Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3896
Senin, 28 Sya'ban 1447
Bahagia Menyusun Agenda
Saudaraku, setelah kita bermuhasabah tentang kebahagian lantaran merawat hidayah, iman, ilmu, amal shalih, kesehatan, serta kebersihan dan keindahan, kini kita sampai pada satu tahap penting yaitu bahagia menyusun agenda pemberdayaan Ramadhan.
Seperti telah sering disampaikan bahwa bulan Sya‘ban adalah bulan persiapan. Rasulullah saw memperbanyak puasa dan amal di bulan ini sebagai bentuk kesiapan menyambut Ramadhan. Artinya, Ramadhan tidak disambut secara spontan, tetapi dengan perencanaan dan kesungguhan. Dan tentu dalam sebulan Ramadhan ke depan ini, kita menginginkan dapat lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Dari sini kita belajar bahwa mengelola agenda Ramadhan adalah bagian dari pemberdayaan Ramadhan. Dan Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah individual, melainkan momentum pemberdayaan pribadi, keluarga, lembaga, dan masyarakat.
Secara personal di lingkungan informal keluarga, Ramadhan harus dirancang, bukan dibiarkan berlalu sia-sia. Di antara langkah praktis di keluarga adalah menyusun target ibadah keluarga. Target konituitas shalat berjamaah dijaga, tilawah Qur'an diniatkan, terawih, pengajian, sedekah harian, baca buku, dan doa bersama diprogramkan. Kita pun membuat dan memenuhi jadwal harian Ramadhan dengan sungguh-sungguh. Kapan waktu sahur, tadarus bersama, kajian ringan setelah Maghrib atau Subuh.
Dan tentu sebagai orangtua, kita mesti melibatkan anak-anak secara aktif. Membuat Ramadhan chart atau tabel amal untuk anak. Juga memberi peran proporsional: muadzin kecil di rumah, pemimpin doa, pengingat waktu berbuka. Di samping itu juga harus membangun suasana edukatif, menceritakan kisah Nabi dan sahabat, lomba hafalan, atau diskusi ringan tentang makna puasa dan Islam. Kini, sebagai orang tua harus sudah mulai mempersiapkan ini bukan menunggu Ramadhan tiba. Sebab pendidikan terbaik adalah yang dirancang dengan kesadaran.
Secara formal, lembaga pendidikan dan kantor-kantor pemerintah, Ramadhan adalah momentum pembentukan karakter. Di sekolah dan madrasah program pesantren kilat diagendakan. Demikian juga gerakan literasi Qur’an, aksi sosial dan sedekah bersama, penguatan adab dan akhlak.
Di lembaga resmi pemerintah juga lazim diadakan pengajian rutin Ramadhan, gerakan kebersamaan dan solidaritas sosial, program pelayanan publik yang tetap optimal dengan semangat ibadah. Tentu ini perlu administrasi, jadwal, koordinasi panitia, yang disusun lebih awal agar Ramadhan berjalan efektif dan berdampak.
Secara nonformal, di masjid, mushalla, surau, dan pesantren, Ramadhan adalah jantung kehidupan umat. Agenda pemberdayaan Ramadhan bisa berupa tausiyah, kajian rutin dan tadarus berjamaah, i’tikaf dan qiyamul lail terprogram, santunan dhuafa dan buka puasa bersama, pembinaan remaja masjid, gerakan infaq dan zakat yang terkoordinasi.
Mengapa semua ini disebut “bahagia”? Ya, karena orang yang merencanakan kebaikan sejatinya sudah menanam kebahagiaan. Dan perencanaan adalah tanda kesungguhan, kesungguhan adalah tanda cinta. Maka bahagia memanage agenda Ramadhan berarti bahagia menyambut tamu agung dengan persiapan terbaik.
Jadi merawat Islam dan iman menjadi ruh, merawat ilmu menjadi panduan, merawat amal shalih menjadi praktik nyata kegiatan, merawat kesehatan menjadi penopang stamina selama Ramadhan, merawat kebersihan dan keindahan menjadi kesiapan lingkungan.Kini semuanya dihimpun dalam manajemen yang terarah, sehingga kita bisa menjalani ibadah Ramadhan tahun ini dengan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Dengan demikian Sya‘ban ini merupakan bulan menyusun niat dan strategi. Ramadhan adalah bulan eksekusi dan puncak ibadah. Jangan sampai Ramadhan datang sementara kita belum siap. Semoga Allah memberi kita kemampuan merancang, menggerakkan, dan memberdayakan Ramadhan—di rumah, di sekolah, di kantor, dan di masyarakat. Agar Ramadhan bukan hanya berlalu, tetapi membekas dan memberdayakan umat. Aamiin.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3896