Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3936
Sabtu, 9 Syawal 1447
Bahagia Bisa Bersilaturahim ke “Rumah Nabi”
Saudaraku, di setiap diri seorang mukmin tentu ada rindu yang tidak pernah padam, ya terutama rindu kepada Rasulullah saw. Rindu yang tidak pernah terobati oleh jarak, tidak pernah pudar oleh waktu, dan tidak pernah terhalang oleh sejarah. Seandainya waktu bisa dilipat, betapa banyak hati yang ingin berjalan menuju kediaman Nabi. Mengetuk pintu rumah beliau dengan penuh adab, lalu menyampaikan salam dengan suara bergetar: “Assalāmu‘alaika yā Rasūlallāh…”
Ya meski raga tak pernah sampai ke masa itu, kita juga belum sampai di kediaman beliau di Masjid Nabawi, namun ruh kita mampu bersilaturahim secara maknawi, melalui cinta, melalui sunnah, dan melalui kerinduan yang tulus dengan meneladani. Inilah silaturahim yang melintas batas melintas zaman.
Bayangkan kita sedang melangkah di Madinah, mendekat ke kediaman Nabi. Udara gurun terasa tenang. Hati menjadi lembut. Langkah kaki seakan tertuntun menuju sebuah rumah yang sederhana, rumah manusia paling mulia, di kediaman Nabi Muhammad saw. Tak ada perkakas yang mahal, tak ada kelimpahan makanan dan buah-buahan. Bahkan juga pakaian hanya sekedarnya cukup menggambarkan sebuah kesederhanaan yang sempurna.
Kita berdiri dengan penuh harap, penuh adab, dan penuh rasa malu. Pikiran kitapun berkecamuk, kira-kira apa yang akan kita katakan? Bahkan lebih jauh, apakah kita layak menyebut diri sebagai umatnya yang setia meneladaninya? Kita memang ingat Rasulullah saw bersabda: “Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa taat kepadaku, ia masuk surga. Dan barang siapa durhaka kepadaku, maka sungguh ia telah enggan.” (HR. Bukhari). Tetapi sekali lagi apa kita termasuk yang menyahuti keteladanannya atau yang enggan. Apalagi kini, silaturahim kepada Nabi bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan ketaatan.
Kita mengetuk pintu kediaman Nabi dengan iman, ilmu dan amal. Ketika kita “mengunjungi” kediaman Nabi secara ruhani, sesungguhnya yang kita bawa bukanlah oleh-oleh dunia, tetapi iman, ilmu dan amal kita. Shalat kita apakah sudah seperti yang beliau contohkan? Demikian juga puasa, dan cara berhariraya kita dan cara menjalani kehidupan. Lalu akhlak kita, apakah sudah mencerminkan kelembutan seperti beliau? Lisan kita, apakah sudah terjaga sebagaimana beliau menjaganya? Padahal Allah sudah berfirman: “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat ini mengajarkan bahwa jalan menuju kediaman Nabi adalah meneladaninya.
Setelah salam kita dijawab, apakah Nabi mengenali diri kita? Betatapun Nabi pun tetap mempersilahkan kita masuk dan duduk. Ya duduk bersimpuh di hadapan Nabi. Karena tak ada sofa dan tak ada permadani. Hati kitapun bergetar, trenyuh, air mata tak terbendung. Lalu Nabi memandang kita dengan cinta dan kasih sayang yang begitu dalam. Beliau adalah sosok yang bahkan memikirkan umatnya hingga akhir hayatnya. Dalam detik-detik terakhir, beliau masih berkata: “Ummati… ummati…” (Umatku… umatku…)
Lalu kita bertanya dalam hati: “Ya Rasulullah… apakah aku termasuk umatmu yang engkau banggakan, atau yang engkau khawatirkan?” Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. Tirmidzi)
Di sinilah silaturahim itu menemukan maknanya: kedekatan dengan Nabi ditentukan oleh akhlak. Silaturahim kepada Nabi bukan sekadar imajinasi, tetapi dapat diwujudkan dalam kehidupan nyata, seperti Pertama, memperbanyak shalawat. Karena shalawat adalah bentuk salam cinta yang sampai kepada beliau. Kedua, mempelajari shirah Nabi. Agar kita mengenal beliau lebih dalam, bukan hanya sekadar tahu. Ketiga, meneladani sunnahnya. Dalam ibadah, dalam akhlak, dan dalam kehidupan sehari-hari. Keempat, menjaga akhlak mulia. Lemah lembut, jujur, amanah, dan penuh kasih sayang. Kelima, mencintai sesama. Karena mencintai sesama muslim adalah bagian dari ajaran beliau. Keenam, merindukan perjumpaan dengannya. Dengan memperbaiki diri agar layak berada di dekatnya kelak.
Inilah silaturahim yang hakiki. Silaturahim ke kediaman Nabi bukan sekadar perjalanan fisik ke Madinah, tetapi perjalanan hati menuju keteladanan. Jadi bahagia bukan hanya karena bisa membayangkan bertemu beliau, bersilaturahim di kediaman beliau, tetapi karena kita mampu hidup dalam ajarannya. Karena sesungguhnya, setiap kali kita mengikuti sunnahnya, kita sedang mendekat. Setiap kali kita bershalawat, kita sedang menyapa. Setiap kali kita berakhlak mulia, kita sedang “duduk” di dekatnya. Dan kelak, jika Allah berkenan, silaturahim yang hari ini bersifat imajiner akan menjadi nyata di surga-Nya.
Di sana, kita tidak lagi sekadar membayangkan. Kita benar-benar akan bertemu, menatap, dan bersilaturahim dengan Rasulullah saw dalam kebahagiaan yang abadi. Allāhumma shalli ‘alā Muhammad… semoga kita termasuk umat yang dirindukan oleh Nabi, bukan hanya yang merindukannya.
Dari sini kita memperoleh di antara tuntunan akhlak bersilaturahim. Karena silaturahim bukan sekadar berkunjung, tetapi memiliki adab yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Inilah akhlak yang seharusnya kita bawa saat bersilaturahim.
Pertama, mengucapkan salam dengan tulus. Bila tiga kali tidak ada jawaban, sebaiknya kita pulang, mungkin tuan rumah tidak berada di rumah. Adapun tentang sslam Rasulullah saw bersabda: “Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman, dan tidak akan beriman hingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim). Salam adalah pembuka hati, bukan sekadar ucapan.
Kedua, membawa wajah ceria dan penuh kasih. Nabi selalu menyambut orang dengan wajah yang berseri. “Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apa pun, walaupun hanya bertemu saudaramu dengan wajah yang ceria.” (HR. Muslim). Silaturahim bukan hanya pertemuan fisik, tetapi pertemuan hati.
Ketiga, tidak memberatkan atau merepotkan tuan rumah. Rasulullah saw mengajarkan kesederhanaan dalam berkunjung, tidak berlama-lama hingga menyulitkan, tidak meminta yang memberatkan. Allah mengingatkan: “…Apabila kamu selesai makan, maka bertebaranlah kamu, dan janganlah berlama-lama…” (QS. Al-Ahzab: 53) Adab ini menjaga kenyamanan dan kehormatan.
Keempat, saling memaafkan dan melembutkan hati. Silaturahim sejati adalah merajut kembali hati yang mungkin sempat retak. Rasulullah saw bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari…” (HR. Bukhari dan Muslim). Silaturahim adalah jalan rekonsiliasi.
Kelima, mendoakan kebaikan. Setiap pertemuan hendaknya diakhiri dengan doa, bukan sekadar perpisahan. Doa adalah tanda cinta yang paling tulus.
Keenam, menjaga lisan dan sikap. Dalam silaturahim, Rasulullah saw sangat menjaga ucapan—tidak menyakiti, tidak membuka aib, dan tidak menyinggung perasaan.
Ketujuh, menguatkan ikatan, bukan sekadar formalitas. Silaturahim bukan rutinitas tahunan, tetapi upaya memperkuat ukhuwah. Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3936