Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3898
Rabu, 1 Ramadhan 1447
Bahagia, Ramadhan Wahana Pendidikan Hati
Saudaraku, alhamdulillah kita sudah memasuki bulan Ramadhan 1447H tentu dengan ghirah dan gairah ibadah shiyamu ramadhan wa qiyamu ramadhan lebih baih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ya, kita menyadari bahwa ibadah Ramadhan ini bukan sekadar kewajiban tahunan. Ia sebagai madrasah ilahiah, yang disediakan oleh Allah bagi hamba-hamba-Nya sebagai wahana pendidikan jiwa. Jika fisik kita dilatih menahan diri dari makan dan minum, maka sesungguhnya hati kita sedang dididik agar kembali kepada-Nya, kembali ke jalanNya, dan kembali "menyatu" dengan - keridhaan - Nya.
Bahagia menjadikan Ramadhan sebagai wahana pendidikan hati adalah kesadaran bahwa inti dari seluruh ibadah di bulan ini bukanlah lapar dan dahaga, melainkan kedekatan dengan Allah. Allah swt berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 183) Ayat ini menegaskan bahwa tujuan puasa adalah takwa. Dan takwa adalah pekerjaan hati yang menyembul dalam praktik hidup sehari-hari. Ia bukan sekadar gerak tubuh, tetapi getar batin yang membuat seseorang merasa diawasi, dicintai, dibimbing dan ditunjuki oleh Allah.
Inilah mengapa Ramadhan menjadi wahana untuk menjernihkan cermin hati. Karena hati sebagai pusat kehidupan ruhani. Jika hati bersih, maka seluruh hidup menjadi terang benderang. Jika hati keruh, maka amal sehebat apa pun terasa hampa, dan gelar setinggi apapun hanya membuatnya pongah. Rasulullah saw bersabda: “Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kini, atas kemurahan Allah, Ramadhan datang menyapa lagi untuk membersihkan hati hamba-hambaNya. Lapar meluluhkan hati yang keras oleh kesombongan. Dahaga meruntuhkan keangkuhan. Malam-malam terawih, qiyamul lail melunakkan kekerasan jiwa. Puasa adalah interaksi mesra namun rahasia antara hamba dan Allah Rabbuna. Dalam hadits qudsi Allah berfirman: “Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Mengapa puasa begitu istimewa? Karena ia ibadah yang paling tersembunyi. Orang bisa saja terlihat shalat atau bersedekah, apalgi haji atau umrah, tetapi puasa adalah rahasia antara hati diri kita sendiri dan Allah. Di situlah pendidikan hati berlangsung paling intensif dan sunyi dari sorotan kamera. Dengan drmikian esensi puasa adalah Ikhtiar hamba dalam nendekatkan diri kepada Allah ta'ala. Hakikat puasa bukan menahan lapar dan dahaga, melainkan menahan diri dari segala yang menjauhkan kita dari-Nya. Ia adalah latihan menundukkan ego agar hati lebih peka terhadap kehadiran Allah.
Saat kita menahan diri padahal makanan minuman halal ada di hadapan kita, sesungguhnya kita sedang berkata dalam diam: “Ya Allah, Engkau lebih kucintai daripada keinginanku.” Bukankah ini inti kedekatan?
Dampaknya, Ramadhan mendidik hati agar lebih mudah menangis dalam doa, lebih ringan memaafkan, lebih cepat bersyukur, dan lebih takut berbuat dosa. Puasa melatih hati agar tidak dikuasai dunia, tetapi tunduk kepada Penciptanya. Allah swt berfirman: “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad) untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69). Puasa adalah salah satu bentuk kesungguhan itu, mujahadah melawan hawa nafsu. Dan janji Allah adalah kedekatan serta petunjuk.
Sebagai refleksi hati di awal Ramadhan ini, kita bertanya pada diri sendiri: Apakah puasa kita hanya menahan lapar, atau sedang mendidik hati Apakah Ramadhan ini membuat kita lebih lembut, atau tetap keras atau bahkan semakin keras Apakah kita benar-benar ingin lebih dekat kepada Allah?
Tentu jawabannya tak mesti dengan kata-kata, cukup dengan sikap yang semakin bermakna saja. Bahagia menjadikan Ramadhan sebagai pendidikan hati berarti menjadikan setiap detiknya sebagai latihan keikhlasan. Setiap sahur sebagai penguat niat. Setiap berbuka sebagai syukur. Setiap tarawih sebagai pertemuan rindu dengan Rabb.
Ramadhan bukan hanya bulan ibadah madhah semata. Ia adalah bulan pensucian hati. Ia bukan hanya tentang perubahan jadwal makan, tetapi perubahan orientasi hidup menuju ridha Allah. Semoga Ramadhan ini benar-benar membersihkan hati kita. Menjadikan kita lebih dekat kepada Allah daripada sebelumnya. Aamiin.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3898