Bahagia Menjauhi LaranganNya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3888
Ahad, 20 Sya'ban 1447

Bahagia Menjauhi Larangan-Nya
Ssudaraku, setelah kita belajar bahagia mengingat-Nya, bahagia menyebut-Nya, dan bahagia menaati titah-Nya, maka muhasabah hari ini melangkah ke sisi lain dari ketaatan yang tak kalah pentingnya, yakni bahagia ketika bisa menjauhi larangan-Nya. Sebab ketaatan tidak hanya diukur dari apa yang kita lakukan, tetapi juga dari apa yang dengan sadar kita tinggalkan.

Allah Maha Baik, dan seluruh perintah-Nya adalah jalan menuju kebaikan, seluruh larangan-Nya adalah pagar kasih sayang agar hamba-Nya tidak terjatuh pada keburukan. Tidak satu pun larangan Allah dimaksudkan untuk menyulitkan; semuanya ditetapkan demi kemaslahatan manusia, bagi hati, akal, jiwa, dan kehidupan secara utuh.

Di sinilah kita belajar satu hikmah penting bahwa melaksanakan kebaikan sering diberi ruang bertahap, tetapi menjauhi larangan harus dengan totalitas. Misalnya, mengerjakan tuntutan shalat, puasa, sedekah, dan amal-amal lainnya bisa dilatih perlahan sesuai kemampuan, sehingga tidak berat, tidak memberatkan. Namun terkait dengan larangan seperti dusta, zalim, khianat, zina, riba, ghibah, dan maksiat lainnya, tidak ditawar-tawar. Ia harus ditinggalkan seketika, tak ada tawar menawar, tanpa negosiasi.

Meneladani Nabi di bulan Sya‘ban, kita melihat ketegasan yang lembut namun jelas. Rasulullah saw bukan hanya rajin beramal, tetapi sangat menjaga diri dari yang dilarang Allah. Inilah buah cinta yang matang, bukan hanya ringan melakukan kebaikan, tetapi juga ringan meninggalkan keburukan.

Sering kali kita menganggap menjauhi larangan itu berat.Padahal, jika direnungkan lebih dalam, menjauhi larangan sejatinya adalah tidak melakukan apa-apa. Lho tidak melakukan apa-apa kok berat? Kita dilarang berdusta, dilarang mengumpat, dilarang nggibah, dilarang memandang yang haram, dilarang mengambil yang bukan haknya. Maka kita tidak berdusta, tidak mengunpat, tidak nggibah, tidak nemandang yang haram dan tidak mengambil yang yang bukan hak kita.  Bukankah secara logika, “tidak melakukan” mestinya lebih mudah daripada “melakukan”?

He he, rupanya yang membuatnya terasa berat bukanlah larangan itu sendiri, melainkan nafsu, kebiasaan, dan pembenaran diri. Maka Sya‘ban hadir sebagai bulan penataan ulang, melatih kita mengendalikan nafsu, membersihkan kebiasaan buruk, dan meluruskan cara pandang sebelum Ramadhan tiba. Allah berfirman: “Apa yang dilarang Rasul kepadamu maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr 7) Dan Rasulullah saw bersabda: “Jika aku melarang kalian dari sesuatu, maka jauhilah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Perintah untuk meninggalkan larangan tidak disertai syarat “semampunya”, karena meninggalkan adalah bentuk paling dasar dari ketaatan. Ia adalah bukti bahwa hati masih tunduk, dan iman masih hidup. Jadi, bahagia menjauhi larangan-Nya adalah bahagia terdalam yang menyelamatkan. Ia tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya sangat terasa yakni hati lebih tenang, hidup lebih bersih, dan ibadah lebih ringan. Inilah "ketaatan negatif" yang bermakna positif, tidak melakukan dosa agar cahaya amal tidak terpadamkan.

Di bulan Sya‘ban ini, kita ditintun meneladani Nabi dengan membersihkan jalan menuju Ramadhan, bukan hanya dengan memperbanyak amal, tetapi juga dengan menutup rapat pintu-pintu maksiat. Sebab Ramadhan yang agung hanya akan bermakna jika ia dimasuki oleh hati yang telah belajar taat dan menjauh. Bahagia menaati titah-Nya menumbuhkan kebaikan. Dan bahagia menjauhi larangan-Nya menjaga kebaikan itu tetap utuh. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama