Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3893
Jumat, 25 Sya'ban 1447
Bahagia Merawat Amal
Saudaraku, setelah kita melakukan muhasabah tentang bahagia merawat iman dan ilmu, maka langkah berikutnya yang tak terpisahkan adalah bahagia merawat amal shalih. Sehingga ketiganya menjadi satu kesatuan sistemik, saling kait, saling menguatkan. Sebab ilmu yang dirawat akan mencari jalannya sendiri untuk menjelma nenjadi amal, dan amal shalih yang dirawat akan menjadi bukti bahwa ilmu dan iman benar-benar efektif berdampak dalam diri kita.
Meneladani Rasulullah saw di bulan Sya‘ban, kita mendapati teladan agung tentang konsistensi amal shalih. Amal shalih tidak sporadis, tidak membludak sesaat lalu padam. ‘Aisyah ra. menuturkan bahwa amalan Nabi yang paling dicintai adalah amalan yang kontinu istikamah meskipun sedikit. Dari sini kita belajar bahwa amal shalih bukan soal besar-kecilnya, melainkan soal dirawat atau tidaknya.
Merawat amal shalih, pertama, dimulai dari menjaga niatnya. Amal yang baik bisa kehilangan nilai jika niatnya bergeser atau tidak lagi lillah. Di bulan Sya‘ban, bulan persiapan batin menuju Ramadhan, kita belajar memeriksa ulang: apakah amal kita masih lillah, atau mulai tercampur ingin dilihat, dipuji, diakui dan dishoting agar bisa dibagikan. Niat yang lurus adalah pupuk utama agar amal tetap hidup dan tumbuh.
Kedua, menjaga kesinambungan amal, walau sederhana. Shalat sunah yang ringan tapi rutin, sedekah kecil tapi terus-menerus, zikir yang singkat tapi istikamah, itulah amal yang dirawat. Nabi tidak mengajarkan umatnya membebani diri dengan ledakan amal sesaat, lalu padam setelahnya. Tiba-tiba berkibar di Ramadhan, tapi tidak di Syawal. Maka Sya‘ban ini mengajarkan ritme: pelan, stabil, dan berkelanjutan terus menerus meningkat sefikit demi sedikit.
Ketiga, melindungi amal dari perusak-perusaknya, seperti riya, sum‘ah, ujub, sombong dan merasa paling baik adalah hama yang bisa menggerogoti amal shalih. Merawat amal berarti menjaga hati agar tetap rendah, menyadari bahwa semua taufik berasal dari Allah. Amal bukan alasan untuk merasa mulia, tetapi sarana untuk semakin tunduk.
Keempat, mengiringi amal dengan doa agar diterima. Amal yang dikerjakan belum tentu diterima, maka ia perlu dirawat dengan munajat. Para salaf bahkan lebih cemas terhadap diterimanya amal daripada banyaknya amal itu sendiri. Di bulan Sya‘ban, kita belajar memperbanyak doa agar amal kecil kita diangkat nilainya oleh rahmat Allah.
Kelima, menghidupkan amal dengan ilmu dan hikmah. Amal shalih yang dirawat adalah amal yang dilakukan dengan pemahaman amal yang ilmiah dan ilmu yang amaliyah. Bukan sekadar kebiasaan kosong. Ketika ilmu menyertai amal, maka amal itu akan tepat sasaran, tidak berlebihan, dan tidak menyimpang. Inilah kesinambungan indah antara muhasabah merawat ilmu dan merawat amal.
Keenam, menjadikan amal sebagai jalan memperbaiki akhlak, bukan sekadar rutinitas ibadah. Amal shalih yang dirawat akan melunakkan hati, menenangkan jiwa, dan memperindah perilaku. Jika amal justru membuat kita keras, mudah menghakimi, dan jauh dari kasih sayang, maka di situlah amal perlu dirawat ulang, bukan ditambah semata.
Saudaraku, bahagia merawat amal shalih adalah bahagia menjaga nyala kecil kebaikan agar tidak padam oleh lalai dan tidak terbakar oleh riya apalagi kesombongan. Di bulan Sya‘ban, kita diajak meneladani Nabi dengan merawat amal-amal yang telah ada, agar saat Ramadhan tiba, kita tidak memulai dari nol, tetapi dari fondasi yang sudah hidup dan kuat. Semoga Allah menjadikan amal shalih kita amal yang ikhlas, istiqamah, dan diterima; amal yang menumbuhkan iman, meneguhkan ilmu, dan mengantarkan kita pada Ramadhan dengan hati yang siap dan jiwa yang lapang. Aamiin.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3893