Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3884
Rabu, 16 Sya'ban 1447
Bahagia Memeluk Syukur
Saudaraku, setelah hati diajak mencapai puncak cinta kepada Allah seiring dengan Nisfu Sya‘ban yang sempurna bercahaya, maka muhasabah hari ini mengalir secara alami menuju satu sikap batin yang menjadi buah dari cinta sejati, yakni syukur. Cinta yang tulus kepada Allah tidak mungkin kering dari rasa terima kasih. Dan syukur yang hidup akan terasa ringan, bukan dipaksa, bukan dibuat-buat.
Meneladani Nabi di bulan Sya‘ban, kita menemukan bahwa syukur beliau bukan hanya diucapkan saat lapang, tetapi justru dipraktikkan secara konsisten dalam amal. Ketika Aisyah r.a. bertanya mengapa Rasulullah saw beribadah begitu sungguh-sungguh hingga kakinya bengkak, padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab: “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang banyak bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Syukur, bagi Nabi bukan sekadar reaksi atas nikmat, melainkan identitas seorang hamba. Ia bukan hanya kata alhamdulillah di lisan, tetapi ketekunan dalam shalat, kesungguhan dalam puasa, kelembutan dalam akhlak, dan kesabaran dalam menjalani hidup.
Bulan Sya‘ban mengajarkan kita syukur dalam bentuk kesadaran dan kesiapan. Syukur karena sadar masih diberi umur untuk bersiap menuju Ramadhan. Syukur karena Allah masih membuka pintu amal, sebelum pintu-pintu itu diperlombakan secara lebih luas di bulan suci. Maka orang yang ringan bersyukur akan ringan pula melangkah: tidak banyak mengeluh, tidak sibuk membandingkan, dan tidak mudah merasa kurang.
Syukur yang ringan lahir dari kesadaran, bahwa segala yang kita miliki baik iman, kesempatan beramal, bahkan kesadaran untuk bermuhasabah adalah anugerah Allah, bukan prestasi kita. Di bulan Sya‘ban, Nabi memperbanyak puasa sebagai bentuk syukur, seakan beliau mengajarkan bahwa menahan diri dari yang halal pun bisa menjadi ungkapan terima kasih kepada Allah. Allah berfirman: “Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Ayat ini bukan untuk melemahkan, tetapi mengundang kita agar termasuk yang sedikit itu. Termasuk hamba yang syukurnya tidak menunggu sempurna, tidak menunggu Ramadhan tiba, tetapi dimulai sekarang di bulan Sya‘ban ini, bahkan jauh sebelum ini, dengan hati yang lapang dan amal yang istikamah.
Saudaraku, bahagia itu terasa ketika syukur menjadi ringan. Ringan karena tidak dibebani tuntutan dunia. Ringan karena hati sudah belajar mencintai Allah lebih dari apa pun. Maka apa pun yang datang, baik sedikit ataupun banyak, diterima sebagai jalan mendekat, bukan alasan menjauh.
Bahagia ringan bersyukur, karena syukur menjaga nikmat tetap hidup, menjaga hati tetap jernih, dan menuntun kita memasuki Ramadhan bukan sebagai tamu yang lalai, tetapi sebagai hamba yang siap dan sadar. Inilah syukur ala Nabi di bulan Sya‘ban: syukur yang menyemangati, syukur yang beramal, dan syukur yang menyiapkan jiwa untuk perjumpaan yang lebih agung di bulan Ramadhan. Aamiin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3884