Bahagia Merawat Kesehatan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3894
Sabtu, 26 Sya'ban 1447

Bahagia Merawat Kesehatan
Saudaraku, setelah kita berikhtiar bahagia merawat iman, ilmu, dan amal shalih, maka kini kita menyadari satu hal penting bahwa semua itu membutuhkan fisik yang kuat dan jiwa yang sehat. Karena itu, bagian dari kesadaran ruhani adalah bahagia merawat kesehatan.

Dalam Islam, kesehatan adalah nikmat besar tetapi seringkali baru terasa disadari ketika nikmat kesehatan itu berkurang atau tidak dalam jangkauan lagi. Rasulullah bersabda bahwa ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang. Maka merawat kesehatan bukan sekadar urusan dunia, tetapi bagian dari syukur dan amanah.

Meneladani Nabi di bulan Sya‘ban, kita melihat bagaimana beliau mempersiapkan diri menyambut Ramadhan dengan memperbanyak puasa sunah Sya'ban. Puasa bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga latihan fisik: melatih kedisiplinan, mengatur pola makan, dan menguatkan daya tahan. Sya‘ban menjadi bulan transisi, bukan hanya mempersiapkan hati, tetapi juga tubuh.

Ya secara praktis merawat kesehatan, dalam bingkai muhasabah hari ini, dapat ditempuh dengan antara lain: Pertama, menjaga pola makan yang seimbang dan tidak berlebihan. Rasulullah mencontohkan kesederhanaan dalam makan. Tidak berlebih, tidak bermewah-mewah. Sya‘ban bisa menjadi momentum memperbaiki pola makan sebelum Ramadhan: mengurangi konsumsi berlebihan, menata jadwal makan, dan membiasakan tubuh dengan irama yang lebih tertib. Mak meugang, mengonsumsi daging bukan untuk berlebih-berlebihan, tetapi untuk nutrisi menjaga keseimbangan.

Kedua, membiasakan puasa sunah secara bertahap. Puasa di bulan Sya‘ban melatih fisik agar tidak “kaget” saat berpuasa di bulan Ramadhan. Ia juga membersihkan tubuh dan menumbuhkan kepekaan ruhani. Latihan ini menyatukan kesehatan jasmani dan kesiapan spiritual.

Ketiga, menjaga kualitas istirahat. Tubuh yang lelah sulit khusyuk dalam ibadah. Tidur yang cukup adalah bagian dari ibadah jika diniatkan untuk menguatkan diri dalam taat. Nabi menjaga keseimbangan antara ibadah dan istirahat. Merawat kesehatan berarti menghindari pola hidup yang merusak daya tahan tubuh.

Keempat, berolahraga  bergerak dan menjaga kebugaran. Islam mendorong kekuatan fisik. Tubuh yang aktif membantu menjaga energi untuk shalat, puasa, umrah, haji dan aktivitas kebaikan. Gerak yang cukup, berjalan kaki, atau olahraga ringan adalah bagian dari ikhtiar menjaga amanah fisik lahiriyah.

Kelima, menjaga kesehatan hati dan pikiran.
Kesehatan bukan hanya fisik. Hati yang dipenuhi kesombongan, iri, marah, dan dendam melemahkan jiwa. Sya‘ban adalah waktu memperbaiki hubungan, maaf memaafkan, dan membersihkan batin. Ketika hati ringan, tubuh pun terasa lebih ringan dalam beribadah.

Keenam, meniatkan kesehatan sebagai sarana ibadah. Inilah yang membedakan seorang mukmin. Ia menjaga kesehatan bukan semata agar kuat bekerja, tetapi agar kuat dan maksimal beribadah; kuat sujud, kuat berpuasa, kuat berkhidmat. Niat mengubah rutinitas menjadi ibadah.

Saudaraku, bahagia merawat kesehatan adalah bahagia menyadari bahwa tubuh ini adalah kendaraan menuju akhirat. Ia harus dijaga, bukan dimanja berlebihan, dan bukan pula diabaikan. Di bulan Sya‘ban, kita meneladani Nabi dengan mempersiapkan diri secara utuh, iman diperkuat, ilmu diperdalam, amal dirawat, dan kesehatan dijaga. Semoga Allah memberi kita kesehatan yang diberkahi, tubuh yang kuat untuk taat, dan umur yang dipenuhi amal shalih. Agar saat Ramadhan tiba, kita menyambutnya dengan hati yang siap dan jasad yang kokoh. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama