Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3889
Senin, 21 Sya'ban 1447
Bahagia Memperoleh Hidayah
Saudaraku, setelah kita berikhtiar bahagia menaati titah-Nya dan bahagia menjauhi larangan-Nya, maka muhasabah ini sampai pada satu simpul yang paling menentukan yakni bahagia memperoleh hidayah. Sebab, sejujurnya, mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk bukanlah perkara sulit bagi seorang Muslim(ah). Kebaikan dan keburukan telah jelas dalam Al-Qur’an dan sunnah, telah diajarkan sejak kecil, sering kita dengar dalam nasihat, saat pengajian, saat sekolah, saat membaca. Namun, pengetahuan tidak selalu berujung pada amal shalih atau perilaku yang mengindahkan.
Saya yakin wajibnya shalat, puasa Ramadhan, mengeluarkan zakat, menunaikan ibadah haji itu sudah jamak diketahui oleh seorang Muslim(ah). Begitu juga sunahnya shalat rawatib, shalat dhuha, shalat malam, puasa sya'ban, puasa senin kamis, puasa ayyamul bidh, berbagi, membaca Qur'an, dzikir dan amalan sunah lainnya. Mengapa masih enggan mengerjakan yang diperintahkan?
Dan saya juga yakin haramnya sombong, iri, dengki, memakan harta anak yatim, adu domba, menfitnah, nggibah, fitnah, meminan minuman yang memabukkan, berzina, mencuri, korupsi itu sudah jamak diketahui oleh seorang Muslim(ah). Begitu juga yang makruh. Semua yang haram sudah gamblang, yang makruh sudah jelas. Mengapa masih ada yang menambrak-nabrak yang dilarang?
Di sinilah hidayah mengambil peran sentral. Hidayah adalah anugerah Allah yang membuat ilmu berubah menjadi kesadaran, kesadaran berubah menjadi kehendak, dan kehendak menjelma menjadi perlaku nyata, amal shalih. Tanpa hidayah, kebaikan hanya berhenti sebagai wacana, dan larangan hanya dipahami sebagai teori. Dengan hidayah, kebaikan terasa indah untuk dilakukan, dan keburukan terasa berat untuk didekati.
Meneladani Nabi di bulan Sya‘ban, kita belajar bahwa amal beliau yang begitu konsisten, puasa yang banyak, ibadah yang rapi, akhlak yang terjaga, bukan semata hasil pengetahuan, tetapi buah dari hidayah yang senantiasa dirawat dengan doa, mujahadah, dan ketundukan total kepada Allah. Rasulullah saw sendiri, yang maksum dan paling dekat dengan Allah, masih sering berdoa agar hatinya diteguhkan di atas kebenaran. Ini isyarat halus bahwa hidayah bukan sesuatu yang sekali datang lalu abadi tanpa usaha. Allah menegaskan: “Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada siapa yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Qashash: 56)
Ayat ini mengajarkan kerendahan hati: betapa pun benarnya nasihat, betapa pun kuatnya argumen, yang membuat hati tunduk hanyalah hidayah dari Allah. Maka, bahagia memperoleh hidayah adalah bahagia yang disertai rasa syukur sekaligus rasa takut, syukur karena diberi cahaya, dan takut karena cahaya itu bisa meredup bila tidak dijaga. Ya kita wajib berikhtiar senantiasa menjaga hidayah itu.
Dalam konteks muhasabah Sya‘ban, kita diajak menyadari bahwa menjelang Ramadhan, yang paling kita butuhkan bukan hanya semangat beramal, tetapi hidayah untuk istikamah dslam ketaatan. Hidayah agar kita tetap melakukan kebaikan meski tidak dilihat orang, dan tetap menjauhi keburukan meski ada peluang dan godaan. Rasulullah saw bersabda: “Mintalah kepada Allah hidayah dan keteguhan.” (HR. Tirmidzi)
Saudaraku, bahagia memperoleh hidayah adalah bahagia yang paling dalam, karena ia menyentuh akar kehidupan. Ia menjadikan ketaatan terasa ringan, larangan terasa masuk akal, dan ujian terasa bermakna. Di bulan Sya‘ban ini, marilah kita tidak hanya memperbanyak amal, tetapi juga memperbanyak doa: agar Allah berkenan memberi, menambah, dan menjaga hidayah-Nya dalam hati kita. Sebab, hanya dengan hidayah, apa yang kita tahu menjadi apa yang kita jalani. Dan hanya dengan hidayah, langkah kita menuju Ramadhan benar-benar menjadi langkah orang-orang yang dicintai Allah. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3889