Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3935
Jumat, 8 Syawal 1447
Bahagia Bisa Melewati Ranjau Takwa
Saudaraku, perjalanan takwa bukanlah jalan yang lurus tanpa hambatan. Ia adalah jalannya para nabi yang dipenuhi ujian, rintangan, dan “ranjau-ranjau” yang justru tersembunyi dalam diri manusia itu sendiri.
Ramadhan yang telah kita lalui telah melatih kita untuk berjalan di jalan itu, menahan diri, menundukkan hawa nafsu, dan membersihkan jiwa. Namun setelah Ramadhan, perjalanan itu justru menjadi lebih nyata: kita harus melewati ranjau-ranjau takwa setiap hari. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami…”
(QS. Al-‘Ankabut: 69) Ayat ini menegaskan bahwa perjuangan menuju Allah bukan tanpa rintangan. Ia membutuhkan kesungguhan untuk menaklukkan diri sendiri.
Para ulama tasawuf menjelaskan bahwa dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan nafsu yang bisa menjadi penghalang takwa. Ranjau-ranjau itu siap meledakkan dan melebur ketakwaan hingga berkeping-keping, bahkan hilang karenanya. Setidaknya ada empat “ranjau” utama:
Pertama, Nafsu Hayawaniyah (Naluri Kebinatangan). Dorongan untuk memenuhi kebutuhan jasmani secara berlebihan: makan, minum, tidur, dan syahwat. Jika tidak dikendalikan, ia menjadikan manusia hanya hidup untuk kenikmatan fisik, makan, tidur dan beranak pinak. Bila seperti ini, maka manusia tak ubahnya seperti binayang ternak, atau bahkan menjadi rendah lagi (baca 7;179)
Kedua, Nafsu Sabu’iyah (Naluri Kebuasaan). Naluri ini merupakan dorongan menjadi buas, suka menerkam sesamanya. Personifikasinya marah, menyerang, mendominasi, dan merasa ingin menang sendiri. Ia melahirkan kesombongan, kekerasan, dan permusuhan. Padahal Rasulullah saw bersabda “Orang kuat bukanlah yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketiga, Nafsu Syaithaniyah (Naluri Setan). Dorongan ini sejatinya miliknya setan. Tapi kalau merasuki seseorang maka ia akan suka menipu, memanipulasi, berdusta, mengadudomba dan melakukan kejahatan secara halus. Ia sering bersembunyi di balik kecerdasan, tetapi digunakan untuk keburukan. Allah berfirman: Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6)
Keempat, Nafsu Ilahiyah (Naluri Ketuhanan Semu). Sebenarnya ini hanya milik Allah, tapi kadang manusia menggunakannya, seperti selendang kebesaran. Maka ini adalah ranjau yang paling halus dan berbahaya: keinginan untuk merasa tinggi, ingin dipuji, ingin diagungkan, bahkan merasa paling benar. Ia melahirkan riya’, ujub, dan kesombongan spiritual. Padahal Allah berfirman: “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ramadhan lalu sejatinya adalah madrasah untuk menjinakkan keempat nafsu tersebut: Lapar mengendalikan nafsu hayawaniyah. Sabar mengendalikan nafsu sabu’iyah. Kejujuran mengalahkan nafsu syaithaniyah. Ikhlas mengendalikan nafsu Ilahiyah Rasulullah bersabda: “Puasa itu adalah perisai…”(HR. Bukhari dan Muslim). Perisai dari apa? Dari seluruh dorongan nafsu yang dapat merusak ketakwaan.
Agar kita mampu melewati ranjau-ranjau tersebut, diperlukan latihan nyata dalam kehidupan sehari-hari: Pertama, mengendalikan keinginan fisik. Makan secukupnya, menjaga pandangan, dan tidak berlebihan dalam kenikmatan dunia. Kedua, menahan amarah dan ego. Bersabar ketika disakiti, memilih diam daripada membalas. Ketiga, menjaga kejujuran dan integritas. Tidak berdusta, tidak menipu, dan tidak memanfaatkan orang lain. Keempat, melatih keikhlasan. Beramal tanpa ingin dipuji, bekerja tanpa mencari pengakuan. Kelima, memperbanyak muhasabah. Mengoreksi diri setiap hari agar tidak terjebak dalam kesombongan. Keenam, memperkuat hubungan dengan Allah. Dzikir, doa, dan ibadah menjadi benteng utama.
Tentu, melewati ranjau takwa bukanlah perkara mudah. Ia adalah perjuangan yang tidak terlihat oleh manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah. Maka bahagia bukan karena hidup tanpa godaan, tetapi karena kita mampu mengalahkan godaan itu. Bahagia bukan karena tidak memiliki nafsu, tetapi karena kita mampu mengendalikannya. Karena sesungguhnya, kemenangan terbesar bukanlah mengalahkan orang lain, tetapi mengalahkan diri sendiri.
Dan ketika kita mampu melewati setiap ranjau itu dengan sabar, dengan ikhlas, istikamah dengan kesadaran, maka kita sedang berjalan menuju derajat tertinggi: ketakwaan yang sejati. Semoga Allah menuntun langkah kita, menguatkan hati kita, dan menolong kita untuk terus mampu melewati setiap ranjau ketakwaan dalam hidup ini. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3935