Bahagia Merawat Ilmu

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3892
Kamis, 24 Sya'ban 1447

Bahagia Merawat Ilmu
Saudaraku, setelah kita melakukan muhasabah tentang bahagia merawat iman, kini kelanjutannya secara alamiah adalah pada kebahagiaan merawat ilmu. Sebab iman tanpa ilmu mudah tersesat, dan ilmu tanpa iman mudah kehilangan arah. Keduanya satu kesatua yang saling menguatkan, saling menjaga, dan saling menumbuhkan.

Meneladani Rasulullah saw di bulan Sya‘ban, kita menemukan satu pesan penting bahwa ilmu tidak pernah berhenti dirawat. Nabi  adalah seseorang yang paling berilmu, namun beliau terus berdoa agar ditambah ilmu, sebagaimana firman Allah: “Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha: 114)

Doa ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar sesuatu yang dimiliki, tetapi sesuatu yang harus terus dirawat dan ditambahi. Maka bahagia merawat ilmu adalah bahagia menjaga cahaya akal agar tetap menyinari iman dan penyemangat amal.

Di samping berdoa, secara praktis, merawat ilmu dimulai dengan pertama meluruskan niat. Ilmu dicari dan dijaga bukan untuk berbangga, apalagi merasa lebih tinggi dari orang lain, tetapi untuk mendekat kepada Allah dan memperbaiki diri. Maka tanda semakin banyak ilmunya, semakin dalam dan kuat imannya, dan semakin dekat dengan Allah Rabbuna. Semakin banyak amalnya sekaligus semakin takut melakukan dosa.  Di bulan Sya‘ban, meluruskan niat terhadap ilmu ini penting agar ilmu menjadi bekal Ramadhan, bisa mendekat pada Allah,  bukan melahirkan beban kesombongan.

Kedua, merawat ilmu seraya menjaga intensitas relasi dengan sumber ilmu. Allah disembah ditaati dan dicintai, Al-Qur’an dibaca, ditadabburi dan diamalkan dalam praktik kehidupan sehari-hari, hadis Nabi  dipelajari, majelis ilmu dihadiri, dan bacaan yang mencerahkan dipilih, diulang baca. Mengapa semua ini penting? Ya, karena ilmu yang jarang disentuh akan memudar; ilmu yang sering disapa akan hidup. Sya‘ban menjadi waktu yang tepat untuk kembali merapikan ritme belajar yang mungkin sempat longgar.

Ketiga, mengamalkan ilmu, meski sedikit. Ilmu yang diamalkan akan bertambah kuat dan bercahaya, sedangkan ilmu yang diabaikan mudah hilang. Rasulullah saw mengajarkan bahwa ilmu sejati adalah yang membuahkan amal dan akhlak. Dengan mengamalkan ilmu, kita sejatinya sedang merawatnya agar tidak mati di kepala. Misalnya hari ini kita memperoleh ilnu bahwa shalat rawatib muakaddah ada 12 rekaat (2 rekaat setelah shalat Isya, 2 rekaat sebelum shalat Subuh, 4 rekaat sebelum shalat Dhuhur dan 2 rekaat setelah shalat Dhuhur, 2 rekaat setelah shalat Magrib), maka mulai sekarang kita amalkan secara istikamah. Bila diamalkan, maka Allah akan memberkahi dan menambahi ilmu-ilmu lainnya.  Kalau tidak diamalkan, bagaimana bisa berkah memberkahi?

Keempat, cara merawat ilmu dengan mengulang dan mengajarkannya, walau sedikit dan sederhana. Mengulang membuat ilmu menetap, mengajarkan membuatnya berkembang. inilah berkahnya; ketika diajarkan bukannya hilang tetapi justru berrambah. Dalam hal ini, tentu, tidak harus menjadi ustaz atau guru besar dulu; cukup berbagi kebaikan yang kita pahami kepada keluarga, anak, atau sahabat. Seksli lagi Ilmu yang dibagikan justru tidak berkurang, tetapi bertambah keberkahannya.

Kelima, merawat ilmu seraya menjaga adab terhadap ilmu dan ulama. Rendah hati, tidak merasa cukup akan ilmu yang ditandai kesiapan belajar dari siapa pun. Adab seperti ini adalah pagar ilmu. Ketika adab runtuh, ilmu kehilangan wibawanya. Bulan Sya‘ban mengajarkan kita untuk kembali menundukkan diri sebelum memasuki Ramadhan yang agung. Ilmu tentang puasa, tentang zakat, tentang iman dan Islam kita ulang, kita pelajari lagi dan lagi.

Keeenam, merawat ilmu dengan menjauhkan ilmu dari perdebatan sia-sia dan keangkuhan karena gelar. Ilmu bukan alat untuk mengalahkan orang lain, tetapi sarana untuk memperbaiki diri, mendekat pada Ilahi. Meneladani Nabi, kita belajar bahwa ilmu yang membawa rahmat adalah ilmu yang menumbuhkan hikmah dan kasih sayang dan memvasilitasi pemiliknya semakin ddkat pada sumbet dan pemilik ilmu. Allah ta'ala.

Saudaraku, bahagia merawat ilmu adalah bahagia menjaga amanah akal yang Allah titipkan pada kita hamba-hambaNya. Ilmu yang dirawat akan menuntun iman agar kuat dan lurus, menuntun amal agar benar dan banyak, dan menuntun hati agar bijak untuk mendekat pada Allah. Di bulan Sya‘ban ini, merawat ilmu berarti mempersiapkan diri agar Ramadhan kelak tidak hanya kita jalani dengan semangat, tetapi juga dengan pemahaman yang benar, mendalam dan luas. Semoga Allah menjadikan ilmu kita ilmu yang bermanfaat, iman kita iman yang hidup, dan amal kita amal yang diterima hingga langkah kita menuju Ramadhan benar-benar berada dalam cahaya-Nya. Aamiin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama