari umatmu yang baik! Dan beliau pun menjawab melalui sabdanya, “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya ia akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi)

Itulah interaksi lintas zaman, dialog yang tidak terputus oleh kematian, karena kebenaran tetap hidup. Dan dari sini kita belajar adab berbicara di hadapan Nabi. Dalam hal ini Allah mengajarkan adab yang sangat tinggi ketika berbicara dengan Rasulullah saw. “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi…” (QS. Al-Hujurat: 2). Ayat ini bukan hanya berlaku bagi para sahabat, tetapi juga bagi kita, bahwa dalam menyikapi ajaran Nabi, kita harus penuh hormat, rendah hati, dan tidak merasa lebih tahu.

Berbicara dengan Nabi berarti mendengar lebih banyak daripada berbicara, dan mengamalkan lebih banyak daripada berdebat. Rasulullah adalah teladan utama dalam hidup seorang muslim, termasuk berkomunikasi. Setiap kata yang keluar dari lisannya penuh hikmah, lembut, dan menenangkan. 

Di antara etika berbicara yang beliau ajarkan: Pertama, berkata baik atau diam. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lisan bukan untuk melukai, tetapi untuk menebar kebaikan.

Kedua, lemah lembut dalam ucapan. Allah berfirman: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut…” (QS. Thaha: 44) Jika kepada Fir’aun saja diperintahkan lembut, apalagi kepada sesama saudara kita lainnya.

Ketiga, tidak menyakiti dengan lisan. Rasulullah bersabda: “Seorang muslim adalah yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Ucapan yang menyakitkan bisa lebih tajam daripada pedang.

Keempat, jujur dalam berkata. Rasulullah saw bersabda: “Hendaklah kalian berkata jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan…” (HR. Muslim). Kejujuran adalah fondasi kepercayaan.

Kelima, tidak berlebihan berbicara dan tidak kasar. Rasulullah saw dikenal berbicara secukupnya, tidak bertele-tele, tidak pula menyakiti. Setiap kata beliau terukur, penuh makna, dan tepat sasaran.

Keenam, mendengarkan dengan penuh perhatian. Nabi mencontohkan agar tidak memotong pembicaraan, tidak meremehkan, dan tidak berpaling saat orang lain berbicara. Ini adalah bentuk penghormatan kepada lawan bicara.

Ketujuh, menyampaikan kebenaran dengan bijak. Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl: 125). Kebenaran yang disampaikan dengan cara yang salah bisa ditolak, tetapi kebenaran yang disampaikan dengan hikmah akan menyentuh hati.

Agar etika berbicara ini hidup dalam keseharian, kita dapat mempraktikkannya dengan: Menjaga ucapan di rumah agar penuh kasih sayang; berbicara santun kepada pasangan, anak, dan orang tua; Tidak menyebarkan berita tanpa memastikan kebenarannya; Menghindari ghibah dan fitnah; Menjadi pendengar yang baik dalam setiap percakapan; Menggunakan lisan untuk menenangkan, bukan memanaskan; Berbicara dengan Nabi bukanlah sesuatu yang mustahil. Setiap kali kita membuka haditsnya, kita sedang mendengar suaranya. Setiap kali kita mengamalkannya, kita sedang meresponsnya.

Nah, bahagia bukan hanya karena bisa membayangkan percakapan dengan Nabi, tetapi karena kita mampu menghidupkan adab berbicara yang beliau ajarkan. Karena sejatinya, lisan adalah cermin hati. Jika lisan kita lembut, jujur, dan menenangkan, maka di sanalah kita sedang menapaki jejak Rasulullah saw. Semoga suatu hari, percakapan yang hari ini hanya kita bayangkan, benar-benar terjadi: Kita berbicara dengan beliau, dan beliau tersenyum kepada kita. Allāhumma shalli ‘alā Muhammad… jadikan lisan kami penyejuk, bukan pelukai, sebagaimana lisan Nabi-Mu yang penuh rahmat.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama