Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3897
Selasa, 29 Sya'ban 1447
Bahagia Menyambut Ramadhan
Saudaraku, bulan Ramadhan yang tinggal dalam hitungan jam sejatinya tidak pernah datang tiba-tiba bagi jiwa yang sadar. Ia disambut dengan perjalanan ruhaniah panjang bernama Sya‘ban, bulan latihan, bulan penjernihan, bulan persiapan ruhani, bulan gladi resik. Bahkan bisa jauh sebelumnya sudah dinanti-nanti. Maka perjalanan Sya'ban sebagai bulan menyambut Ramadhan ini kita susun sebagai rangkaian muhasabah yang saling terhubung, seperti anak tangga menuju puncak ketakwaan.
Di awal Sya'ban, kita memulai dengan rasa syukur karena masih diberi umur, dianugrahi iman, islam dan kesehatan untuk memasuki bulan persiapan. Maka bahagia memasuki Sya‘ban (Muhasabah Ke-1) adalah kesadaran bahwa Allah masih memberi kesempatan memperbaiki diri sebelum Ramadhan tiba. Sya‘ban adalah bulan gladi resik. Ia belum puncak, tetapi latihan menuju puncak. Maka Bahagia memasuki bulan gladi resik (Muhasabah Ke-2) berarti sadar bahwa setiap amal kecil di bulan ini adalah latihan menuju kesempurnaan ibadah Ramadhan.
Semua persiapan harus dimulai dari dalam. Ya inilah bahagia meluruskan niat (Muhasabah Ke-3) menjadi fondasi. Tanpa niat yang lurus, amal hanya rutinitas. Dengan niat yang benar, rutinitas menjadi ibadah. Dari niat kita bergerak ke hati. Bahagia mensucikan hati (Muhasabah Ke-4) adalah membersihkan iri, dengki, sombong, dan dendam. Hati yang bersih adalah wadah yang layak untuk cahaya Ramadhan. Lalu kita memperbaiki cara pandang. Bahagia meluruskan pola pikir (Muhasabah Ke-5) berarti melihat ibadah bukan sebagai beban, tetapi kebutuhan; bukan kewajiban yang berat, tetapi panggilan cinta sehingga kelazatannya terasa.
Kemudian kita melihat praktik teladan utama, Rasulullah saw. Bahagia mengikuti sunah Nabi (Muhasabah Ke-6) adalah memastikan langkah kita tidak keluar dari jejak beliau. Di bulan Sya‘ban, Nabi memperbanyak puasa. Maka Bahagia berpuasa Sya‘ban (Muhasabah Ke-7) adalah latihan kesungguhan, menundukkan nafsu, dan menguatkan jiwa sebelum Ramadhan. Puasa tanpa shalat yang indah terasa kering. Maka Bahagia memperindah shalat (Muhasabah Ke-8) adalah memperbaiki kekhusyukan, bacaan, dan kehadiran hati.
Tak lengkap tanpa Al-Qur’an, maka bahagia menjadi Ahlul Qur’an (Muhasabah Ke-9) menjafi amat penting. Di sini kita berikhtiar menjadikan Al-Qur’an sahabat harian dibaca, dipahami, dan diamalkan. Semua latihan ini bermuara pada taubat, sehingga bahagia melebur dosa (Muhasabah Ke-10) adalah keberanian mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah dengan hati yang tunduk.
Dari hati yang bersih lahir kepedulian sosial, sehingga bahagia ringan berbagi (Muhasabah Ke-11) adalah membuktikan iman melalui kepedulian. Dan agar pahalanya tidak hilang, maka bahagia menjaga lisan (Muhasabah Ke-12) menjadi penjagaan utama karena kata dapat mengangkat atau menjatuhkan. Lisan yang dijaga dihiasi shalawat, sehingga bahagia ringan bershalawat (Muhasabah Ke-13) adalah bentuk cinta kepada Nabi saw dan sarana turunnya rahmat.
Semua itu menuntut kesadaran waktu, maka bahagia menghargai waktu (Muhasabah Ke-14) adalah memahami bahwa setiap detik mendekatkan kita pada Ramadhan atau menjauhkan. Dari sini tumbuh cinta tertinggi, yang mencintai Allah. Di sinilah bahagia mencintai Allah (Muhasabah Ke-15) adalah inti dari seluruh perjalanan.
Cinta melahirkan syukur. Kitapun bersyukur untuk bahagia. Bahagia ringan bersyukur (Muhasabah Ke-16) membuat hati selalu merasa cukup dan dekat. Syukur menjaga kita dalam dzikir, ya selalu mengingatNya. Bahagia mengingat-Nya (Muhasabah Ke-17) dan Bahagia menyebut-Nya (Muhasabah Ke-18) adalah napas ruhani yang menghidupkan hati. Inilah mengapa dzikir melahirkan ketaatan. Bahagia menaati-Nya (Muhasabah Ke-19) adalah bukti cinta, sementara Bahagia menjauhi larangan-Nya (Muhasabah Ke-20) adalah bukti kesungguhan.
Dari semua itu di antara cara merengkuh petunjuk atau hidayah. Bahagia memperoleh hidayah (Muhasabah Ke-21) adalah anugerah terbesar. Namun hidayah harus dirawat agar kebahagiaan lestari. Bahagia merawat hidayah (Muhasabah Ke-22) adalah menjaga konsistensi agar tidak kembali lalai. Hidayah menumbuhkan iman. Bahagia merawat iman (Muhasabah Ke-23) berarti terus menguatkannya dengan amal dan ilmu. Ilmu pun dijaga. Bahagia merawat ilmu (Muhasabah Ke-24) adalah memastikan pengetahuan tidak berhenti pada teori, tetapi diamalkan sehingga menjadi cahaya hidup. Ilmu melahirkan amal. Bahagia merawat amal (Muhasabah Ke-25) adalah menjaga istikamah, walau kecil tetapi berkelanjutan. Amal memerlukan fisik yang kuat, maka bahagia merawat kesehatan (Muhasabah Ke-26) adalah menjaga amanah tubuh agar kuat beribadah. Lingkungan pun harus bersih, maka bahagia merawat kebersihan (Muhasabah Ke-27) adalah menyiapkan rumah dan rumah ibadah agar layak menyambut bulan suci.
Semua itu perlu manajemen agenda, maka bahagia menyusun jadwal (Muhasabah Ke-28) adalah menyadari bahwa Ramadhan bukan dihadapi dengan spontanitas, tetapi dengan perencanaan. Akhirnya, seluruh rangkaian ini bermuara pada satu titik puncak yakni bahagia menyambut Ramadhan dengan suka cita (Muhasabah Ke-29).
Sekali lagi, dalam menyambut Ramadhan kita tidak sekadar menunggu, tetapi menyiapkan diri untuknya. Kita membersihkan hati, meluruskan niat, mengikuti sunnah, memperbaiki amal, menguatkan iman, dan menata kehidupan. Semoga saat Ramadhan tiba, ia mendapati kita dalam keadaan siap lahir dan batin. Siap berpuasa dengan cinta. Siap beribadah dengan khusyuk. Siap menjadi hamba yang lebih dekat kepada-Nya. Dan dengan segala kerendahan, saya dan keluarga memohon maaf pada orangtua, para guru, kolega, saudara, para pembaca facebook, whatAps, blog Sri Suyanta Harsa atas segala kesalahan, kekhilafan dan kekurangan yang ada. Aamiin.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3897