Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3885
Ksmis, 17 Sya'ban 1447
Bahagia Mengingat-Nya
Saudaraku, setelah bersyukur terasa ringan di hati mengalir dengan cinta, maka muhasabah hari ini lebih dalam membuktikannya yakni bahagia mengingatNya, ya mengingat Allah ta'ala. Karena bersyukur sejatinya adalah buah, sementara mengingat-Nya adalah akarnya. Tanpa akar yang kuat, buah syukur pun mudah rapuh. Dengan mengingatNya, syukur akan terus bersemi.
Inilah di antara bukti cinta. Orang yang mencintai akan sering mengingat. Hati yang terpaut tidak perlu diingatkan untuk kembali; ia pulang dengan sendirinya. Ketika hati terpaut kepadaNya, maka langkah pun mudah kembali kepada-Nya di sela-sela aktivitas, itulah tanda cinta.
Meneladani Nabi di bulan Sya‘ban, kita mendapati bahwa beliau adalah seorang hamba mulia yang paling banyak mengingat Allah dalam setiap keadaan. Dalam berdiri dan duduk, dalam perjalanan dan menetap, dalam lapang dan sempit.
Apalagi Sya‘ban ini sebagai bulan Nabi, tentu merupakan bulan menghidupkan kesadaran batin untuk meneladaninya. Ketika amal-amal diangkat kepada Allah, Nabi memperbanyak puasa; dan di antara puasa itu, mengingat Allah menjadi keadaan yang tak terpisahkan. Karena puasa menahan diri, sedangkan mengingatNya menghidupkan ruh. Allah berfirman: “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Ayat ini bukan sekadar janji, melainkan kemuliaan. Betapa agungnya, ketika seorang hamba yang kecil dan lemah diingat oleh Rabb semesta alam. Maka bahagia mengingat-Nya bukan karena kita menyebut Allah, tetapi karena Allah berkenan mengingat kita.
MengingatNya juga menjadi penjaga hati. Di bulan Sya‘ban, saat hati disucikan, niat diluruskan, amal ditata, mengingatNya berfungsi sebagai penenang sekaligus pengarah. Ia menjaga hati agar tidak kembali kering, menjaga amal agar tidak berubah menjadi rutinitas kosong, dan menjaga cinta agar tidak meredup menjelang Ramadhan.
Maka sesungguhnya bahagia mengingat-Nya adalah bahagia menjadi hidup, hidup hatinya, hidup kesadarannya, hidup tujuannya. Di tengah kesibukan, mengingatNya mengembalikan orientasi. Di tengah persiapan Ramadhan, dzikir menjaga keikhlasan.
Saudaraku, jika syukur membuat kita merasa cukup, maka mengingatNya membuat kita merasa dekat. Jika syukur menenangkan,
maka mengingatNya meneguhkan. Jafi bahagia mengingat-Nya adalah tanda bahwa cinta tidak lagi sekadar niat, tetapi telah menjadi kebiasaan batin. Dan siapa yang hatinya telah terbiasa mengingat Allah di Sya‘ban, insyaAllah Ramadhan tidak akan datang sebagai tamu asing, melainkan sebagai kekasih yang lama dinanti. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3885